Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

19 Mei 2011

Untuk Apa Menulis Puisi

Nurani Soyomukti

Untuk apa kau tulis puisi
Bila kau biarkan saja korupsi
Demonstrasi dituduh anarki
Korupsi dianggap manusiawi
Penegak hukum hanya basa-basi
Sayangnya, para penyair hanya masturbasi!

Banyak kata-kata tanpa aksi hanyalah onani
Untuk apa kau tulis puisi
Bila penindasan kau amini
Bila penjahat HAM kau ampuni!
Seni hanya untuk seni, adalah kejahatan tersendiri!

Untuk apa kau tulis sajak
Bila calo-calo berjingkrak
Para koruptor tidur nyenyak
Para ”Gayus” bersorak
Sementara orang miskin dadanya sesak
Tak berani berteriak
Mereka dibentuk jadi jinak
Dengan tayangan TV yang meninggikan mimpi sejenak
Ditekan kebutuhan sekolah anak-anak
Harga-harga yang menanjak
Jadi untuk apa kau tulis sajak,
Bila para penyair dan orang miskin kian berjarak!
Menulis adalah berpihak!

Untuk apa kau tulis kata-kata
Bila penindasan dan penipuan semakin jaya
Sedang kebenaran dihina
Pejabat makan uang negara
Dan para penyair asyik berzina dengan dunia khayalnya

Untuk apa kau tulis puisi
Bila kau tak mau turun aksi
Seakan pikiranmu seksi
Pada hal dunia tidak berubah dengan kata-kata puisi
Puisi untuk sensasi atau mencari harga diri?
Mencari popularitas dan ingin dipuji
Mengangkat keindahan terlalu tinggi
Melupakan masalah-masalah bumi
Untuk apa kau tulis puisi
Jika setumpuk kertas mudah terbakar api
Hanya aksi yang bisa merubah negeri!

Menulislah puisi yang bisa meyembuhkan
Luka-luka kemanusiaan akibat penindasan
Membongkar tipu-tipu kaum bangsawan
Menguak topeng kepalsuan
Mengabarkan kenyataan
Yang disembunyikan para agamawan
Surga yang memabukkan
Neraka yang menakutkan
Janji surga membuat masalah dunia dibiarkan
Ketakutan neraka membuat yang marah takut melawan
Karena marah disamakan setan
Dan diam dianggap beriman!
Untuk apa jadi seniman dan sastrawan,
Jika penindasan dan kepalsuan dibiarkan!

Tugasmu bukan cuma menulis
Sebab menulis itu mencuri kata-kata berbaris
Dicuri dari kenyataan yang berisi tawa dan tangis
Tugasmu adalah menulis dan berbaris
Berkumpul didepan gedung majelis
Tempat persekutuan para iblis
Yang menyusun kebijakan-kebijakan najis!

Tulislah yang benar dan pilihlah kata yang tepat
Berbuatlah yang benar dan bergerak dengan penuh semangat
Berkumpullah dengan rakyat
Perbanyaklah rapat-rapat
Bicarakan perubahan dan susunlah strategi yang tepat
Angkatlah dalam puisi kisah-kisah perjuangan rakyat
Tokoh utamanya adalah rakyat
Antagonisnya para koruptor dan penindas laknat!

Berjuanglah bersama pena
Tapi jangan sampai terlena
Bangun gerakan bersama
Menulis untuk mengangkat yang nyata
Menulis dan bergerak untuk tatanan sejahtera dan setara!
Maka tulisanmu sedalam samudera!
Puisimu penuh dengan cakrawala...
Dan kau menjadi penyair sekaligus pembela!
Baca selengkapnya

27 April 2011

Hukuman Seumur Hidup Artinya Hukuman Mati

Oleh Heru Atmodjo

[Kesaksian di bawah ini dituliskan langsung oleh Heru Atmodjo, mantan Perwira Intelejen AURI, saksi peristiwa 1 Oktober 1965, pada awal tahun 2008 untuk dipublikasikan di Soeara Kita, buletin bulanan korban 1965 YPKP 65, Maret 2008. Publikasi ulang tulisan ini untuk mengenang Alm. Heru Atmodjo sekaligus sebagai bacaan ringan pengungkapan kebenaran]

Palu Ketua Hakim Mahkamah Militer Luar Biasa, Mahmilub, di Jakarta telah diketok. Putusan seumur hidup ditimpakan kepadaku. Namun, aku tak terpengaruh keputusan itu yang sudah diprediksi sebelumnya. Mahmilub, yang kekuasaannya di tangan Mayjen Suharto, sebelum bersidang telah mengantongi dua putusan: Mati atau Seumur Hidup. Hanya dua putusan itu.

