Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

9 September 2011

G 30 S

Oleh Harsutejo*

Pada dini hari menjelang subuh 1 Oktober 1965 sekelompok militer yang kemudian menamakan diri sebagai Gerakan 30 September melakukan penculikan 7 orang jenderal AD. Jenderal Nasution dapat meloloskan diri, sedang yang ditangkap ialah pengawalnya.

Lolosnya jenderal ini telah dibayar dengan nyawa putrinya yang kemudian tewas diterjang peluru. Keenam orang jenderal teras AD yang diculik dan kemudian dibunuh itu terdiri dari: Letjen Ahmad Yani (Men/Pangad), Mayjen Suprapto (Deputi II Men/Pangad), Mayjen Haryono MT (Deputi III Men/Pangad), Mayjen S Parman (Asisten I Men/Pangad), Brigjen DI Panjaitan (Asisten IV Men/Pangad), Brigjen Sutoyo (Oditur Jenderal AD).

Pada pagi-pagi 1 Oktober 1965, sebelum orang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Kolonel Yoga Sugomo sebagai Asisten I Kostrad/Intelijen serta merta menyatakan bahwa hal itu pasti perbuatan PKI, ketika pengumuman RRI Jakarta pada jam 07.00 menyampaikan tentang Gerakan 30 September di bawah Letkol Untung.

Maka Yoga pun memerintahkan, “Siapkan semua penjagaan, senjata, bongkar gudang. Ini PKI berontak”. Jangan-jangan Kolonel Yoga, Kostrad, dan - siapa lagi kalau bukan Jenderal Suharto – telah mengantongi skenario jalannya drama tragedi yang sedang dan hendak dipentaskan kelanjutannya.

Tentu saja pertanyaan ini amat mengggoda karena dokumen-dokumen rahasia CIA pun mengungkapkan berbagai skenario semacam itu dengan diikuti dijatuhkannya Presiden Sukarno sebagai babak penutup.

Menurut tuduhan dan pengakuan Letkol (Inf) Untung, Komandan Batalion I Resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden RI yang secara formal memimpin Gerakan 30 September, para jenderal tersebut menjadi anggota apa yang disebut Dewan Jenderal yang hendak melakukan kudeta terhadap kekuasaan Presiden Sukarno yang sah pada 5 Oktober 1965. Karena itu Letkol Untung sebagai insan revolusi sesuai dengan ajaran resmi yang didengungkan ketika itu, mengambil tindakan dengan menangkap mereka guna dihadapkan kepada Presiden. Dalam kenyataannya mereka dibunuh ketika diculik atau di Lubang Buaya, Jakarta.

Tentang pembunuhan yang tidak patut ini terjadi sejumlah kontroversi. Menurut pengakuan Letkol Untung hal itu menyimpang dari perintahnya. Dalam hubungan ini telah timbul berbagai macam penafsiran yang berhubungan dengan kegiatan intelijen berbagai pihak, pihak intelijen militer Indonesia, Syam Kamaruzaman sebagai Ketua Biro Chusus (BC) PKI, intelijen asing, utamanya CIA, dalam arena perang dingin yang memuncak antara Blok Amerika versus Blok Uni Soviet dengan Blok RRT yang anti AS maupun Uni Soviet.

Menurut pengakuan Syam, pembunuhan itu atas perintah Aidit, Ketua PKI. Pembunuhan demikian sangat tidak menguntungkan pihak PKI yang dituduh sebagai dalang G30S, akan dengan mudahnya menyulut emosi korps AD melawan PKI, sesuatu yang pasti tak dikehendaki Aidit dan sesuatu yang tidak masuk akal. Dengan dibunuhnya Aidit atas perintah Jenderal Suharto, maka pengakuan Syam yang berhubungan dengan Aidit sama sekali tak dapat diuji kebenarannya. Dengan begitu Syam memiliki keleluasaan untuk menumpahkan segala macam sampah yang dikehendakinya maupun yang dikehendaki penguasa ke keranjang sampah bernama DN Aidit.

Banyak pihak menafsirkan bahwa Syam ini merupakan agen intelijen kepala dua (double agent), atau bahkan tiga atau lebih. Hal ini di antaranya ditengarai dari pengakuannya yang terus-menerus merugikan PKI dan Aidit. Ini berarti dia yang posisinya sebagai Ketua BC CC PKI, pada saat itu menjadi agen yang sedang mengabdi pada musuh PKI. Dari riwayat Syam ada bayang-bayang buram misterius yang rupanya berujung pada pihak AD, khususnya Jenderal Suharto. Aidit yang dituduh sebagai dalang G30S yang seharusnya dikorek keterangannya di depan pengadilan segera dibungkam karena keterangan dirinya tidak akan menguntungkan skenario Mahmillub yang dibentuk atas perintah Jenderal Suharto sebagaimana yang telah dimainkan oleh Syam atas nama Ketua PKI Aidit.

Keterangan Syam mengenai perintah Aidit tentang pembunuhan para jenderal tidak dapat diuji kebenarannya dan tidak dapat dipercaya. Beberapa pihak di Mahmillub menyebutnya perintah itu dari Syam, tetapi siapa yang memerintahkan dirinya? Pertanyaan ini mau-tidak-mau perlu dilanjutkan dengan pertanyaan, siapa yang diuntungkan oleh pembunuhan para jenderal itu? Bung Karno tidak, Nasution tidak, Aidit pun tidak. Hanya ada satu orang yang diuntungkan: Jenderal Suharto! Jika Jenderal Yani tidak ada maka menurut tradisi AD Suharto-lah yang menggantikannya. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa ketika Presiden Sukarno menunjuk Jenderal Pranoto sebagai pengganti sementara pada 1 Oktober 1965, maka Jenderal Suharto menentang keras. Jelas dia berambisi menjadi satu-satunya pengganti yang akan memanjat lebih jauh ke atas, padahal ketika itu nasib Jenderal Yani cs belum diketahui jelas.

Perlu ditambahkan bahwa rencana pengambilan [penculikan] para jenderal telah diketahui beberapa hari sebelumnya serta beberapa jam sebelum kejadian berdasarkan laporan Kolonel Abdul Latief, bekas anak buah Suharto yang menjadi salah seorang penting dalam G30S. Jenderal Suharto sebagai Panglima Kostrad tidak mengambil langkah apa pun, justru hanya menunggu. Kenyataan ini membuat kecewa dan dipertanyakan salah seorang bekas tangan kanan Suharto yang telah berjasa mengepung Istana Merdeka pada 11 Maret 1966, Letjen (Purn) Kemal Idris. Masih dapat ditambahkan lagi bahwa keenam jenderal yang dibunuh tersebut memiliki riwayat permusuhan internal dengan Suharto karena Suharto melakukan korupsi sebagai Pangdam Diponegoro.

Ada fakta sangat keras, dua batalion AD dari Jateng dan Jatim yang didatangkan ke Jakarta dengan senjata lengkap dan peluru tajam yang kemudian mendukung pasukan G30S, semua itu atas perintah Panglima Kostrad Mayjen Suharto yang diinspeksinya pada 30 September 1965 jam 08.00. Tentunya dia pun mengetahui dengan tepat kekuatan dan kelemahan pasukan tersebut beserta jejaring intelijennya, di samping adanya tali-temali dengan intelijen Kostrad lewat tangan Kolonel Ali Murtopo. Tentu saja masalah ini tak pernah diselidiki, jika dilakukan hal itu dapat membuka kedok Suharto menjadi telanjang di depan korps TNI AD ketika itu. Mungkin saja jejaring Suharto yang telah melumpuhkan logistik kedua batalion tersebut, hingga Yon 530 dan dua kompi Yon 434 melapor dan minta makan ke markas Kostrad pada sore hari 1 Oktober 1965. Kedua pasukan ini bersama pasukan Letkol Untung dihadapkan pada pasukan RPKAD. Itulah sejumlah indikasi kuat keterlibatan Jenderal Suharto dalam G30S, ia bermain di dua kubu yang dia hadapkan dengan mengorbankan 6 jenderal.

Lalu siapa yang diuntungkan dengan dibunuhnya Aidit? PKI dan Bung Karno pasti tidak, lawan-lawan politik PKI jelas senang (meski ada juga yang kemudian menyesalkan, kenapa tidak dikorek keterangannya di depan pengadilan), di puncaknya ialah Jenderal Suharto yang memang memerintahkannya. Jika Aidit diberi kesempatan bicara di pengadilan, maka dia akan mempunyai kesempatan membeberkan peran dirinya dalam G30S yang sebenarnya, bukan sekedar menelan keterangan Syam di Mahmillub sesuai dengan kepentingan Suharto cs. Jika ini berlaku maka skenario yang telah tersusun akan kacau.

Sejak 4 Oktober 1965, ketika dilakukan penggalian jenazah para jenderal di Lubang Buaya, maka disiapkanlah skenario yang telah digodok dalam badan intelijen militer untuk melakukan propaganda hitam terhadap PKI dimulai dengan pidato fitnah Jenderal Suharto tentang penyiksaan kejam dan biadab, Lubang Buaya sebagai wilayah AURI. Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan dongeng horor fitnah keji tentang perempuan Gerwani yang menari telanjang sambil menyilet kemaluan para jenderal dan mencungkil matanya. Ini semua bertentangan dengan hasil visum dokter yang dilakukan atas perintah Jenderal Suharto sendiri yang diserahkan kepadanya pada 5 Oktober 1965.

Kampanye hitam terhadap PKI terus-menerus dilakukan secara berkesinambungan oleh dua koran AD Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha, RRI dan TVRI yang juga telah dikuasai AD, sedang koran-koran lain diberangus. Ketika sejumlah koran lain diperkenankan terbit, semuanya harus mengikuti irama dan pokok arahan AD. Seperti disebutkan dalam studi Dr Saskia Eleonora Wieringa, mungkin tak ada rekayasa lebih berhasil untuk menanamkan kebencian masyarakat daripada pencitraan Gerwani (gerakan perempuan kiri) yang dimanipulasi sebagai “pelacur bejat moral”. Kampanye ini benar-benar efektif dengan memasuki dimensi moral religiositas manusia Jawa, khususnya kaum adat dan agama.

Setelah lebih dari dua minggu propaganda hitam terhadap PKI dan organisasi kiri lain berjalan tanpa henti, ketika emosi rendah masyarakat bangkit dan mencapai puncaknya dengan semangat anti komunis anti PKI yang disebut sebagai golongan manusia anti-agama dan anti-Tuhan, kafir dst yang darahnya halal, maka situasi telah matang dan tiba waktunya untuk melakukan pembasmian dalam bentuk pembunuhan massal. Dan itulah yang terjadi di Jawa Tengah setelah kedatangan pasukan RPKAD di bawah Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sesudah minggu ketiga Oktober 1965, selanjutnya di Jawa Timur pada minggu berikutnya dan Bali pada Desember 1965/Januari 1966. Sudah sangat dikenal pengakuan Jenderal Sarwo Edhie yang membanggakan telah membasmi 3 juta jiwa manusia.

Dalam khasanah sejarah G30S ada gambaran yang disesatkan bahwa situasinya seolah waktu itu “dibunuh atau membunuh” seperti dalam perang saudara. Ini sama sekali tidak benar, tidak ada buktinya. Hal ini dengan sengaja diciptakan sesuai dengan kepentingan rezim militer Suharto guna melegitimasi kekejaman mereka. Situasi telah dimatangkan oleh propaganda hitam pihak militer di bawah Jenderal Suharto beserta segala peralatannya yang menyinggung nilai-nilai moral dan agama tentang perempuan sundal Gerwani sebagai yang digambarkan dalam dongeng horor Lubang Buaya. Emosi ketersinggungan kaum agama beserta nilai-nilai moralnya ditingkatkan sampai ke puncaknya untuk menyulut dan memuluskan pembantaian anggota PKI dan kaum kiri lainnya yang disebut sebagai kaum kafir yang dilakukan pihak militer dengan memperalat sebagian rakyat yang telah terbakar emosinya.

Setelah seluruh organisasi kiri, utamanya PKI dihancurlumatkan, sisa-sisa anggotanya dipenjara, maka datang waktunya untuk menghadapi dan menjatuhkan Presiden Sukarno yang kini dalam keadaan terpencil diisolasi. Dikepunglah Istana Merdeka oleh pasukan AD di bawah pimpinan Kemal Idris, pada saat Presiden Sukarno sedang memimpin rapat kabinet yang tidak dihadiri Jenderal Suharto pada 11 Maret 1966 yang ujungnya telah kita ketahui bersama berupa Supersemar. Kudeta merangkak ini dilanjutkan dengan pengukuhan Jenderal Suharto sebagai Pejabat Presiden (sesuatu yang menyimpang dari UUD 1945, tak satu pun pakar yang berani buka mulut ketika itu), selanjutnya sebagai Presiden RI. Maka berlanjutlah pemerintahan diktator militer selama lebih dari tiga dekade yang menjungkirbalikkan segalanya, sampai akhirnya Indonesia menjadi salah satu negara terkorup di dunia dengan utang sampai ke ubun-ubun.

G30S di bawah pimpinan Letkol Untung dirancang untuk gagal, artinya ada rancangan lain yang tidak pernah diumumkan alias rancangan gelap di balik layar dengan dalang-dalang yang penuh perhitungan untuk melaksanakan adegan yang satu dengan yang lain. Maka tidak aneh jika mantan pejabat CIA Ralph McGehee berdasar dokumen rahasia CIA menyatakan sukses operasi CIA di Indonesia sebagai contoh soal, “supaya metode yang dipakai CIA dalam kudeta di Indonesia yang dianggap sebagai penuh kepiawaian sehingga ia digunakan sebagai suatu tipe rancangan atau denah operasi-operasi terselubung di masa yang akan datang”. Itulah kudeta merangkak yang dilakukan oleh Jenderal Suharto sejak pembunuhan para jenderal, pengusiran BK dari Halim, pembunuhan massal, pengepunngan Istana Merdeka pada 11 Maret 1966, akhirnya dijatuhkannya Presiden Sukarno. Keberhasilan operasi AS di Indonesia disebut Presiden Nixon sebagai hadiah paling besar di wilayah Asia Tenggara.