Bahkan, ketika seorang Letnan Satu, bernama Ngadimu dalam pemeriksaannya selalu berterus-terang membuka apa adanya, bahwa ia sebenarnya sebelum berangkat ke Jakarta telah melapor kepada Pangdam (Panglima Kodam) Jawa Timur dan di pengadilan ia mengaku seperti apa yang dilakukan, dituntut jaksanya putusan seumur hidup, tapi putusan pengadilan menjatuhkan hukuman mati.

Sejak Ngadimu meninggalkan rumah sampai hendak dieksekusi, ia sama sekali tak boleh ditengok oleh keluarganya. Ia boleh bertemu keluarganya untuk yang pertama dan penghabisan kalinya hanya sehari sebelum ditembak mati. Tentu, saat isteri dan anak-anaknya bertemu dan boleh makan bersama-sama terakhir kalinya, jerit isak tangis mereka tidak dapat dibendung. Karena itu, aku sebagai perwira jauh lebih senior dari Ngadimo, dapat menduga apa yang akan terjadi. Tidak kaget sama sekali.

Hanya isteriku yang menunggu di luar sidang dapat mendengar putusan itu dibacakan. Setelah diucapkan keputusan “Seumur Hidup”, ia jatuh tidak sadarkan diri. Kemudian di pangkuan kakaknya, suaranya keluar, “salah apa Mas Heru?”

Kakaknya melerai dengan suara lembut, “Tidak perlu kamu kehilangan iman, kuatkan imanmu, kita anak-anak keturunan pahlawan besar, Ki Ageng Basyariah (Pengikut Diponegoro), tidak pernah mengeluh atas siksa dan kedaliman musuh-mush kita. Tegar, tegarlah, becik ketitik ala ketara (akhirnya yang baik yang menang, yang jahat orang akan tahu),” nasihatnya.

Tiga hari kemudian. Di pagi hari. Petugas penjara Rumah Tahanan Militer Budi Utamo, memanggil namaku, “Pak Heru, supaya siap berangkat”, katanya.

Aku jawab, “Baik, tunggu sebentar. Saya perlu berbenah barang pakaian”.

Sebuah panser, motor lapis baja, telah standby. Aku masuk ke dalamnya dengan tanganku diborgol bersama dua orang lain, Sujono dan Gatot. Keduanya perwira AURI yang sudah divonis juga.

Aku tidak tahu mau dibawa ke mana. Panser berhenti setelah berbelok ke kanan dan kiri tanpa aku tahu mau ke mana. Pengawal memberi perintah keluar. Mataku dapat melihat. Oh, itu lapangan terbang Kemayoran. Sebuah helikopter militer buatan Rusia, MI-4, berwarna hijau tanah, siap membawaku. Aku masuk, dan duduk di tempat yang disediakan.

Penerbangnya menyalakan mesin. Baling-baling mulai berputar. Sebagai penerbang bagiku itu bukan hal yang aneh. Aku tahu ke mana arah penerbangan itu menuju. Jelas tujuannya ke arah Bandung. Yang aku lihat dari dalam pesawat, di sebelah timur, Gunung Burangrang tampak awan putih. Di barat, di atas Cimahi agak tertutup gelap.


Penerbang yang tidak berpengalaman memilih celah timur. Aku pikir, kalau itu yang dipilih, ia akan gagal. Kalau dipaksakan, bahaya. Benar, setelah mendekat Tangkubanprahu, pesawat mau masuk awan. Ini yang bahaya. Tapi penerbangnya segera berbalik ke utara lagi. Selamat. Kalau terus, pesawat akan menabrak gunung. Rupanya, setelah itu ia melihat di atas Cimahi ada lubang. Helikopter ini mengarah ke arah sana. Sekarang aku tahu, tujuannya Cimahi. Ia mendarat di Cimahi dengan mulus.

Pengawalan ketat telah siap. Aku dengar salah satu dari mereka tanya, “mana Pak Oemar Dani?”

Dijawab oleh pengawal dari Jakarta, “tidak, tidak jadi, tetap di Jakarta.”

Aku dan dua orang temanku dibawa ke Rumah Tahanan Militer Cimahi melalui pintu gerbang, pintu blok, dan kita turun. Gerbang blok dibuka. Masuk pintu Blok Sel Khusus. Kunci dibuka, masuk ke bangunan kuno yang bentuknya seperti gudang. Kunci gedung dibuka, kita masuk. Ruangan sel penuh dengan terali besi kokoh di depan dan atasnya. Di ujung barat ada empat sel khusus dari tembok. Pintu kayu, grendelnya dilindungi oleh terali-terali pengaman.

Pintu dibuka, borgolku dibuka. Aku masuk. Ada sebuah dipan tempat tidur. Ukuran dipan untuk satu orang dengan lebar 70 cm, panjang 190 cm, tingginya 50 cm. Sel itu tidak ada jendelanya, hanya ventilasi udara enam buah lubang, 10 x 10 cm. Panjangnya 2 m. Lebarnya 1,20 m. Tingginya 2 m. Di bawah ujung kaki ada lubang untuk buang air kecil atau besar. Di bawah terlihat bahwa itu selokan untuk membersihkan kotoran. Di situlah aku ditempatkan.

Pasukan yang menjaga baru saja diganti. Yang lama adalah perjurit CPM Jawa Barat. Mereka diganti dengan peleton baru dari Manado. Mereka ini prajurit-prajurit CPM baru dengan pangkat Prajurit II (Prada). Mereka khusus direkrut untuk menjaga tahanan khusus RTM Cimahi. Mereka sulit diajak bicara. Rupanya sudah dapat instruksi khusus dan dicuci otak, menjaga “orang sangat berbahaya yang dihukum mati, menunggu eksekusi”.

Tahanan khusus ini hanya boleh keluar 1 jam dalam satu hari. Prakteknya hanya 55 menit, karena 5 menit untuk membuka dan menutup pintu sel. Udara di Cimahi dingin, lebih-lebih di malam hari. Dinginnya merasuk ke dalam tulang. Kepala harus diikat dengan handuk atau sarung supaya tidak terlalu dingin. Kaki harus pakai kaos. Badan harus pakai jaket, kalau punya. Lampu sel hanya lima wat, kalau malam dimatikan. Gelap, dingin, dan udara tidak sehat.

Akhirnya, aku dapat keterangan bahwa penjara ini dulu dibuat oleh militer Belanda untuk menghukum prajurit yang membuat kesalahan berat atas hukuman militer yang diterimanya, seperti berkelahi, mau melarikan diri, dsb. Mereka ditempatkan di sel itu paling lama 12 hari. Tapi bagiku, satu tahun lamanya.

Aku sempat menanyakan penghuni-penghuni di dalam sel itu saat dapat giliran keluar. Aku tahu bahwa di situ ada Dr. Subandrio, Perdana Menterinya Bung Karno, Brigjen Supardjo, Panglima Komando Tempur di Kalimantan, Letkol Untung, Letnan Satu Ngadimo, dan Nyono, anggota Politbiro CC PKI.

Aku bilang, ini luar biasa kejamnya. Kalau begini terus akibatnya akan fatal. Bagaimana supaya survive. Nyono bilang, sangat tergantung pada orang lain dan mereka itu adalah penjaga, prajurit-prajurit yang menjaga kita. Kalau mereka dibuat sadar, bahwa kita bukan kriminal, mereka akan berubah. Jendral Pardjo perlu diberi tugas menyadarkan prajurit itu.