Untuk melegitimasi segala tindakann dan memperkokoh kedudukannya, rezim militer Orba menamakan gerakan Letkol Untung tersebut dengan G30S/PKI, pendeknya nama keduanya saling dilekatkan. G30S ya PKI, bukan yang lain. Di sepanjang kekuasannya rezim ini terus-menerus tiada henti mengindoktrinasi dan menjejali otak kita semua, kaum muda dan anak-anak sekolah dengan kampanye ini. Ketika studi sejarah di Indonesia tak lagi bisa dikekang, maka banyak pakar menolak kesahihan penyebutan tersebut. Studi netral hanya menyebut Gerakan 30 September sebagaimana yang tercantum dalam pengumuman gerakan di RRI Jakarta pada pagi hari 1 Oktober 1965, atau disingkat untuk keperluan praktis sebagai G30S. Masih ada arus balik riak yang membakari buku dalam tahun ini karena berbeda dengan kepentingan rezim atau pejabat rezim sebagai bagian dari vandalisme masa lampau.


(Dari berbagai sumber).

*Penulis adalah mantan Tahanan Politik 65, dulu aktif di Himpunan Sarjana Indonesia, sekarang aktif sebagai penulis dan peneliti sejarah sosial.

Baca selengkapnya

31 Agustus 2011

Materialisme Dialektika dan Idealisme Metafisik

Oleh Tatiana Lukman*

Bicara tentang Materialisme Dialektik, tak terhindarkan kita harus bicara tentang dua kubu pandangan dunia besar yang bertentangan, yaitu Materialisme Dialektik dan Idealisme Metafisik.

Perdebatan antara Materialisme Dialektik dan Idealisme Metafisik sama sekali bukan sebuah perdebatan kusir. Masing-masing pandangan dunia itu membawa konsekuensi yang panjang dan dalam, dalam praktek politik, ekonomi dan sosial manusia.

Jadi, perdebatan itu tidak bisa disederhanakan dan direduksi seperti perdebatan tentang mana yang ada duluan, telor atau ayam, mana yang ada duluan, ide atau materi. Titik. Tidak begitu.

Mengapa ada dua pandangan dunia besar yang bertentangan? Sebab yang paling penting adalah adanya perjuangan antara kepentingan kelas dalam masyarakat.

Sejarah peradaban selama beribu-ribu tahun adalah sejarah perjuangan kelas. Dalam sebuah masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas, tak terhindarkan setiap orang adalah bagian dari satu kelas tertentu, dan segala macam pikiran mempunyai stempel dari kelas tertentu.


Setiap kelas memegang sebuah pandangan dunia sesuai dengan kepentingan ekonomi dan politiknya. Itulah sebabnya mengapa walaupun terjadi kemajuan produksi, teknologi dan pengetahuan manusia tentang alam dewasa ini yang begitu menakjubkan, toh kelas borjuasi dan kelas penghisap dan penindas lainnya masih tetap memegang idealisme dan metafisik.

Jadi secara kelas, kelas penghisap dan penindas tidak mungkin menganut Materialisme Dialektis. Kalau ada orang dari kelas penghisap yang meninggalkan penghisapan dan penindasannya dan menyeberang ke pihak kelas yang terhisap dan membela kepentingkan kelas yang terhisap dan tertindas. Nah, berarti dia telah mengkhianati kelasnya sendiri (sesuatu yang sangat positif dan baik sekali!!!) dan ia akan menggunakan Materialisme Dialektis sebagai kunci untuk mengubah diri sendiri secara ideologi, mengembangkan pandangan dunia materialis dialektis secara menyeluruh dan bersamaan dengan itu melawan pandangan idealis dan metafisiknya yang dulu. Dengan begitu ia memupuk kualitas baik dari pejuang proletariat yang militan dan sadar.

Kaum borjuasi dan kelas-kelas penghisap dan penindas lainnya bertolak dari pembelaan terhadap kepentingannya melawan kepentingan orang banyak. Untuk membela kepentingan kelasnya, mereka menghalangi kemajuan yang sedang berjalan dalam masyarakat. Kelas proletariat, di pihak lain, bertolak dari tujuan membebaskan seluruh umat manusia dari penghisapan dan penindasan kelas. Kaum proletariat berjuang untuk kemajuan masyarakat selanjutnya.

Ketika kaum borjuasi di Eropa bersifat revolusioner dan berjuang melawan kekuasaan kelas tuan tanah, untuk menumbangkan idealisme dan agama yang membela feodalisme. Mereka menganut sejenis materialisme yang berat sebelah, mekanik dan tidak menyeluruh. Kaum borjuasi menegakkan ilmu yang dibutuhkan oleh produksi modern. Di pihak lain, materialisme mekanik mengendorkan cengkraman agama dalam pikiran rakyat. Ia menguatkan ilmu pengetahuan alam dan berjuang melawan takhayul. Ia membuka jalan untuk runtuhnya feodalisme.

Idealisme Metafisik
Idealisme menganggap bahwa pikiran dan kesadaran manusia adalah yang pokok dan lebih menentukan dari pada alam. Idealisme percaya bahwa pikiran dan kesadaran manusia berdiri sendiri, secara terpisah dan berada di atas dunia material. Idealisme percaya bahwa semua hal ihwal ada atau eksis dalam dunia perasaan manusia atau persepsi. Tak ada hal yang ada di luar perasaan atau kesadaran, tak ada hal yang tidak datang dari atau tidak bergantung pada kesadaran.

Bagaimana dunia ada sebelum manusia atau sebelum kesadaran manusia? Untuk menjelaskan ini, Idealisme menganggap bahwa seluruh dunia terdiri dari bentuk-bentuk duniawi dari “roh/arwah maha kuasa” yang ada atau bergantung di udara dan menggerakkan semua hal-ihwal dan seluruh dunia: sebuah “kesadaran” yang lebih mencakup dari pada kesadaran manusia dan yang sudah ada sebelum adanya umat manusia. Contoh yang paling jelas dari Idealisme adalah penjelasan tentang dunia dan kejadian di dunia melalui takhayul, misteri dan roh/hantu dan kepercayaan agama.

Metafisik merupakan bagian dari pandangan dunia Idealis. Ia adalah pengertian idealis tentang perubahan dunia. Metafisik melihat dunia sebagai sebuah koleksi/kumpulan dari semua hal ihwal yang sudah dibuat, entitas yang tak berubah dan terpisah satu dengan yang lain. Kalau ada pengakuan terhadap perubahan, Metifisik menganggap bahwa ia berubah hanya dalam kuantitas, bentuk atau letak/posisi dari hal ihwal itu. Ia menganggap perubahan apapun disebabkan oleh satu sebab atau sebab-sebab yang terdapat di luar hal ihwal itu. Metafisik melihat hal ihwal terpisah dan tidak mempunyai hubungan satu dengan yang lain.

Metafisik memuja hal ihwal dan ide-ide yang sudah ada. Ia tidak mempunyai konsep sejarah dan perubahan. Ia hanya melihat masa sekarang. Ia menganggap semua hal ihwal dan ide yang ada bersifat abadi, tidak mempunyai asal mula dan akhir. Ketika berhadapan dengan perubahan yang sungguh-sungguh, kaum Metafisik menganggapnya sebagai keganjilan, kejadian yang kebetulan, atau akibat dari kekuatan luar.

Pepatah “Hidup manusia hanya seperti roda; kadang-kadang di bawah, kadang-kadang di atas”, adalah satu contoh dari pandangan Metafisik. Dinyatakan kemudian bahwa adanya seseorang di bawah atau di atas “roda kehidupan” tergantung kepada keberuntungan seseorang atau nasibnya.

Sebagai bagian dari pandangan dunia yang idealis, Idealisme dan Metafisik pada pokoknya adalah sama. Kedua-duanya memisahkan kesadaran dan pikiran dari dunia material, yang dalam kenyataannya, berubah tanpa hentinya dan bergerak menurut hukumnya sendiri. Dalam menganalisa hal-ihwal dan isu-isu, Idealisme dan Metafisik mengemukakan spekulasi yang tidak berdasarkan pada kejadian nyata, dan juga tidak diuji dalam praktek.

Materialisme Dialektik
Sebaliknya, Materialisme Dialektis berpendirian bahwa alam ada terlebih dulu dari pada kesadaran. Ia menganggap pikiran sebagai tak lain dari pada dunia material yang dicerminkan dalam pikiran atau intelek manusia dan diterjemahkan dalam bentuk ide-ide dan pikiran.

Dalam mempelajari hal ihwal, Materialisme Dialektis tidak ragu-ragu dalam mengartikan hal ihwal dan alam menurut keberadaan hal itu yang sesungguhnya. Ia tidak mencampur aduk dugaan-dugaan atau takhayul yang tidak mempunyai dasar apapun. Materialisme
Dialektis mencari kebenaran dari kejadian-kejadian yang nyata. Ia menguji ketepatan dari pikirannya dalam praktek.

Dialektika adalah pengertian dari Materialisme Dialektis terhadap perkembangan dunia. Ia melihat dunia sebagai sebuah koleksi hal-ihwal yang belum terbentuk secara keseluruhan, hal ihwal yang berubah dan maju tanpa henti. Hal ihwal yang kalau dilihat secara sekilas kelihatannya tidak bergerak atau tidak berubah--tepat seperti pengetahuan kita tentang mereka pada saat tertentu—padahal ia mengalami pemunculan dan pelenyapan yang terus menerus.

Dialektika melihat perubahan hal ihwal yang terus menerus sebagai akibat dari kontradiksi intern. Setiap hal ihwal dalam geraknya dipengaruhi dan mempengaruhi hal ihwal yang lain yang ada di sekelilingnya.

Materialisme Dialektis percaya bahwa dunia dan masyarakat berubah tidak saja dalam kuantitas dan posisi dan tidak saja dalam bentuk luarnya. Yang lebih penting lagi, hakekat atau ciri-ciri pokok dari dunia dan masyarakat berubah.

Materialisme Dialektis juga percaya bahwa perubahan di dunia dan masyarakat pertama-tama adalah akibat dari sebab-sebab intern. Pengaruh dan hubungannya dengan sebab-sebab luar hanyalah sekunder.

Materialisme Dialektik mempunyai dua ciri yang menonjol. Pertama, watak kelasnya: Materialisme Dialektis adalah pandangan dunia kaum proletariat. Kaum proletariat menemukannya dan secara terbuka mengabdi kepada perjuangan kaum proletariat, tidak kepada keelas lain.

Kedua, ciri praktisnya: Materialisme Dialektis menekankan bahwa teori bergantung kepada praktek, berasal dari praktek dan menguji ketepatannya melalui praktek. Materialisme Dialektis mempelajari dunia dengan satu tujuan yaitu mengubahnya dengan sadar.

Materialisme Dialektis benar-benar revolusioner. Ia mengajar kita untuk mengerti dunia menurut keberadaan material dunia yang sesungguhnya. Ia mengajar kita bagaimana menjadi analitis, berdisiplin dan kreatif untuk menemukan hukum-hukum yang memimpin perubahan di semua hal ihwal. Ia mengajar peranan aktif dari manusia dalam mengerti hakekat dari hal ihwal, sebab-sebab dan metode untuk mengubah hal ihwal.

Mengapa perlu bagi rakyat melancarkan revolusi melawan imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat? Mengapa perlu bagi kaum proletariat melancarkan revolusi untuk merebut kekuasaan politik dari kaum borjuasi?

Sebuah analisa materialis dialektis menunjukkan dasar bagi dilancarkannya revolusi, cara dan arah dari perubahan masyarakat. Ini bertentangan sama sekali dengan Idealisme dan Metafisik yang membutakan pikiran rakyat, menyesatkan mereka dari jalan pembebasan dan mengabdi untuk mengabadikan kelas-kelas penghisap dan penindas.

Idealisme menjelaskan kemiskinan dan kesusahan massa pekerja sebagai “nasib”, “untung”, “sudah ditakdirkan”, “sifat manusia” dan lain-lain. Penjelasan yang demikian mendorong sikap pasif dan menahan “nasib” yang sulit itu. Mereka juga mendorong ketergantungan total kepada Tuhan atau kebajikan dari kelas-kelas penghisap yang berkuasa.

Sebaliknya, Materialisme Dialektis menganalisa kondisi kongkrit dan sejarah massa dan masyarakat, menganalisa sumber dari kekayaan dan kekuasaan kelas-kelas yang berkuasa dan penderitaan dan penindasan dari kelas-kelas penghisap. Yang lebih penting lagi, ia tidak berhenti pada pengertian atas kondisi massa dan masyarakat hanya untuk meluaskan pengetahuannya.

Materialisme Dialektis mempelajarinya dengan tujuan pokok mengubah hubungan penghisapan dan penindasan yang ada dan membebaskan kelas pekerja. Lagi pula, ia mengajar bahwa massa harus bersandar kepada kesadaran revolusionernya, tekad dan persatuannya dan perjuangan bersama untuk merubah kondisinya dan masyarakat.

Materialisme Dialektis adalah sebuah senjata ampuh kelas buruh untuk mengerti alam dan masyarakat dan mengubahnya dengan aktif untuk manfaat umat manusia.

* Penulis adalah intelek Marxis asal Indonesia yang dibuang rejim Orde Baru (eksil) karena ayahnya Lukman, anggota CC PKI. Selama di pembuangan ia tinggal di Sovyet dan melangbuana ke Kuba, Tiongkok, Amerika Latin, dan Eropa.
Baca selengkapnya

1 September 2010

Eugène Pottier dan Esensi Lagu Internasionale

OLEH RAMIDJO TRIKOYO**

Dengan membaca tulisan Lenin "Eugène Pottier", kita mengetahui penyair sajak "Internasionale" adalah seorang anggota Komune Paris. Sajak itu dipilih oleh 3.352 suara dari sejumlah 3.600 suara pemilih. Lewat tulisan itu kita menjadi tahu penyair buruh Eugène Pottier menciptakan sajak "Internasionale" pada saat sebulan sesudah terjadinya peristiwa berdarah bulan Mei 1871, atau menurut Lenin, "boleh dikata, bahwa esok hari sesudah kekalahan bulan Mei yang berdarah . . ." Tetapi, Pottier, putra terbaik proletartiat Perancis yang pada tahun 1848 sudah ikut serta dalam pertempuran besar kaum buruh melawan borjuasi, dengan sajak "Internasionale"nya bukan meratapi kekalahan bulan Mei. Sebaliknya, ia melihat kebesaran Komune Paris – kekuasaan diktator proletariat yang pertama di dunia – yang mampu bertahan selama 72 hari. Dengan optimisme revolusioner, ia memandang ke depan.

Proletar Penyair Pottier dengan sajak "Internasionale"nya adalah juru bicara dari proletariat yang menyadari akan tugas sejarahnya pada waktu itu dan meneriakkan tugas sejarahnya itu untuk dilanjutkan sampai terwujudnya Internasionale di dunia. Sampai tercapainya cita-cita komunisme. Lagu "Internasionale" menyebarkan ide-ide Komune Paris ke seluruh dunia, yaitu keharusan proletariat menggunakan kekerasan revolusioner untuk menghancurkan mesin negara yang lama dan menggantikannya dengan mesin negara yang baru dan menjalankan diktator proletariat.

Lewat saduran dalam bahasa Indonesia yang selama ini dinyanyikan, dimana kita temukan kesadaran kelas buruh seperti yang diteriakkan oleh Pottier itu? Saduran itu serba samar, serba tidak jelas. Tentang ketidakjelasan itu memang ada hubungannya dengan pandangan hidup penyadurnya pada waktu itu. Penyadurnya adalah Soewardi Soeryaningrat alias Ki Hadjar Dewantara. Tapi yang patut menerima tudingan di sini ialah pimpinan PKI periode 1951-1965 yang tidak menghargai "Internasionale" yang telah menjadi harta perbendaharaan sangat berharga bagi kelas buruh sedunia dan lagu proletariat sedunia.

Pimpinan lama partai seharusnya mewarisi api Komune Paris yang diabadikan oleh Pottier dalam "Internasionale". Tetapi, kenyataannya mereka hanya mengambil abunya dengan mempopulerkan saja saduran "Internasionale" yang serba samar itu untuk dinyanyikan setiap orang komunis dan massa revolusioner Indonesia pada umumnya. Ketiadaan mereka melakukan penyaduran kembali dengan konsekuen adalah jelas dikarenakan garis politiknya yang oportunis revisionis, menggandol pada borjuasi.

Mari kita lihat saduran "Internasionale" oleh Ki Hadjar yang dikerjakan lewat bahasa Belanda. Betapa indah bentuknya bisa kita rasakan lewat bunyi kata-katanya yang diusahakan selalu berpantun. Kalau kalimat yang satu berakhir dengan suku kata "ar", bunyi "ar" itu kita temukan lagi pada akhir kalimat yang lain: "lapar", "besar", "sadar". Tetapi sehabis merasakan keindahan bentuk luarnya, sehabis mengagumi kata kata yang berpantun, apakah kita tahu hakekat kata-kata itu semua? Apakah kita tahu apa yang dimaksud dengan "Kehendak yang mulia dalam dunia senantiasa tambah besar"? Apakah kita tahu pula yang dimaksud oleh kalimat "Dunia sudah berganti rupa"? Kita hanya bisa merasa megah sambil meraba-raba.

Apabila kami menyebut saduran Ki Hadjar, yang kami maksudkan adalah juga saduran dalam bahasa Indonesia yang dianggap sah dan dipopulerkan oleh pimpinan PKI periode 1951-1965 karena yang tersebut belakangan jika dibandingkan dengan yang tersebut dimuka pada hakekatnya sama saja. Perubahannya hanya sedikit dan tidak fundamental, kalimat-kalimat yang serba tidak jelas seperti yang kami kemukakan di atas sebagai contoh itu masih tetap dipertahankan. Versi Indonesia lagu "Internasionale" sebagai yang kita kenal itu telah kehilangan api dan jiwa militan Komune Paris seperti yang terdapat dalam bahasa aslinya. Keadaan yang meyedihkan ini tidak boleh terus berlarut-larut.

Mengingat seriusnya masalah ini kami menganggap perlu dan penting untuk mengusahakan adanya saduran baru dari sajak lagu "Internasionale" dalam bahasa Indonesia yang sedapat mungkin mewakili suara Pottier, sesuai dengan jiwa sajak dalam bahasa aslinya.

Pada pertengahan tahun yang lalu seorang kawan di antara kita, kawan A. Yuwinu, mengedarkan konsep saduran baru lagu "Internasionale" hasil kerjanya, yang terdiri dari tiga bait dan telah dimasukkan ke dalam not musik. Bahan yang dipakai oleh kawan tersebut ialah teks terjemahan bahasa Tionghoa dan bahasa Rusia. Jadi, saduran yang sekarang ini bukanlah usaha yang pertama kali, melainkan kelanjutan
dari usaha kawan A. Yuwinu dan penyempurnaan atas hasil kerjanya, sesuai dengan permintaannya sendiri. Sebagai bahan dalam penyaduran sekarang ini telah digunakan terutama teks bahasa aslinya, yaitu bahasa Perancis, kemudian teks terjemahan bahasa Tionghoa dan bahasa Rusia dan selanjutnya juga teks terjemahan bahasa-bahasa Inggris, Jerman dan Belanda.

Dalam praktek penyaduran kembali teks lagu "Internasionale", kawan-kawan penyadur telah menjumpai banyak kesulitan. Yang sudah pasti, arti menyadur sekarang ini bukan lagi mengoper bentuk luarnya. Yang harus diterjemahkan di sini ialah pendirian dan pandangan Pottier sebagai proletar penyair. Tetapi, di segi lain sajak yang disadur itu pun suatu sajak yang terikat pada jumlah not, terikat pada jumlah suku kata, terikat pula pada bunyi irama lagu itu sendiri. Kejadiannya, ada yang terpaksa dipendekkan, diambil sarinya. Seperti misalnya dalam bait pertama kalimat terakhir. Dalam aslinya kalimat itu berbunyi panjang:

"Dunia akan berubah mulai dari dasarnya:
Sekarang kita bukan apa-apa,
kelak akan menjadi segala."

Bagaimana harus memendekkan mengambil sarinya dan sekaligus menyesuaikan dengan jalan pikiran serta rasa bahasa orang Indonesia? Terpaksa diubah dengan menggunakan kata-kata:

"Kita yang kini hina papa
akan menguasai dunia."

Ini satu macam pengalaman. Yang kedua, di sekitar ungkapan dan kiasan. Ungkapan dan kiasan, seperti juga halnya dengan peribahasa atau bahasa itu sendiri adalah termasuk harta perbendaharaan bangsa. Bagi kita yang sudah terlalu lama di luar negeri, terlalu lama jauh terpisah dari kehidupan bangsa sendiri, ungkapan dan kiasan itu banyak dilupakan. Inilah salah satu segi negatifnya akibat terpisah dari masyarakat bangsa sendiri.

Pengalaman yang kongkrit tentang hal ini ialah mengenai ungkapan dan kiasan yang dikemukakan Pottier dalam bait ketiga. Di sana Pottier mengungkap kaum penghisap dengan kiasan "burung-burung gagak dan ruak-ruak bangkai". Ini jelas suatu ungkapan Perancis, yang tidak boleh begitu saja dioper ke Indonesia. Orang Rusia mengopernya dengan kiasan "anjing-anjing dan algojo-algojo". Di Tiongkok berubah menjadi "ular berbisa dan binatang buas".

Bagi orang Inggris cukup dengan "burung-burung buas keparat". Bagaimana yang sebaiknya untuk Indonesia?

Adalah memerlukan waktu yang cukup lama, kalau akhirnya baru bisa ditemukan kiasan yang "srek", yaitu dengan menyebutkan: "Setan siluman". Mereka memerlukan waktu yang lama karena kehati-hatian dalam mempertimbangkannya. Terutama sekali terjadi di sekitar bait pertama. Apa sebab? Bait pertama adalah bait yang akan paling sering dinyanyikan, bait yang akan paling menonjol. Selain itu bait pertama ini di Indonesia sendiri cukup dikenal dan sering dinyanyikan orang.

Seperti ini permulaan dari bait pertama,
"Bangunlah kaum yang terhina!
Bangunlah kaum yang lapar!"

Kalimat itu idak diubah. Dasar pertimbangannya karena kedua baris itu sudah berakar dalam, sudah mempunyai hak sejarah di dalam tubuh kebudayaan Indonesia.

Pada baris-baris selanjutnya diadakan perombakan. Suatu perombakan yang memerlukan pemikiran yang mendalam, sebab di dalam bait pertama itu terletak pendirian dan pandangan Pottier yang paling fundamental.

Dalam usaha menyadur sajak "Internasionale" yang dalam bahasa Perancisnya terdiri dari enam bait, kami menganggap tepat pemilihan tiga bait seperti halnya teks lagu "Internasionale" dalam bahasa-bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Rusia dan Tionghoa. Dasar pertimbangannya ialah karena ketiga bait itu merupakan isi pokok dari sajak dalam bahasa aslinya yang seluruhnya terdiri dari enam bait itu. Bait pertama, yang dalam aslinya juga bait pertama, berisi seruan mobilisasi kepada proletariat dan rakyat pekerja pada umumnya supaya bangkit berjuang untuk “menghancurkan seluruh dunia lama". Bait kedua yang dalam aslinya menunjukkan tugas sejarah yang dipikul oleh proletariat, yaitu membebaskan seluruh umat manusia.

Untuk ini proletariat harus bersandar kepada kekuatannya sendiri dan perjuangannya sendiri, bukan kepada kemurahan hati maha juru selamat, tuhan atau raja. Bait ketiga, yang dalam aslinya adalah bait keenam, menanamkan keyakinan bahwa perjuangan proletariat untuk menggulingkan kekuasaan kelas-kelas penghisap dan menggantinya dengan kekuasaan rakyat pekerja – diktaktor proletariat – pasti akan mencapai kemenangan.

Sebagai bahan untuk bisa lebih mendalam memahami arti politik dan sejarah lagu "Internasionale", kami muat dalam siaran ini tulisan Lenin "Eugène Pottier". Kami sertakan juga teks lagu "Internasionale" dalam bahasa-bahasa Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, Rusia dan Tionghoa dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Terjemahan dari berbagai bahasa ini sengaja dikerjakan dengan tidak mementingkan nilai puitis atau bunyi pantun-pantunnya dan tidak menyesuaikannya dengan jumlah not lagunya. Sudah barang tentu masih terdapat kekurangan-kekurangan mau pun kesalahan-kesalahan. Selain itu, dimuat juga teks lagu "Internasionale" saduran Soewardi Soeryaningrat alias Ki Hadjar Dewantara dan saduran yang dipopulerkan oleh pimpinan PKI periode 1951-1965.

Dengan menyertakan teks lagu "Internasionale" dalam berbagai bahasa ini diharapkan supaya bisa dijadikan bahan perbandingan dan penelitian. Begitu pula kami masukkan dalam siaran ini saduran kawan A. Yuwinu.

Sekarang, pada tahun 1971, seratus tahun sesudah sajak "Internasionale" diciptakan oleh Eugène Pottier atau juga pada tahun dimana diperingati ulang tahun ke 100 Komune Paris yang besar, kami siarkan saduran baru kami. Saduran yang belum sempurna ini bisa kiranya dijadikan bahan pemikiran atau bahan studi.

Yang sudah jelas, kami menganggap versi Indonesia lagu "Internasionale" yang bersumber pada saduran Ki Hadjar Dewantara itu tidak sepatutnya dinyanyikan lagi.

Akhir Desember 1971. Kolektif
"Enam Maret"


EUGÈNE POTTIER
(Untuk memperingati 25 tahun meninggalnya)*
W.I. LENIN

Pada bulan November tahun yang lalu, 1921, telah lewat 25 tahun sejak hari meninggalnya penyair buruh Perancis Eugène Pottier, pencipta lagu proletar yang mengenalkan "Internasionale" ("Bangunlah kaum yang terhina", dst). Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam semua bahasa Eropa dan tidak hanya bahasa-bahasa Eropa. Ke negeri manapun seorang buruh yang sadar datang terdampar, karena apa pun nasib melemparkannya, betapa pun ia merasa dirinya asing, tanpa mengenal bahasa, tanpa orang-orang yang dikenalnya, jauh dari tanah air, ia telah menemukan kawan-kawan dan sahabat-sahabat melalui nyanyian "Internasionale" yang dikenal.

Kaum buruh semua negeri bersama-sama ikut menyanyikan lagu perjuangannya yang termaju, seorang proletar penyair dan menjadikan lagu itu sebagai lagu proletariat sedunia. Sekarang kaum buruh semua negeri memperingati Eugène Pottier. Isteri dan anak perempuannya masih hidup dalam kemiskinan, sebagaimana pencipta lagu "Internasionale" hidup sepanjang umurnya.