Jendral Pardjo sanggup. Ia pun mengajak bicara mereka yang bringas itu. “Dik, dari mana asalnya?”

“Saya dari Sangir Talaut, Pak,” jawab seorang di antara mereka.

“Namanya?”

Saya, Karim, Pak.”

“Bapak, sebenarnya siapa?”.

“Saya Supardjo. Saya juga prajurit, seperti adik. Saya punya prajurit, sekarang di Kalimantan Barat. Berhadapan dengan serdadu Inggris. Mereka yang bikin kita ini susah. Kita diadu domba supaya saling berkelahi antara kita. Akhirnya, mereka yang ambil untung. Itu, bapak-bapak di dalam, pejuang-pejuang sejak 1945, melawan penjajah. Mereka tidak kaya sama dengan kamu”.

“Pak, panggil saja saya, Karim. Kami ingin tahu, karena keterangan yang saya terima dari atasan tidak cocok dengan keadaan. Katanya bapak-bapak itu orang berbahaya. Tentu kami siap melawan dan siap berkelahi kalau bapak-bapak itu orang jahat,” tanggap Karim.

“Karim”, kata Supardjo, “aku seorang Jendral, aku tidak kaya, aku bukan koruptor. Banyak jendral korup, dan akhirnya yang susah kamu semua. Rakyat juga susah. Ini tak boleh berlanjut. Aku tahu kamu datang dari Sangir Talaut. Pulau itu indah, lautnya bagus, dan orangnya peramah. Tidak salah, kalau yang pertama buka mulut adalah Karim”.

“Ya, pak, saya anak pelaut, kalau nyelam di air bisa lama, setengah jam, ada yang bisa satu jam, biasa bagi orang kita”.

Ketika pembicaraan dapat dibuka, Jendral Pardjo memberi tahu kita, bahwa kita yakin pasti mereka bisa diubah. Dan benar, tidak sampai seminggu keadaan sudah lain. Karim saling cerita kepada teman-temannya bahwa di situ orang-orang penting. Kasihan jika mereka disiksa seperti itu. Mereka bisa mampus, kedinginan, bisa gila.

Dari satu peleton, 36 orang, sebagian besar berbalik, kecuali beberapa orang saja yang tidak mau bicara. Kini suasana berbalik. Tahanan bebas tidak dikunci, sebaliknya kalau datang inspeksi dari atasannya, kita disuruh masuk duluan, masuk dalam sel. Ini bisa karena untuk masuk blok kita sedikitnya harus melalui enam pintu, sedikitnya tiga pintu yang harus dikunci, sehingga ada waktu kita masuk ke dalam sel duluan. Inilah yang menyebabkan kita bisa hidup, tidak mati atau sakit.

Kami sama sekali tidak pernah kasih uang kepada mereka. Sogok, tabu bagi kami. Aku bisa hidup karena perajurit CPM berjasa membalik keadaan, yang mematikan menjadi menghidupkan.

Tulisan terkait:
Baca selengkapnya

20 Desember 2010

Dari Warteg Emak yang Melegenda

Oleh Kharisma Wibawa*

Sudah lama masa SMP dulu. Bangunannya tampak lebih kecil dibanding saat terakhir kali saya makan di situ. Yang masih sama hanya jenis makanannya saja – sayur tahu, sambel goreng ati dan kerang ijo, telor cabe, ayam kecap, tumis kangkung, capcay, dan goreng-gorengan seperti tahu, tempe, dan bakwan. Sama dengan suasana pinggir Jalan Kayu Jati, Rawamangun Jakarta Timur. Terkenal dengan “Perempatan lampu merah Sunan Giri”. Masih sepenat dulu. Lalu lalang kendaraan roda dua-empat, angkutan umum, dan tak ketinggalan para pejalan kaki.

Mbak Ade, tak mengenali wajah saya. Bisa dimengerti. Setelah ia yang memegang kendali usaha itu, banyak pelanggan lama sudah tak makan di situ mungkin karena telah banyak menjamur warung-warung makan lain di sekitarnya. Saya termasuk pelanggan lamanya.

“Kalo aku lebih akrab sama pelanggang-pelanggan setelah ibu saya aja, mas, kesana-sananya nggak pernah kenal. Paling baru mas aja, kali,” singgungnya sambil menyuguhkan kopi yang saya pesan.

“Warteg ini emang usaha turun menurun keluarga saya. Rencananya kalo saya udah cape, bakal saya alihin ke ponakan ato anak-anak saya,” lanjutnya.

Nama Warteg Emak diambil dari panggilan akrab para pelanggan kepada sang pemilik warteg, “Emak”. Tidak lain adalah mendiang ibu dari Mbak Ade. Dulu, banyak pelanggan berdatangan dari kalangan pelajar, para pekerja pasar Inpres yang lokasinya memang tidak jauh dari situ, dan warga sekitar.

Walau pun ada beberapa warteg lainnya, saya dan teman-teman lebih tertarik ke Warteg Emak. Mungkin, karena banyak dari teman-teman saya yang sebelumnya juga suka nongkrong di sana. Tak ada yang lebih berharga bagi saya ketika duduk di atas bangku panjang, menikmati santapan yang tersedia, menyeruput kopi hangat sambil mengunyah gorengan, dan bersenda gurau bersama rekan-rekan pada waktu itu.

Tidak lupa dengan cerita-cerita nakal masa SMP yang pernah tercatat di sana. Mulai dari bolos, nongkrong berjam-jam ketika waktu istirahat sekolah, dan bersembunyi dari pelajar lain saat terlibat tawuran. Semuanya terasa begitu hangat, sehangat makanan yang tersaji di atas meja pelanggan.

Sejenak saya menahan pembicaraan dan melanjutkannya kembali dengan pertanyaan.

“Emangnya apa yang spesial dari usaha ini, mbak?” tanya saya.

“Ya, udah pasti spesial, kan warteg ini satu-satunya usaha yang dijalanin keluarga saya”.

“Dari Warteg ini, ibu saya dan saya sendiri bisa bertahan menuhin kebutuhan-kebutuhan hidup keluarga. Bayaran sekolah sama uang jajan anak, bayar listrik, trus biaya makan hari-hari, belum lagi kalo ada keluarga saya yang sakit, kan semuanya butuh biaya,” jawabnya.

Beban kesulitan hidup sempat tersemat, khususnya setelah suami dari Mbak Ade meninggal dunia. Ia dan lima orang anak yang masih ditanggungnya, melalui hari-hari berat dalam bayang-bayang kesulitan ekonomi. Saat itu, empat anak lainnya masih duduk di bangku sekolah. Yang pertama di Kelas 3 STM, kedua kelas 1 SMA, dan dua lainnya di Kelas 1 SMP dan 3 SD. Beruntung, putri ketiganya termasuk siswi yang berprestasi, sehingga bantuan beasiswa bisa sedikit meringankan beban biaya sekolah yang diemban Mbak Ade.

“Sejak Kelas 4 SD sampe lulus SMP, semua biaya ditanggung dari beasiswa”.

“Ya, syukurlah anak saya yang cewe lumayan pinter, jadi biaya sekolah sampe sekarang dia kelas 3 SMA juga ditanggung beasiswa,” ujarnya.

Berapa pun penghasilan yang didapat dari berdagang warteg, sedikitnya dikumpulkan untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan yang belum terpenuhi. Sisanya, atau bagian terbesar dari penghasilan yang didapat selama 25 jam berdagang, digunakannya untuk modal kebutuhan warteg.

Kini, tersisa dua anak yang masih bersekolah. Biaya mereka sebulan memakan lebih dari 100 ribu rupiah. Meski pun anak-anaknya terbantu beasiswa, tetap saja ada biaya LKS, buku pelajaran, dan biaya lainnya yang jumlahnya terlalu banyak. Wacana pendidikan gratis yang dikobarkan oleh pemerintah sesungguhnya omong kosong.

Keadaan saat ini tak sesulit beberapa tahun lalu. Putra pertama dan kedua Mba Ade sudah mempunyai penghasilan sendiri. Namun, ia masih mengkhawatirkan harga bahan pokok yang terus melonjak mahal.