Eugène Pottier lahir di Paris pada 4 Oktober 1816. Ketika ia menggubah lagunya yang pertama ia baru berumur 14 tahun, dan lagu itu diberi nama "Hidup Kebebasan!". Pada tahun 1848 ia ikut serta sebagai pejuang barikade dalam pertempuran besar kaum buruh melawan burjuasi. Pottier dilahirkan dalam keluarga miskin dan selama hidup tetap sebagai orang miskin, seorang proletar, yang mendapatkan roti dengan mengepak peti-peti, kemudian dengan menggambar pola kain cita.

Semenjak tahun 1840 dengan lagu-lagu tempurnya ia menyatukan diri pada semua peristiwa besar dalam kehidupan Perancis untuk membangkitkan kesedaran kaum yang terbelakang, menyerukan kepada kaum buruh untuk bersatu, memukul burjuasi dan pemerintah burjuis Perancis.

* Artikel ini diterjemahkan dari W.I. Lenin Kumpulan Karya, edisi bahasa Rusia, jilid 36, cetakan ke 4,
Balai Penerbitan Negara Literatur Politik, Moskow, 1957.


Pada masa Komune Paris yang besar (1871), Pottier telah dipilih sebagai anggotanya. Dari 3600 suara, 3352 memilihnya. Ia ikut serta dalam semua kegiatan Komune, pemerintah proletar yang pertama itu.

Jatuhnya Komune memaksa Pottier melarikan diri ke Inggris dan Amerika. Lagu "Internasionale" yang terkenal ia ciptakan pada bulan Juni 1871, boleh dikata, pada esok hari sesudah kekalahan bulan Mei yang berdarah . . . Komune ditindas . . . , akan tetapi "Internasionale" Pottier menyebarkan ide-ide Komune ke semua penjuru dunia. Sekarang lagu ini mempunyai daya hidup lebih dari pada di waktu kapan pun.
Pada tahun 1876, di tempat pelarian, Pottier menulis sajak panjang: "Kaum buruh Amerika kepada kaum buruh Perancis". Di dalamnya ia melukiskan penghidupan buruh di bawah penindasan kapitalisme, kemelaratan mereka, kerja mereka yang berat tak tertahankan, penghisapan terhadap mereka, keyakinan mereka yang teguh akan kemenangan di hari depan dari perjuangannya.

Sembilan tahun kemudian setelah Komune, barulah Pottier kembali ke Perancis dan segera masuk "Partai Buruh". Tahun 1884, diterbitkan jilid pertama dari sajak-sajaknya. Tahun 1887 diterbitkan jilid keduanya dengan judul "Lagu-lagu Revolusioner". Sejumlah lagu-lagu lain penyair buruh ini diterbitkan sesudah meninggalnya.

Pada 8 November 1887, kaum buruh Perancis mengantarkan abu jenazah Eugène Pottier ke kuburan Père Lachaise, dimana dikuburkan kaum komunar yang telah gugur ditembak. Polisi melakukan penindasan berdarah dan merampas bendera merah. Orang dalam jumlah yang sangat besar ikut serta dalam pemakaman tanpa upacara keagamaan. Dari segenap penjuru terdengar pekik: "Hidup Pottier!".

Pottier meninggal dalam keadaan miskin. Tetapi ia meninggalkan warisan suatu monumen yang sungguh-sungguh tak terciptakan oleh tangan manusia. Ia adalah seorang propagandis yang paling besar yang menggunakan lagu sebagai alat. Ketika ia menggubah lagunya yang pertama, jumlah kaum sosialis di kalangan buruh paling banyak puluhan orang. Sekarang lagu yang bersejarah dari Eugène Pottier dikenal oleh puluhan juta kaum proletar . . . . .

"Pravda" No.2, 3 Januari 1913 Dicetak menurut teks dari
Tandatangan: N.L. Suratkabar "Pravda"


INTERNASIONALE
Saduran Kolektif "Enam Maret" *

Bangunlah kaum yang terhina!
Bangunlah kaum yang lapar!
Mengg'lora dendam dalam dada;
kita berjuang 'tuk kebenaran.
Hancurkan seluruh dunia lama;
kaum budak, bangun, bangun!
Kita yang kini hina papa
akan menguasai dunia.
Perjuangan penghabisan, |
bersatu berlawan; | 2 x
Internasionale pastilah di dunia! |
Tiada maha juru
s'lamat,
Tidak tuhan atau raja.
Kebah'giaan umat manusia
harus kita sendiri cipta.
Lenyapkan jiwa pembudakan;
rebut kembali hasil kerja.
Kobarkan api, seg'ra tempa
selagi baja membara !
Perjuangan . . . . .
Kitalah kaum buruh dan tani,
tentara kerja
perkasa.
Bumi hanya milik pekerja,
benalu tidak berhak serta.
Cukup sudah darah k'ringat
terhisap;
saat pasti akan tiba,
setan siluman musnah lenyap
dan surya cerlang s'nantiasa !
Perjuangan . . . . .
Desember 1971

* Teks ini disusun kembali dengan ejakan Bahasa Indonesia yang disempurnakan. Lagunya
lihat halaman berikut.

------------------------------

I N T E R N A S I O N A L E
1 = Bes 4/4
Khidmat dan gagah Sajak: Eugène Pottier
Lagu : Pierre Degeyter
Juni 1871
Saduran bhs. Indonesia: Enam Maret
Desember 1971
5 || 1 . 7 2 1 5 3 | 6 . 4 0 6 | 2 . 1 7 6 5 4 | 3 . 3 0 5 |
Bangunlah kaum yang terhina!
Bangunlah kaum yang lapar!
MengTiada maha juru s’lamat,
tidak tuhan atau raja.
Ke Kitalah kaum buruh dan tani
tentara
kerja perkasa
Bu |
1 . 7 2 1 5 3 | 6 . 4 .6 2 1 | 7 2 4 7 | 1 . 1 0 3 2 |
‘glora
dendam dalam dada;
kita berjuang
‘tuk kebenaran.
Hancur bah’giaan
umat manusia
harus kita sendiri cipta
Lenyapi
hanya
milik pekerja,
benalu
tidak
berhak serta
Cukup su|
7 . 6 7 1 6 | 7 . 5 .5 #4 5 | 6 . 6 2 . 1 | 7 . 7 0 2 |
kan s’luruh dunia la ma
kaum budak
bangun bangun!
Kita bukan
jiwa pembudakan;
rebut
kembali hasil kerja.
Sudahi
darah k’ri ngat
terhisap;
saat pasti akan
tiba.
Se |
2 . 7 5 5 #4 5 | 3 . 1 .6 7 1 | 7 2 1 6 | 5 . 5 0 3 .2 |
Kita yang kini hina papa
akan menguasai
dunia; Perjubarkan api,
seg’ra tempa
selagi baja
membara!
; Perjutan siluman musnah lenyap
dan surya cerlang s’nantiasa!
; Perjuangan
|
1 5
. 3 | 6 . 4 0 2 .1 | 7 . 6 5 | 5 . 5 0 5 |
penghabisan
bersatu
berlawan!
In |
3 2
5 | 1 7
. 7 | 6 . #5 6 2 | 2 2
0 3 .2 |
ternasionale
pastilah
di dunia
Perju

| 1 5
. 3 | 6 . 4 0 2 .1 | 7 . 6 5 | 3 3
|
angan
penghabisan
bersatu
berlawan!
In –
| 5 4
3 | 2 . 3 4 0 4 | 3 . 3 2 . 2 | 1 0
||
ternasionle
pastilah
di dunia!

** Penulis adalah mantan Tapol 1965 pernah ditahan di Pulau Buru, semasa kecil dibesarkan di Boven Digoel.
Baca selengkapnya

10 Januari 2010

Resensi buku “Lekra Tak Membakar Buku” Bab II: Riwayat Harian Rakyat


Oleh Candra Irawan Hartadi dan Ellam Wardana
Diskusi bedah buku diadakan oleh Bingkai Merah pada 9 Januari 2010.

Pada jaman Revolusi Indonesia, perjuangan politik tidak hanya ditunjukkan oleh partai politik saja yang mendukung Manifesto Politik (Manipol) Presiden Soekarno. Peran media cetak pun punya tugas penting dan berat dalam memerjuangkan kepentingan massa rakyat saat itu. Hal itu ditunjukkan oleh kehadiran surat kabar Harian Rakyat sebagai terompet nasional, corong perjuangan rakyat dan senjata melawan bentuk penindasan kaum imperialis dan kolonial di segala aspek kehidupan masyarakat.

Kehadiran Harian Rakyat sebagai kekuatan media progresif rakyat begitu penting untuk menjaga perjuangan revolusi 1945. Juga melalui kerja-kerja budaya. Dalam rangka itu, Harian Rakyat memberikan ruang yang begitu besar bagi Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) berapresiasi.
Keterkaitan Lekra dan Harian Rakyat akan dibahas pada Bagian Kedua buku ini yang terbagi ke dalam beberapa sub bab, yaitu 14 tahun Mengawal Kebudayaan Rakyat, Ideologi dan Jurnalisme Harian Rakyat, Lekra dan Harian Rakyat, serta Berkali-kali Dibredel Akhirnya Mati Juga.

A. 14 tahun Mengawal Kebudayaan Rakyat

Harian Rakyat sebelumnya bernama Suara Rakyat. Tepatnya akhir Januari berubah nama menjadi HARIAN RAKYAT. Harian Rakyat bukan hanya media propagandis dan agitator, melainkan juga hadir sebagai Organisator Kolektif Tri Tugas Revolusioner.

Harian Rakyat memiliki jargon “Untuk Rakyat Hanya Ada Satu Harian “ HARIAN RAKYAT”. Berkantor di Pintu Besar Selatan No 93 dengan Dewan Redaksi Nyoto dan Direksi/Penanggung Jawab/Redaksi Mula Naibaho Harian Rakyat menjadi terompet Partai Komunis Indonesia.

Harian Rakyat yang beroperasi selama 14 tahun itu merupakan koran propaganda Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebagai bagian dari perjuangan politik kelas proletar, Harian Rakyat harus menjadi bagian dari perjuangan kelas proletar yang dilandaskan oleh ideologi yang jelas (Materialisme-Dialektika-Histori) dalam menentukan arah dan garis perjuangannya.

Pada 2 November 1959, Harian Rakyat dibredel oleh penguasa perang. Para pimpinan Harian Rakyat tidak berdiam diri. Aksi turun ke jalan sembari menjual koran dilakukan langsung oleh pimpinan Harian Rakyat, seperti D.N. Aidit (Sekjen PKI), S. Utarjo (Sekretaris Comite PKI Jakarta Raya), Lukman (Wakil Ketua I PKI), Nyoto (Wakil Ketua I PKI dan pimpinan redaksi Harian Rakyat), dan Nyono calon anggota Polit Biro PKI dan Sekjen SOBSI. Mereka melakukan aksi itu sebagai bentuk penolakan atas pembredelan Harian Rakyat.

Aksi jual koran oleh pimpinan PKI mendapat dukungan dan antusias massa rakyat dari berbagai lapisan kelas. Dukungan itu dalam bentuk membeli Harian Rakyat. Selain itu, Harian Rakyat juga mendapat dukungan dari koran Abadi, Duta Masjarakat, Pemuda, dan Bintang Timur. Pada aksi itu, para wartawan tulis dan foto Harian Rakyat turut mendokumentasikannya dan membuat berita khusus di halaman muka Harian Rakyat Edisi 9 November 1959.

B. Ideologi dan Jurnalisme Harian Rakyat
Gaya bahasa Harian Rakyat yang khas berbobot itu ditempa oleh Nyoto, Naibaho, dan Supeno. Gaya Marxisme-Leninisme menyusup ke dalam tulang-tulang bahasa. Sehingga, Harian Rakyat cenderung mengedepankan ideologi dan jurnalisme konfrontasi. Ciri khas dari Harian Rakyat adalah berbahasa meledak, tembak langsung, jambak, sikat dan pukul di tempat.

Garis politik Harian Rakyat yang konfrontatif dan memosisikan sebagai barisan pembela Manifesto Soekarno, Anti Imprealis, dan Anti Feodal menghadirkan polemik dengan Harian Merdeka asuhan BM. Diah. Harian Merdeka mendukung BPS (Badan Pendukung Soekarno). Harian Rakyat yang berkoalisi dengan Bintang Timur asuhan Amuanto menuntut pembubaran BPS karena dianggap sebagai antek-antek dan mata-mata Badan Intelejen Amerika (CIA). Inilah polemik terbesar dalam sejarah pers Indonesia, tepatnya pada tanggal 2 Juni sampai 9 Juli 1964.

Setiap koran yang terbit memiliki ciri atau karateristik yang dituangkan melalui kolom atau rubrik. Dalam Harian Rakyat terdiri dari Rubrik Tetap dan Rubrik Khusus. Dalam Rubrik Tetap biasanya memuat rubrik Marxisme-Leninisme, Tinjauan Luar Negeri, Ekonomi Keuangan, dan Kebudayaan dan Pendidikan. Sementara dalam Rubrik Khusus dimuat Harian Rakyat Muda, Wanita, Surat Pembaca, Arti Kata-kata Asing, Wong Tjilik (Pojok), dan Editorial.

Selain rubrik, ciri khas lain dari Harian Rakyat adalah gambar-gambar karikatur yang dimuat dalam ruang kebudayaan. Karikatur dibuat sebagai salah satu wujud konfrontasi Harian Rakyat dengan musuh-musuh kontra revolusioner yang memuat isi yang cerdas, inspiratif, unik, jenaka, dan menusuk langsung sasaran dengan senjata bahasa politik untuk melawan imperialisme dan kolonialisme. Rubrik Harian Rakyat Muda menjadi ruang kreativitas progresif kaum muda yang diasuh olek kak Embun. Sementara untuk edisi mingguan Harian Rakyat menerbitkan Harian Rakyat Sport dan Film asuhan Soejono dan Joebar untuk mengawal kebudayaan nasional melalui kemajuan olahraga dan film.

Konsep TURBA menjadi metode Harian Rakyat dalam peliputan berita “Dari Massa Kembali ke Massa”, “Kritik dan Otokritik” dan berusaha mempertinggi “Mutu Ideologi dan Mutu Djurnalistik”. Dalam Harian Rakyat tercermin pendirian kaum komunis dan segenap kekuatan anti-imperialisme dan anti feodal. Harian Rakyat adalah koran Intensif bukan Ekstensif.

Harian Rakyat memiliki beberapa kendala di dalam memerjuangan pergerakan rakyat melalui terbitan-terbiatan. Harian Rakyat tidak memiliki lisensi percetakan sendiri. Selain itu, Harian Rakyat sering memiliki masalah keuangan karena pengangkutan dengan GIA (Garda Industri Airways) dan DKA (Djawatan Kereta Api), tarifnya sangat tinggi. Hal itu tidak menyurutkan Harian Rakyat untuk terus terbit. Dengan usaha yang keras, Harian Rakyat mampu menembus oplah 60.000 ekslemplar yang tercatat dalam buku “Pogram dan Pembangunan” susunan Kementrian Penerangan pada 1958. Sehingga, menjadikan Harian Rakyat sebagai koran politik terbesar pada masanya.

Perjalanan panjang Harian Rakyat dalam mengawal perjuangan rakyat tidak hanya mendapat dukungan dari rakyat, juga dari para pemangku pemerintahan. Seperti Letjen Achmad Yani di dalam pidatonya saat Harian Rakyat berulang tahun ke XII, “Harian Rakyat menggugah semangat rakyat untuk tetap cinta dan setia kepada cita-cita dan tujuan pokok Revolusi Indonesia. Setiap Revolusi ada tantangangnya. Mereka yang menantang Revolisi Indonesia digolongkan dalam barisan Kontra-Revolusi yang harus dibersihkan. Selama ini, Harian Rakyat di dalam usaha membasmi golongan kontra-revolusi cukup aktif.”

Berikut ini pendapat dari beberapa tokoh dan organisasi lainnya,
“Sebagai satu surat kabar, Harian Rakyat senantiasa menganjurkan persatuan segenap rakyat Indonesia dalam perjuangan menentang imperialisme” (Soekarno).

“Sebagai alat Revolusi, Harian Rakyat telah memberikan andil demi terciptanya Tiga Kerangka Tujuan Revolusi dan Harian Rakyat telah berjuang secara revolusioner” (E. Martadinata, Mentri Pangal Laksamana Madya).

“Harian Rakyat sebagai unsur penggerak rakyat yang progresif dan patriotik telah menunjukkan bukti-bukti yang nyata dalam memersatukan kekuatan buruh, tani, serta golongan massa bagi usaha penggayangan Malaysia, negara boneka ciptaan Inggris. Akhirnya marilah kita bersatu padu, bahu-mambahu dan tak kenal menyerah dalam menyelesaikan Revolusi Nasional kita. Onward!!! No Regret!!!” (Oemar Dani, Laksamana Madya Udara, Menteri/Panglima Angkatan Udara RI).

“Di mata keluarga Komunis, Harian Rakyat adalah harian revolusioner seperti juga dikatakan oleh Lenin merupakan propaganda kolektif, agitator kolektif dan organisasi kolektif. Harian Rakyat menunjukkan bahwa Harian Rakyat adalah harian daripada rakyat, kepunyaan rakyat dan pembawa suara rakyat” (Lukman, Wakil Ketua I PKI).

“Harian Rakyat kuat karena didukung oleh gerakan revolusioner rakyat. Sedang hari depan Harian Rakyat adalah gemilang, sama gemilangnya dengan hari depan Indonesia, dimana tidak ada lagi kaum imperialisme, kaum komprdor, dan kaum tuan tanah yang menjadi tempat bergantung koran-koran kanan. Harian Rakyat, Rakyat Indonesia dan PKI berjuang untuk hari depan yang gemilang ini” (D.N Aidit, Ketua CC PKI).

“Harian Rakyat telah berhasil mengambil hati kaum buruh dengan menjalankan peran untuk mengangkat derajat Kaum Buruh Indonesia dan menara penyuluh bagi perjuangan Kaum Buruh Indonesia yang tidak hanya tahu aksi, melainkan juga tahu Revolusi” (Dewan Nasional Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia).

“Kaum Tani mengenal Harian Rakyat sebagai pembela kaum tani mengahadapi kaum tuan tanah dan bersama kaum tani menyerukan solidaritet dan memberikan jalan melawan hama, bahaya alam, serta cara mengatasi bahaya kelaparan” (DPP BTI).

Harian Rakyat laksana air dan ikan bagi Gerwani. Dalam memperjuangkan Hak-hak Wanita di lapangan ekonomi, sosial, dan politik dimana kaum wanita merupakan separo dari pemilih dengan kemenangan demokrasi merupakan sumbangan yang besar bagi Gerakan Wanita” (DPP GERWANI).

Di mata organisasi pers nasional maupun internasional, Harian Rakyat adalah koran kaum komunis yang sangat dihormati. Dianggap sebagai mata rantai dalam membangun Front Persatuan Nasional untuk melaksanakan cita-cita material dan spiritual yang dikandung dalam Amanat Penderitaan Rakyat dengan semangat internasional proletar sejati dan persaudaraan komunis.

C. Lekra dan Harian Rakyat
Sebagaimana kita ketahui pada bagian pertama, Harian Rakyat memang secara resmi bukan media Lekra (lih. hal. 47). Namun, koran itu memiliki hubungan yang khusus dengan Lekra. Hal itu dinyatakan langsung dalam salah satu edisi Harian Rakyat pada 31 Januari 1964:
“HR berdiri di depan dalam mengganjang musuh2 nasional dilapangan kebudajaan ... Dengan demikian ia menerangi djalan2 perdjuangan pekerdja2 kebudajaan Rakjat LEKRA [sic] (hal. 95, catatan perut).

Kesulitan memisahkan antara Harian Rakyat, Lekra, dan PKI tatkala melihat sosok Njoto, sang pemimpin redaksi Harian Rakyat, juga salah seorang pendiri Lekra, sekaligus satu dari lima Pandawa dalam tubuh PKI. Sebab, alasan persamaan garis perjuangan semata sudah sering terbukti tidak cukup untuk menciptakan sebuah afiliasi apabila tidak disertai oleh interseksi-interseksi yang kuat.

Mungkin, kita bisa memaklumi kerancuan itu “karena memang koran ini didirikan dan sekaligus dijalankan oleh para budayawan cum politikus seperti Njoto”, yang “berkali-kali mengatakan “Harian Rakyat adalah juru bicara kebudayaan Rakyat” (lih. hal. 95-96). Tetapi, mungkin pula Muhidin dan Rhoma lupa, ‘tidak ada kebetulan di dalam politik’.

PKI sebagai garda revolusioner terdepan saat itu tak pelak membidik agenda di bidang kebudayaan. Sejak edisi 30 Juni 1963, rubrik Ruangan Kebudajaan yang sekian lama setiap pekan menjadi wadah bagi dunia seni-budaya di dalam Harian Rakyat menjelma-meluas menjadi edisi khusus mingguan dalam khasanah yang sama, bertajuk Harian Rakyat Minggu. Komitmen yang makin terkonsentrasikan itu disambut dengan produktivitas para pekerja seni dan budaya, yang tampak antara lain sebagai berikut:

Menurut catatan “Editorial”, selama setahun, yaitu 2 Februari 1963 s/d 26 Januari 1964, Harian Rakyat Minggu telah menyiarkan: 120 sajak, 21 cerita pendek (cerpen), 15 reportase, 23 resensi, 10 esai, 15 buah lagu, dan 26 cukilan kayu (dalam dan luar negeri), di samping sekian banyak artikel-artikel mau pun catatan tentang kebudayaan dan pelbagai cabang kesenian. Termasuk bagian yang penting ialah terjemahan sajak-sajak, cerpen-cerpen, dan artikel-artikel kebudayaan/kesenian dari banyak negeri terutama Asia-Afrika [sic] (hal. 96).

Dan, ghirah mereka yang membara itu juga diapresiasi melalui penobatan karya-karya seni terbaik yang dimuat oleh Harian Rakyat selama setahun penuh - sebuah tradisi warsakala yang berjalan sejak 1957 - 1964.

D. Berkali-kali Dibredel Akhirnya Mati Juga
Meski Harian Rakyat menikmati antusiasme yang mengagumkan dari rakyat sekaligus kedekatan dengan PJM-PBR Presiden Sukarno, tidak berarti selamat dari pemberangusan. Enam kali koran itu dibredel. Pembredelan dilakukan secara berturut-turut pada 13 September 1957, 16 Juli 1959, 2 November 1959, 9 Desember 1959, 3 Februari 1961, dan terakhir pada 2 Oktober 1965 yang menandai akhir usianya.

Pelarangan terbit Harian Rakyat pada 9 Desember 1959 dilakukan oleh penguasa perang - sebuah institusi yang terdengar dari namanya merupakan bagian dari militer dan memiliki peran cukup besar di masa itu. Sangat disayangkan tidak dijelaskan lebih lanjut oleh kedua penulis siapa yang dimaksud Penguasa Perang? Padahal, saat itu PKI sangat dekat dengan Panglima Angkatan Bersenjata, Presiden Sukarno. Pertanyaan kemudian, mengapa bisa terjadi pemberedelan? Pelarangan terjadi lantaran berita tentang ceramah Njoto di gedung SBKA pada 23 November 1959 yang dimuat oleh Harian Rakyat sehari sesudahnya. Letnan Jenderal Eddy Djadjang Djajaatmadja menyatakan “tidak menyebut dengan kongkrit apa dan bagaimana jang dilanggar ... hanja berdasar atas fikiran ‘asal tidak terbit sadja’” (hal. 99).

Pemberangusan kali itu memancing aksi solidaritas dari berbagai kalangan. Sesama media massa dan para pekerja seni dan budaya dari beberapa organisasi menolak pembredelan itu. PWI, SOBSI dan SPS, bahkan lembaga tinggi negara, seperti DPR dan DPA memberikan dukungan nyata bagi Harian Rakyat. Sejumlah seniman yang dijurubicarai Pramoedya Ananta Toer datang ke Istana Negara membawa petisi (hal. 99). Pemuda Rakyat bahkan menurunkan para anggotanya untuk menjajakan Harian Rakyat ke jalan-jalan, di samping membuka Dana Tolong Harian Rakyat sebagai bantuan finansial, karena telah sekian lama tak beroleh pemasukan dari penjualan beritanya. Hasilnya, serangkaian aksi itu berbuah dijinkannya kembali Harian Rakyat untuk terbit pada 3 Februari 1961 (lih. hal. 100).

“Banyak-banyak terimakasih, sekalian para pembaca!”
Setelah hari-hari hitam di pengujung 1965, Harian Rakyat memang dipaksa berakhir. Sebagaimana semua elemen revolusioner yang serta-merta dicucukkan dengan peristiwa yang memecah kegentingan malam pembuka bulan Oktober itu (Gerakan 1 Oktober 1965).

Patut dicatat, hanya Harian Rakyat yang entah dengan cara apa berhasil bersuara kepada para pembacanya sampai sehari sesudah hari nan kelam itu (lih. 101). Surat kabar dengan oplah terbesar pada masanya itu pun harus mengucap selamat tinggal dari arena pertarungan politik yang besar dengan korban jutaan orang. Sebagai kalimat penutup Edisi 2 Oktober 1965, “Banyak-banyak terimakasih, sekalian para pembaca!”.

Deklamasi Puisi Lekra sebagai penutup berakhirnya diskusi bedah buku.

Balada Rakyat Indonesia
F. L. Risakotta


I
senjata ini kami lepaskan setelah pertarungan matimatian, Bung Karno
karena cita-cita menyala pada hati dibakar perjanjian demi perjanjian

kami patuh dan setia dengan keyakinan penuh harap
karena citacita ini tidak pernah pudar pada asap dan kertas putih
kami tinggalkan hutan yang menyanyi tiap pagi
ketika kami diburu dan kota habis dihangusi
kami ungsikan diri, Bung Karno
bukan karena mati dan ketakutan tapi lentera pada hati menyala menyimpan citacita

ratusan kami berbaris menghadang musuh dengan bamboo yang begitu setia
berbanjar seperti benteng tiada terkalahkan

ribuan kami mandi darah di atas tanah kesayangan, karena setia,
karena citacita mulia

ketika laras kami berdebu di kota-kota
dan tapaktapak kaki ini belahbelah karena tiada alas rupa
dan wajah kami tiada pernah mengharap karena citacita masih terdukung
di berat punggung

kami lentangkan suara meski parau mendekam
kami nyanyikan kemenangan meski ini kekalahan yang dipaksakan
kami teriakkan perlawanan ini suatu permulaan kesyahduan

kami baris, Bung Karno
pada tangantangan kurus tiada berdenyut nadi
sepanjang kota rakyat menanti kemerdekaan dan citacita
dan kami terus berbaris, kami terus menghentak kaki
meski di sisi rakyat membakar citacita karena kesetiaan belum nyata

kami jelajahi kota, kami masuki kota, Bung Karno
karena Indonesia, karena citacita kami bersama

senjata ini di depanmu kami jamah tanda hormat dan kasih kita
di penghabisan kali karena kami harus menyisih dari barisan senjata
kami bukan orangnya yang mendendam dengan senjata dan penembakan
kami bukan orangnya sisasisa pertempuran yang mengharap balas dan bintang jasa
kami bukan pejuang yang didaftarkan si suatu kementrian
tapi kami penjelajah hutan ketika revolusi, penggempur kota dan pendukung

setia cita-cita kemakmuran bangsa

inilah kami Bung Karno
yang setia ketika tiada malam dan kelam dalam diri dan hari depan
kami yang masih merayap di kaki bukit ramamandala, di hutan-hutan kerinci,
kuningan dan bolangmangondow
ya, kamilah Bung Karno yang mengharap merek tapi tiada bertanda

dulu kami lepaskan senjata kami setia pada citacita rakyat
kini kami ditumpas lepas hanya pegangan pada hati
mungkinkah sembilu penghabisan menyanyat citacita ini bila
keganasan gerombolan mengerkah citacita merdeka?

Bung Karno, usang sudah citacita ini bila kemenangan tiada di hati kami
remuk dan musnah rumah kampung halaman kami dan istri harus mati
bertekuk dikebiadaban gerombolan
sedang kami harus lari menghindar diri demi merdeka dan citacita
adakah yang lebih pahit dari ini, Bung Karno
bila nafas yang sisa ini menumpas
setiap keganasan, kebuasan tapi di musim damai kami didera-disiksa oleh sisasisa gerombolan dan hidup merungkak di tanah berbatu?
atau mengharap perintah dari tanggan yang tiada pernah berlaga?

ya, Bung Karno, senjata ini kami serahkan demi citacita bangsa
tapi pada mu, Bung Karno, tiada pada siapa pun

II
kami harus menekan tumpas karena derita masih menyala
memanggang diri dan air mata
kami harus menekukkan kepala kerena hati cinta nusa masih membakar diri
sedang punggung berat membebani citacita
kami tidak meminta, Bung Karno, kerena jiwa kami terancam gerombolan dan
hati ini sedih ditindas modal asing
juga kami mati akan setia dan kemegahan demokrasi, Bung Karno,
karena apalah arti citacita yang menyala ini andai suara tersumbat dan tangan kaku di atas kertas putih

bung Karno, pada mu kami dukung citacita kami sejak revolusi dulu
karena tanpa citacita ini kita bukan apa pun di bumi Indonesia
ketika ini pada mu pimpinan kami serahkan tapi bukan pada siapasiapa

III
ketika meriam menggelegar 21 kali di kemayoran
senja memisahkan kami, pendukungmu, Bung Karno -
dari istanamu yang putih mengapur
tapi suara dan teriak kami menggelegar memecah senja
lebih keras dari meriam, Bung Karno,
meski saat itu kita disisihkan dalam senja
kami menanti dengan hati bukan dengan senjata dan meriam karena senjata
telah kami serahkan ketika revolusi dan setia kembali ke desa
sedang di hati citacita ini lebih tajam dari senjata, juga lebih indah dari istana
Bung Karno, kami menanti di depan istana, tapi kita berpisah karena senjata
di depan kami
kami tahu Bung Karno, seperti kau pun tahu bahwa batas kita ini hanya sementara,
bahwa pemisahan kita hanya seketika
apakah yang lebih abadi selain citacita, Bung Karno
karena kami pun percaya seperti kau juga mengerti bahwa meriam bisa diam
kalau hati bersusun satu, Bung Karno, tapi imperialisme dunia pun
bisa hancur bila kami pendukung setia citacita bangsa;

di bawah kesamaran senja dan lampulampu, Bung Karno, wajahmu menyala
setelah dua bulan kita berpisah
jauh jarak pengharapan hati ini, Bung Karno
tapi kami tetap setia

suaramu yang kami nantikan seperti apa yang diharapkan hati ini, Bung Karno
ucapan yang melaut di hati dan benak kami, mencatat kemenangan karena
kita berkisar di satu etah dimana dulu kita pernah mengalah
kita kembali ke jalan dimana revolusi menuntut kemenangan
dengan senjata citacita yang abadi, kemerdekaan, kebebasan dan kemakmuran;
teriakmu naik ke langit malam dan di bintang menyatu diri
kami penanti, Bung Karno, dan suaramu suara kami kembali ke jalan

IV
berhari kita berkira dalam diri dan citacita lautan kemegahan dan
keadilan rakyat Indonesia
kemanakah arah angin kan bertiup bila lentera di tanganmu, Bung Karno
kami serukan langkah, bila nafasmu menafasi hati kami
kami sediakan diri, Bung Karno, andai derita dan kepahitan kita dukung bersama;
Bung Karno, mimpi kami tidaklah seindah hati dan citacita kami,
karena berat beban tiada terungkai andai kami terus dirangsang ketakutan,
diburu kehancuran, dalam tangan citacita demokrasi
tapi kami percaya, Bung Karno, meski citacita ini diperam, ia pasti lebih membaja
lebih menyala dari bintangbintang, tapi juga lebih menggelegar dari meriam
Bung Karno, atas mu citacita ini kami serahkan,
tapi citacita ini adalah milik kita, Bung Karno
kebenaran citacita akan menggaris dalam sejarah,
siapa yang setia dialah pemenang, Bung Karno

Bung Karno, kami pejalan panjang dari revolusi ke jalan revolusi dan hati tiada henti mendukung citacita rakyat Indonesia, meski malam jemu
menutup mata seluruh Indonesia


kayu awet, 21 Juli 1959.

Baca selengkapnya

30 Desember 2009

Resensi Lekra Tak Membakar Buku (Bedah Buku Bab Per Bab) Bab I: MUKADIMAH


Oleh: Prasetyo Serna Galih dan Kharisma Wibawa
Diadakan oleh Bingkai Merah pada diskusi bedah buku, 19 Desember 2009.

Lekra singkatan dari Lembaga Kebudayaan Rakyat. Lekra didirikan pada tanggal 17 Agustus 1950. Lekra menganggap rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan. Bangunan kebudayaan Indonesia baru hanya dapat dilakukan oleh rakyat. Oleh karena itu, Lekra dibentuk untuk bergiat melakukan kerja-kerja kebudayaan rakyat yang revolusioner.

Pada Bagian Pertama dalam buku ini terbagi ke dalam beberapa bahasan: Politik Sebagai Panglima, Lekra, Kelahiran dan Peran, Asas Metode dan Kombinasi, Dari Konferensi ke Konferensi dari Pleno ke Pleno, Zaman Baru: Buletin Bulanan Seni-Sastra Lekra, dan bahasan terakhir tentang KSSR: Jalan Sungsang “Pemerahan Total” Lekra.

Lekra mengadakan Kongres I pada 27 Desember 1959 di Solo. Pada kongres itu, Lekra secara politik merumuskan langkah-langkah dan visi berkesenian serta arah berkesenian dan berkebudayaan. Garis umum sikap berkebudayaan yang diambil Lekra adalah seni untuk rakyat dan politik adalah panglima di seluruh bidang kehidupan bangsa, termasuk kegiatan-kegiatan kebudayaan. Pada kongres itu juga Mukadimah Lekra direvisi. Isinya, “kesenian, ilmu, dan industri baru dapat menjadikan hidup rakyat indah, gembira dan bahagia, apabila semuanya ini sudah menjadi kepunyaan rakyat”.

A. Politik adalah Panglima
Perjuangan kebudayaan rakyat adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan rakyat secara umum. Ia merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama dari perjuangan kelas buruh dan tani yang menjadi pemimpin dan kelas terpenting dan pokok dalam perjuangan rakyat. Hal di atas adalah Mukadimah Lekra yang direvisi pada Kongres I Lekra di Solo.

Perjuangan menjadikan kelas buruh dan tani sebagai pemimpin adalah bentuk politik sebagai panglima dalam berkebudayaan Lekra. Lekra berpegang teguh bahwa seni adalah rakyat, seni tak bisa dipisahkan dari rakyat karena rakyat yang menciptakan seni. Politik sebagai panglima adalah landasan utama di dalam berkebudayaan Lekra. Kondisi revolusi saat itu mengharuskan politik menjadi panglima di tiap landasan kehidupan bernegara termasuk dalam hal kebudayaan.

Budaya yang tidak berpolitik adalah budaya yang menjauhkan diri dari rakyat. Kondisi riil rakyat tidak akan tertampung dalam budaya karena budaya yang dihasilkan hanya budaya yang indah secara estetika namun pesan revolusioner dan perjuangan sangat minim, bahkan tidak ada.

Pada kongres I lekra selain merumuskan kaidah-kaidah perjuangan lekra dalam budaya, juga mengadakan pameran-pameran budaya. Pameran budaya ini sebagai wujud nyata dari landasan Lekra untuk mengangkat seni rakyat ke tingkat nasional seperti yang dikatakan Nyoto: “bukan segugus wacana, dan teori-teori kebudayaan yang berat untuk diperdebatkan dengan mulut berbusa tanpa melibatkan masyarakat dan kebudayaannya“.

Ada sembilan pameran yang ditampilkan, yaitu pertunjukan musik dan tari menari (panggung terbuka dan tertutup), pertunjukan seni drama, pameran seni lukis, pameran patung, pameran poster, pameran penerbitan, pameran pakaian adat, pameran alat musik, serta pameran umum.

Lekra terbentuk untuk mendobrak persepsi “seni adalah seni” menjadi “seni adalah rakyat”. Rakyat yang membentuk seni itu sendiri. Lekra juga mendobrak batasan antara rakyat terbawah dengan rakyat terpelajar/rakyat elit. Hal itu dilihat dari Kongres I, bagaimana organ-organ buruh dan tani seperti SOBSI dan BTI mendapat tempat untuk mengaspirasikan kebudayaannya.

B. Asas, Metode, dan Kombinasi 1-5-1
Kombinasi 1-5-1 adalah simbol dan sikap berkesenian yang dikembangkan oleh Lekra yang menempatkan rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan. Dijelaskan Lekra pada Mukadimah yang telah direvisi tahun 1959: “bahwa rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan dan bahwa pembangunan kebudayaan Indonesia baru hanya dapat dilakukan oleh rakyat”.

Simbol 1-5-1 memiliki bermakna menempatkan politik sebagai panglima di dalam kerja-kerja budaya. Selain itu, menunjukkan lima kombinasi kerja, yaitu meluas dan meninggi, tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitias individual dan kearifan massa, dan realisme sosial dan romantik revolusioner.

Meluas dan Meninggi
Kebudayaan kita memiliki ragam budaya yang banyak dan kaya. Luasnya budaya Indonesia menjadikan budaya kita sebagai aset berharga sekaligus sebagai alat perjuangan revolusioner melawan dominasi imperialisme. Lekra melihat, budaya Indonesia yang begitu luas dan beragam harus terus diangkat ke tingkat yang lebih tinggi sampai ke level politik. Itulah makna meluas dan meninggi.

Tinggi Mutu Ideologi dan Tinggi Artistik
Lekra memandang politik sebagai panglima dalam berkebudayaan mengharuskan seniman Lekra memiliki ideologi yang selaras dengan perjuangan revolusioner. Itu menjadi tumpuan bagi aktivitas kebudayaan Lekra. Tinggi artistik adalah bentuk karya yang diperoleh dari tafsir atas kenyataan dalam berkarya. Dengan tinggi artistik pesan politik yang disampaikan dalam karya seni akan memenuhi alat perjuangan yang ampuh.

Tradisi Baik dan Kekinian Revolusioner
Lekra adalah organisasi budaya yang menghormati dan menempatkan budaya-budaya lama yang kritis dan mengembangkan secara aktif untuk memenangkan yang baru dan maju. Lekra mendorong keberanian aktif dan menyetujui setiap aliran bentuk dan gaya selama ia setia pada kebenaran, keadilan, kemajuan. Pun mengusahakan keindahan artistik yang setinggi-tingginya. Tradisi baik yang diterapkan lekra meliputi tradisi belajar baik, berpikir baik, dan bermoral baik. Karya seni yang dihasilkan budayawan Lekra harus dimulai dengan belajar dari rakyat. Artinya, mengkaji dan menganalisis karya seni bukan dengan “semedi” tanpa melihat dan merasakan langsung apa yang dialami rakyat. Contoh, sebuah Tarian Upah Kerja yang terinspirasi dari kerja para buruh.

Kreativitas Individual dan Kearifan Massa
Masa-masa tahun 60an adalah masa “bentrok” antara para seniman Manikebu (Manifestasi Kebudayaan) dengan Lekra. Manikebu menolak seni untuk rakyat yang diusung oleh seniman Lekra. Para seniman Manikebu menuduh Lekra tidak menghargai kreativitas individual, suatu fitnah yang menyesatkan. Justru lekra menghargai kreativitas individu, namun kreativitas individu yang mementingkan massa rakyat. Lekra menganggap kreativitas individu mendapat kehormatan apabila kreativitas atau kecakapan individu itu digali dari kehidupan rakyat atau kearifan massa.

Realisme Sosialisme dan Romantik Revolusioner
Lekra memandang seni harus berpihak untuk rakyat tertindas. Seni juga harus realistik. Yakni, menggambarkan kehidupan riil rakyat yang tertindas. Tidak diproduksi dari angan-angan. Tidak takhyul. Tidak mengada-ngada. Dari penggambaran kehidupan yang riil itu, nuansa dan perspektif perlawanan rakyat yang revolusioner harus dimuat. Di dalam prosesnya, setiap seniman Lekra harus mampu melihat kontradiksi-kontradiksi yang terjadi di dalam masyarakat. Materialisme Dialektika Historis yang berasal dari Sosialisme Ilmiah menjadi lagam ideologi di setiap seniman Lekra dalam melihat kontradiksi-kontradiksi itu. Hal itu ditegaskan di dalam hasil Kongres Nasional I Lekra di dalam mukadimahnya, “mengajarkan pemahaman yang tepat atas kenyataan-kenyataan di dalam perkembangannya serta baris depannya dan untuk secara dalam mempelajari kebenaran yang hakiki dari kehidupan dan untuk bersikap setia kepada kenyataan dan kebenaran”.

Apa kemudian karya-karya seni Lekra begitu kaku? Tidak. Lekra sendiri memberikan leluasa kepada setiap senimannya untuk mengeksplorasi item-item seni secara romantik. Namun, jiwa revolusioner harus tetap dimuat untuk menghindari romantika yang mendayu-dayu, cengeng, dan individual yang menempatkan diri pada kontra revolusioner.

Dari lima kombinasi atau formula kerja Lekra, satu syarat pokok yang harus dilakukan oleh setiap seniman Lekra adalah Turba (Turun ke Bawah). Setiap seniman Lekra harus berada di tengah-tengah rakyat untuk menghasilkan karya-karya sesuai dengan formula 1-5-1. Lekra mengembangkan tiga sama: sama-sama bekerja, sama-sama makan, sama-sama tidur bersama rakyat. Mustahil menerapkan 1-5-1 tanpa terlibat langsung di dalam kehidupan rakyat tertindas dan aktif dalam aksi-aksi revolusioner.

C. Lekra: Organisasi dan Keanggotaan
Secara organisatoris Lekra memiliki struktur:
1. Sekretaris Pusat: 1 Sekretaris Umum dan 2 Wakil Sekretaris dan 8 anggota. Tugasnya sebatas peran administratif, menjadi menghubung kerja antara lekra dengan lembaga-lembaga kesenian lain buatan Lekra.
2. Pengurus Daerah: bertugas mengoordinir kebijakan pusat dengan aspirasi cabang
3. Pengurus Cabang: mengoordinir pengurus daerah dengan pengurus ranting
4. Pengurus Ranting: bersentuhan langsung dengan massa rakyat bawah.

Lembaga-lembaga kreatif buatan Lekra.
Konsep 1-5-1, meluas dan meninggi diterapkan praksis oleh lekra dengan membuat lembaga-lembaga kreatif untuk menghimpun kebudayaan rakyat. Lembaga-lembaga kreatif ini menjadi penyeimbang untuk membangkitkan kreativitas dan potensi seniman serta pekerja-pekerja kebudayaan rakyat. Hubungan antara Lekra dengan lembaga-lembaga kreativitas ini jaring menjaring dan melakukan konsolidasi terhadap masalah-masalah di lingkungan politik dan kebudayaan. Berikut adalah 6 lembaga kreatif hasil bentukan Lekra :
• Lesrupa (Lembaga Seni Rupa)
• LFI (Lembaga Film Indonesia)
• Lestra (Lembaga Sastra)
• LSDI (Lembaga Seni Drama Indonesia)
• LMI (Lembaga Musik Indonesia)
• LSTI (Lembaga Seni Tari Indonesia)

Pengambilan keputusan Lekra dalam menentukan tujuan, ideologi, dan strategi kebudayaan memiliki tingkatan, yakni Kongres Nasional (forum tertinggi), Konferensi Nasional, Sidang Pleno (sidang pimpinan Lekra bersifat terbatas).

Keanggotaan Lekra diatur dalam anggaran dasar baru hasil kongres nasional I solo, bahwa anggota Lekra diwajibkan menjadi salah satu anggota lembaga kreatif dan aktif di dalamnya.

Lekra bukan lembaga tertutup dan eksklusif, seniman-seniman yang bukan anggota Lekra namun berjuang di seni rakyat diberikan tempat oleh Lekra. Seminar-seminar, latihan-latihan, serta diskusi-diskusi Lekra juga terbuka untuk seniman yang bukan anggota Lekra.

D. Lekra Bukan Underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI)
Banyak persepsi yang mengatakan Lekra adalah organisasi turunan PKI. Mengatakan Lekra tidak ada hubungan dengan PKI adalah tidak tepat, namun mengatakan Lekra adalah organisasi turunan PKI juga salah. Fakta sejarah menyatakan Lekra bukan organisasi underbouw PKI. Terlihat ketika PKI mengadakan KSSR (Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner).

Secara garis konstitusional Lekra tidak terlibat dengan penyelenggaran KSSR. Namun, individu-individu Lekra banyak terlibat di konferensi itu. KSSR (27 Agustus - 2 September 1964) sendiri terselenggara dari hasil sidang pleno CC PKI pada akhir 1963 yang menetapkan tentang pentingnya memberikan semacam garis-garis fundamental bagi penciptaan sastra dan seni yang revolusioner dan berhubungan dengan pelaksanaan TAVIP.

KSSR diadakan untuk mendorong perkembangan sastra dan seni Indonesia yang berkepribadian nasional dan mengabdi pada rakyat serta untuk lebih mengintregasikan sastra dan seni dengan rakyat dan manipol.

Polemik mengenai “pemerahan” Lekra sangat kental ketika anggota-anggota Lekra terlibat dalam KSSR. Namun, di dalam tubuh lekra sendiri tidak semua anggotanya berpaham komunis. Saat itu, Pramoedya Ananta Toer, A. S. Dharta, M. S. Ashar dan beberapa tokoh Lekra tidak berpaham komunis. Mereka disebut sebagai budayawan yang manipolis revolusioner. Senanda dengan resolusi KSSR: “kepada sastrawan, seniman, dan pekerja kebudayaan komunis pada umumnya mengajak segenap sastrawan, seniman, dan pekerja kebudayaan manipolis revolusioner lainnya untuk menguasai.... menjadikannya milik rakyat dan bersama-sama dengan rakyat membangun kebudayaan yang berkepribadian nasional”.

Nyoto salah satu pimpinan Lekra dan PKI menolak Lekra bergabung sebagai underbouw PKI. Akan ada sebuah konsekuensi yang akan diterima Lekra jika bergabung dengan PKI, yakni pada garis komando dan instruksi kerja Lekra nantinya. Aidit menilai Lekra sebagai keluarga komunis.

PKI memberikan fasilitas yang mewah terhadap gerakan Lekra. Terlebih di Harian Rakyat, media PKI, karya-karya Lekra mendapatkan ruang yang luas. Sebagai kosekuensinya Lekra harus “mengganti” hal tersebut dengan memberikan dukungan terhadap garis perjuangan partai.

Bantuan Lekra terhadap partai tidak menyalahkan Mukadimah, Peraturan Dasar, atau pun Laporan Umum. Dalam Laporan Umum Lekra pada Kongres I di Solo yang ditulis oleh Joebaar Ajoeb menyatakan “ tradisi kita yang sejati adalah tradisi bahwa gerakan kebudayaan dan gerakan politik itu satu. Bahkan tidak jarang satunya gerakan kebudayaan dan gerakan politik dipersonifikasikan dalam arti satu pula”. Jelas bahwa Lekra memandang gerakan politik PKI yang membela kaum-kaum tertindas sama dengan garis perjuangan Lekra untuk membela kaum tertindas dengan seni sebagai senjatanya. Budaya tidak bisa terpisah dari politik begitu juga sebaliknnya. Konsekuensinya budayawan-budayawan Lekra tidak bisa lepas dari ranah poltik dan politikus pun tidak bisa lepas dari ranah budaya.

Budaya adalah senjata dalam perjuangan politik kaum tertindas. Budaya dan politik tidak bisa berdiri sendiri dalam perjuangannya atau perjuangan politik tidak bisa tergantikan dengan perjuangan kebudayaan begitu juga sebaliknya.

E. Lampiran-lampiran serta hasil-hasil konfernas serta rapat pleno lekra
Berikut hasil-hasil konferensi serta sidang-sidang pleno Lekra. Beberapa di antaranya menghasilkan aksi-aksi Lekra.
• Kongres I di Solo (24 - 29 Januari 1959) menghasilkan Mukadimah yang direvisi, Resolusi, serta Laporan Umum. Konkritnya setelah Kongres I ini tercipta lembaga-lembaga kreatif bentukan Lekra.
• Rapat Pleno I di Solo (28 Januari 1959) menyusun kepengurusan pimpinan pusat Lekra dan pengurus Sekretaris Pusat.
• Rapat Pleno II di Jakarta (31 Agustus 1960) menegaskan garis perjuangan Lekra sesuai dengan Mukadimah, Laporan Umum. Konkritnya menghentikan dukungan terhadap BMKN (Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional) yang sudah tidak sesuai dengan garis perjuangan Lekra. Lekra harus segera melaksanakan pekerjaan kebudayaan dari tingkat taman kanak-kanak dan sekolah rakyat. Selain itu kegiatan seni di lingkungan sekolah dan kampung-kampung harus terus digalakan.
• Konfrensi Nasional I di Bali (25 - 27 Febuari 1962) menghasilkan pemboikotan kebudayaan sempalan Amerika Serikat: film, musik, dll. Menolak pembuatan, penimbunan serta pemakaian tenaga nuklir. Pada konferensi ini Lekra mengevaluasi hasil dari Kongres I: hari Seni Krida di sekolah-sekolah, penerjemahan sastra dari bahasa Indonesia ke bahasa asing, dari bahasa asing ke bahasa daerah telah dilaksanakan. Gedung-gedung pemerintahan telah dihiasi dengan karya-karya lukis kerakyatan.
• Konferensi Nasional II di Jakarta (24 - 25 Agustus 1964) menghasilkan dukungan pada gerakan politik yang berlawan dan menyepak imperialisme, baik dari Amerika Serikat, Inggirs mau pun India di kawasan Asia terutama Asia Tenggara. Langkah konkrit dengan memboikot film-film Amerika Serikat dengan membentuk PABFIAS.

F. Zaman baru; Tabloid Bulanan Seni dan Sastra Lekra
Zaman baru adalah tabloid sastra resmi lekra. Isi dari zaman baru beragam soal kebudayaan. Zaman baru merupakan senjata bagi Lekra untuk penyadaran rakyat. Mereka yang terlibat dalam Zaman Baru adalah para pentolan kebudayaan. Sebut saja Basuki Resbowo, Rivai Apin, Agam Wispi, Rukiah Kertapati, Banda Harahap, Hendra Gunawan, dan masih banyak lagi.

Berikut hasil bedah buku Lekra Tak Membakar Buku pada Bab I, Mukadimah. Diskusi bedah buku ini diadakan oleh Bingkai Merah, Organisasi Media Rakyat, yang secara rutin mengadakan diskusi-diskusi sederhana dan terbatas.

Minggu depan, 8 Januari 2009, pukul 16.00 WIB, diskusi bedah buku mandiri ini akan dilanjutkan pada Bab II. Di dalam setiap pembedahan diselingi deklamasi puisi-puisi dan pembacaan prosa karya seniman-seniman Lekra.

Salam Pembebasan!

www.bingkaimerah-indonesia.blogspot.com


Baca selengkapnya

21 Oktober 2009

Kabinet Baru, Kemiskinan, dan Reformasi Agraria

Oleh : Usep Setiawan

Pelantikan Susilo Bam­bang Yudho­yono (SBY) sebagai Pre­siden RI, hari ini, untuk periode ke­dua dan pembentukan kabinet baru yang akan bekerja untuk lima tahun ke depan, berlangsung dalam kondisi bangsa yang belum cukup menggembirakan.


Salah satu masalah yang belum juga teratasi adalah kemiskinan. Kemiskinan yang mendera bangsa masih saja jadi kenyataan pahit tak berkesudahan. Sementara penguasa politik, di atas singgasananya baru pandai menebar janji yang tak kunjung terlunasi. Su­dah banyak kajian ilmiah, pra­karsa masyarakat dan tak se­dikit program pemerintah yang di­klaim guna mengatasi ke­mis­kinan, tapi angka kemiskinan tetap saja tinggi dan tak me­nyentuh akar penyebabnya.

Dalam paparan visi dan mi­sinya, SBY bertekad untuk me­lanjutkan keberhasilan pemba­ngunan Indonesia seperti yang telah dilaksanakan dalam periode lima tahun yang lalu, me­neruskan yang sudah baik dan melakukan perubahan yang diperlukan untuk hal-hal yang belum berhasil dilaksanakan. Tentunya untuk mencapai hasil yang lebih baik lagi untuk memajukan bangsa dan negara dan memberikan kesejahteraan bagi segenap rakyat Indonesia. Program Pembangunan yang di­laksanakan adalah pemba­ngu­nan yang inklusif serta ber­keadilan (www.presidenku.com).

Salah satu fokus utama yang dijanjikan SBY dalam lima tahun ke depan adalah menurunkan angka kemiskinan. Menurut BPS (2009), penduduk miskin di Indonesia telah turun sebesar 2,43 juta jiwa. Meski begitu, jumlah penduduk miskin masih sangat besar, yakni 32,5 juta jiwa atau 14,2 persen dari jumlah penduduk. Angka tersebut menan­da­kan bahwa selama ini pe­me­rintah gagal mengenali siapa kaum miskin itu sesungguhnya.

Bantuan Langsung Tanah

Sampai sekarang, sebagian besar orang miskin bertempat tinggal di perdesaan dan mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh tani. Dari total 28 juta rumah tangga petani (RTP) yang ada di Indonesia, terdapat 6,1 juta RTP di Pulau Jawa yang tidak memiliki lahan sa­ma sekali dan 5 juta RTP tak ber­­tanah di luar Jawa. Se­dang­kan bagi mereka yang memilikinya, rata-rata pemilikan lahannya hanya 0,36 hektare. Jadi, dengan kata lain, saat ini terdapat sekitar 32 juta jiwa petani Indonesia adalah buruh tani, dan 90 juta jiwa adalah petani subsisten (Bonnie Setia­wan: 2009). Mereka belum pernah menikmati program nyata yang tepat dari pemerintah untuk menyelesaikan problem utama berupa ketiadaan lahan.

Awal 2007, SBY menjanjikan redistribusi lahan seluas 8,1 juta hektare kepada rakyat miskin. Program ini oleh Badan Pertanahan Nasional RI kemudian diperkenalkan sebagai Pro­gram Pembaruan Agraria Na­sional (PPAN). Sampai seka­rang, program ini masih jalan di tempat dan seolah kalah pa­mor dengan program BLT, KUR dan PNPM dan sebagai­nya (Iwan Nurdin, 2009). Padahal, bukan BLT dalam bentuk uang tunai yang paling dibutuhkan rakyat miskin itu, melainkan BLT dalam arti “ban­tuan langsung tanah” se­bagai matriks dasar kehidupan manusia dalam mencapai kesejahteraan hidupnya secara paripurna. Di negeri agraris, menyediakan tanah bagi rakyat miskin itu jalan keluar utama dari realitas kemiskinan.

Jika negara ini hendak me­ngentaskan kemiskinan di per­desaan, maka mau tidak mau rakyat miskin harus diberikan aset tanah. Selanjutnya, tentu saja harus diikuti dengan pe­ning­katan akses terhadap mo­dal, teknologi, dan pasar. Da­lam kerangka inilah penting­nya menjalankan reformasi ag­raria sebagai jalan keluar un­tuk mengatasi persoalan struk­tu­ral yang dihadapi oleh petani.

Melunasi Utang

Ada beberapa penyebab utama mengapa PPAN tak se­gera terlaksana. Pertama, program ini disandarkan pada BPN, sebuah lembaga pemerintah nondepartemen yang ku­rang kuat untuk menjalankan agenda besar ini. Kedua, telah ter­jadi ego sektoral antar-de­partemen yang mengelola sumber daya alam sehingga hambatan birokrasi menjadi dominan. Ketiga, belum tersedianya payung hukum untuk menjalankan program yang lintas sektoral tersebut. Keempat, lemahnya dukungan organisasi masyarakat sipil akibat proses PPAN yang cenderung tertutup bagi proses partisipasi dan kritik masyarakat (KPA, 2009).
Ini menandakan dua hal yang saling berkelindan, yakni tak cukup kuatnya komitmen Presiden SBY terhadap program yang telah diucapkannya, dan lemahnya Kabinet Indo­nesia Bersatu dalam menerje­mah­kan agenda reformasi ag­raria ke dalam langkah aksi dan implementasi di masing-ma­sing sektor/bidang. Khusus ter­kait peran para menteri di ka­binet sebagai pembantu pre­siden, tentu saja perlu dipilih orang-orang yang satu garis ko­mitmen, pemikiran dan praktik dengan presiden untuk menjalankan reformasi agraria. Ketidakpahaman atau ketidak­ma­uan satu atau sejumlah menteri untuk merealisasikan reformasi agraria hendaknya tak terjadi lagi pada kabinet baru yang dibentuk SBY untuk lima tahun ke depan.

Beberapa langkah utama mestinya dilakukan. Presiden SBY memimpin langsung program ini dan segera menge­luar­kan UU atau PP pelaksanaan pembaruan agraria yang dijanjikan. Presiden juga membentuk lembaga adhoc pelaksana pem­baruan agraria. Komposisi kabinet yang mengelola sumber kekayaan alam, pertanian, kehutanan, kelautan, perkebunan dan pertanahan harus satu visi dalam memberantas ke­miskinan struktural melalui realisasi pembaruan agraria.

Di tengah puluhan juta rak­yat miskin, tak elok jika peme­rintahan SBY Jilid II masih saja ragu dan menyia-nyiakan po­tensi berupa jutaan hektare ta­nah objek landreform, tanah te­lantar, lahan hutan produksi kon­­­versi dan tanah kategori lain­­­nya yang layak dinikmati rak­­yat jelata. Pemerintahan SBY-Boediono punya kesempa­tan emas untuk melunasi utang ba­gi rakyat miskin yang me­mi­lih­nya dengan jalan me­lan­jut­kan program pembaruan ag­ra­ria nasional—tentu saja de­ngan perbaikan arah, konsep dan ke­bijakannya. Untuk men­ja­dikan reformasi agraria bergerak dari wacana ke dalam prak­tik, dari persiapan menuju pelaksanaan.

Hendaknya, pembaruan ag­raria yang akan dilaksanakan menempatkan kaum miskin sebagai subjek utama yang terlibat secara aktif dan menerima manfaat dari program ini. Pra­syaratnya, tentu saja semua menteri di kabinet baru yang di­bentuk SBY dan seluruh ja­jaran pemerintahan pusat hing­­ga daerah juga mesti sepe­nuhnya mendukung pelaksa­naan reformasi agraria sejati, de­mi rakyat miskin.
Baca selengkapnya

2 Oktober 2009

Jakarta Ibarat Penderita Obesitas

Oleh : Caesar Alexey

Sepasang muda-mudi bercanda sambil joging mengelilingi Taman Suropati di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat. Suasana sejuk di bawah naungan pohon-pohon yang lebat dan kepakan sayap burung-burung dara menambah seru percakapan mereka.


”Kami harus menempuh perjalanan 20 kilometer dari Tanjung Priok, Jakarta Utara, untuk dapat menikmati taman ini. Susah menemukan taman yang teduh seperti ini,” kata Fadli, pemuda yang sedang joging itu, sambil mendekat di air mancur di tengah taman, Selasa (22/9).

Ketersediaan taman-taman publik dan ruang terbuka hijau lainnya memang menjadi salah satu masalah tata ruang Jakarta. Ibu kota negara yang memiliki luas 650 kilometer persegi itu hanya memiliki 9,9 persen ruang terbuka hijau (RTH) publik. Padahal, RTH publik sangat diperlukan untuk berbagai keperluan masyarakat kota.

Pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, mengatakan, RTH publik setidaknya memiliki tiga fungsi dasar bagi kota, yaitu untuk paru-paru kota, penyerap air hujan dan pencegah banjir, serta sarana rekreasi dan interaksi warga kota. Dengan luas tidak sampai 65 kilometer persegi, RTH publik Jakarta dapat dikatakan gagal untuk menjalankan ketiga fungsi itu secara optimal.

Kegagalan RTH publik Jakarta menjalankan fungsi utamanya terjadi sejak awal 1990-an. Saat itu, rencana umum tata ruang kota mengamanatkan luas RTH publik adalah 25 persen dari luas wilayah Jakarta.

Namun, pembangunan fisik yang masih masif pada awal sampai pertengahan tahun 1990-an menyebabkan terjadinya proses alih fungsi lahan, dari lahan konservasi menjadi lahan terbangun. Bahkan, Rencana Tata Ruang Wilayah 2000-2010 merevisi target RTH publik menjadi 13,9 persen saja.

Meskipun target luas RTH publik sudah dikurangi, pemprov masih saja menyatakan kesulitan untuk memenuhinya. Hal itu terjadi karena alih fungsi lahan terus berlanjut pada awal tahun 2000-an sampai 2007.

Iwan Ismaun, dosen Arsitektur Lanskap Universitas Trisakti, mengatakan, pada 2015, kemacetan lalu lintas dan berbagai aktivitas domestik dan komersial di Jakarta menyebabkan timbulnya polusi karbon dioksida sebanyak 38.322,46 ton per hari.

Untuk menetralisir pencemaran itu, Jakarta membutuhkan RTH seluas 32,04 persen atau RTH publik Jakarta saat ini hanya mampu menyerap kurang dari sepertiganya.

Kondisi itu menyebabkan banyak warga Jakarta mengalami penyakit akibat gangguan pernapasan. Menurut perhitungan Bank Dunia pada 2007, kerugian warga Jakarta karena penyakit itu mencapai Rp 1,8 triliun. Semakin parah kemacetan, semakin besar kerugian masyarakat akibat pencemaran yang menyebabkan penyakit pernapasan.

Angka kerugian ini melonjak jauh mengingat catatan Bank dunia pada tahun 1994 mengatakan, kerugian ekonomi yang harus dipikul masyarakat Jakarta akibat polusi udara sebesar Rp 500 miliar.

Di sisi lain, minimnya luas RTH menyebabkan air hujan tidak mudah terserap ke tanah. Kondisi itu diperburuk dengan banyaknya RTH privat yang diperkeras dan bukan ditanami.

Pada 2007, hujan deras yang terus-menerus dan kiriman air dari daerah hulu menyebabkan Jakarta terendam banjir. Berdasarkan perhitungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, kerugian akibat banjir 2007 mencapai Rp 7 triliun.

Jika kerugian akibat banjir dan gangguan pernapasan warga digabung, jumlahnya mencapai sekitar Rp 8,8 triliun atau lebih dari sepertiga dari APBD 2009 yang mencapai Rp 23,9 triliun.

Obesitas

Sementara itu, Firdaus Cahyadi, Knowledge Sharing Officer dari Satu Dunia, mengatakan, selama ini Tata Ruang DKI Jakarta sudah direduksi menjadi soal teknis dan ekonomi semata. Sementara soal psikologi masyarakat tidak dipertimbangkan. Makanya, RTH tidak menjadi titik penting dalam tata ruang itu.

Firdaus mengibaratkan Jakarta seperti orang yang menderita obesitas. Fungsi Jakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, selain fungsi sebagai pusat pemerintahan, membuat Jakarta menjadi magnet bagi banyak orang. Jakarta menjadi terlalu gemuk.

Namun, langkah yang diambil pemerintah saat ini bukan mengobati, tetapi mencari jalan pintas. ”Orang obesitas itu obatnya diet. Bukan mencari baju yang ukurannya lebih besar agar muat,” kata Firdaus.

Dia mencontohkan, kurangnya lahan di Jakarta diatasi pemerintah dengan reklamasi. Kemacetan diatasi dengan membuat jalan tol. Padahal, keberadaan jalan tol mendorong orang untuk menggunakan kendaraan pribadi lebih banyak lagi.

Firdaus berpendapat, kondisi Jakarta akan lebih baik jika dipisah antara fungsi pemerintah dan fungsi bisnis. ”Contohnya sudah ada, misalnya pemindahan Kampus Universitas Indonesia ke Depok dan Bandara Kemayoran ke Cengkareng. Bayangkan kemacetan di Jakarta jika keduanya tetap di Jakarta,” kata Firdaus.

Pemindahan seperti ini bisa dilakukan pada kawasan komersial. Kawasan komersial ini bisa dipindahkan ke luar Jakarta. Dengan pemindahan ini, Jakarta akan bisa memenuhi kebutuhan akan RTH.

Tantangan baru

Kondisi itu merupakan tantangan baru bagi Pemprov DKI Jakarta yang saat ini sedang menyusun RTRW 2010-2030. Keseimbangan ekologis antara kawasan terbangun dan kawasan konservasi harus menjadi fokus utama.

Pola pembangunan fisik yang selalu menggunakan lahan yang luas harus ditinggalkan. Harus lebih banyak ruang terbuka hijau yang dibuka agar masyarakat Jakarta lebih sehat dan kerugian sosial ekonomi akibat rusaknya alam dapat ditekan.

”Tidak ada gunanya membangun secara ekstensif dan mendapatkan banyak pemasukan dari pajak jika kerugian akibat kerusakan lingkungan nilainya lebih besar. RTRW 2010-2030 harus mampu menciptakan keseimbangan agar kerugian akibat kerusakan lingkungan dapat dikurangi dan pemasukan dari pajak kawasan terbangun tetap mengalir,” kata Selamet Daroyni, Direktur Institut Hijau Indonesia.

Keseimbangan yang dimaksud adalah menambah luas RTH publik di Jakarta. Penambahan RTH publik sampai 20 persen juga diamanatkan dalam Undang-Undang Tata Ruang.

Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Ery Basworo DKI Jakarta mengatakan, jika penambahan RTH publik harus dilakukan dengan pembelian lahan milik masyarakat, pemenuhan target 20 persen sesuai UU Tata Ruang mustahil direalisasikan. Selain harga lahan yang mahal, APBD DKI Jakarta juga tidak memiliki cukup dana untuk membelinya.

Firdaus mengakui persoalan tata ruang Jakarta sudah sangat parah dan sulit menentukan dari mana harus dimulai untuk perbaikan. Namun, dia mengingatkan, cara apa pun yang ditempuh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak akan berhasil tanpa dukungan dari pemerintah pusat.

Hingga saat ini pemerintah pusat masih menetapkan Jakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Selama Jakarta masih menyandang kota ekonomi, sulit bagi Jakarta untuk berbenah.

Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang Ahmad Hariyadi mengatakan, pihaknya sedang merumuskan strategi penambahan RTH publik dalam RTRW 2010-2030. Strategi utamanya adalah konsolidasi lahan di sekitar jalur transportasi.

Aktivitas-aktivitas di lahan terbangun akan disatukan dalam bangunan-bangunan vertikal bertingkat sehingga ada sisa lahan yang dapat digunakan sebagai RTH publik.

”Semoga strategi ini dapat diwujudkan sehingga target luas RTH publik dapat tercapai pada 2020,” kata Hariyadi.


Baca selengkapnya

 

© Bingkai Merah, Organisasi Media Rakyat: "Mengorganisir Massa Melalui Informasi". Email: bingkaimerah@yahoo.co.id