“Jadi, cuma di persoalan harga bahan pokok aja, ya, yang masih dikeluhin sama Mbak Ade?” tanya saya lebih lanjut.

“Lah iya, lah. Coba kalo harga bahan pokok gak mahal, saya gak perlu repot-repot soal duit kaya sekarang ini,” keluhnya sambil melayani pelanggan lain.

“Oh iya, berapa sih penghasilan sehari dari berjualan Warteg?”

“Gak tentu,” jawabnya cepat.

Itulah jawaban yang selalu saya dengar dari para pengusaha kecil macam Mbak Ade. Seolah-olah menggambarkan makin kecilnya ruang keuntungan dari usaha yang telah dijalani keluarganya selama hampir 30 tahun lebih itu.

“Kadang-kadang di atas 500 ribu. Tapi rata-rata gak kurang dari 400 ribu. Dua hari terakhir ini, aku bisa dapet 475 ribu sampe 550 ribu. Itu baru kotor nya, loh. Ya, bersihnya sekitar 100 ribuan per bulan”.

“Tapi masih mending dibanding warung-warung lain. Warteg saya, termasuk yang gak kena pungutan-pungutan liar. Jadi gak ada pengeluaran tambahan.”

“Ceritanya, ada orang dalem yang ditugasin buat narikin duit ke pedagang, trus ntar dia nyetornya ke kecamatan. Mungkin buat duit keamanan kali, biar gak kena razia kaki lima,” jelas perempuan kelahiran Brebes 46 tahun lalu itu.

“Saya gak kepikiran kalo bener diterapin undang-undang soal pajak buat warteg? Pasti jadi makin nyengsarain rakyat. Udah kena pungutan liar, kena gusur, kena pajak juga,” lanjutnya.

Rasanya memang berat. Pajak Pertambahan nilai (PPn) sebesar 10% bagi warteg yang berpenghasilan 60 Juta rupiah per tahun dapat mengancam stabilitas ekonomi kecil dan menengah, seperti Mbak Ade. Pajak yang dibebankan kepada pengusaha warteg seperti dirinya akan berimbas pada kemungkinan naiknya harga yang ditetapkan untuk satu jenis makanan. Belum lagi jika para pelanggan mengeluh karena kenaikan harga. Relasi antara penjual dan pembeli akan teracam goyah.

Setelah saya banyak mengetahui cerita tentang ia dan keluarganya bertahan hidup dengan warteg, saya jadi berpikir. Pajak lebih terkesan sebagai penjajahan baru bagi rakyat. Sedangkan, hasil pajak lebih diperuntukan pada pembangunan yang menguntungkan kelas menangah atas.


*Penulis aktif di Bingkai Merah.

Foto: VHR/Kurniawan.

Baca selengkapnya

26 Oktober 2010

Makna Sumpah Pemuda dari Pojok Kanayakan (II)

Oleh Mirza Ahmadhevicko*

Saat perut kenyang langit terlihat lebih terang. Sambil menunggu Pak Yamin yang sedang mandi saya keluar dan duduk di teras depan. Hujan telah benar-benar reda, hanya semilir angin sejuk yang tersisa. Awan hitam yang tadi menggantung memenuhi sebagian langit Bandung Utara kini telah hilang, mungkin tersapu angin, terbawa entah ke mana.

Anak Pak Yamin menghampiri dan duduk menyebelahi saya. Dia membakar rokok. Setelah menawarkan rokoknya kepada saya kemudian ia letakkan bungkusan rokoknya di atas meja yang ada di sebelah saya. Saya ikut membakar sebatang. Tenggorokan saya gatal saat dipenuhi asap ‘rokok-putih’. Hening sebentar. Kami berdua saling diam sebelum akhirnya dia membuka perbincangan.

“Mahasiswanya Papa ya?”

“Iya A.”

“Jurusan apa?”

“Jurnalistik.”

“Sudah semester berapa?”

“Empatbelas. Hehe….”

Loba teuing ulin nya?” katanya berusaha menerka apakah saya terlalu banyak main-main daripada belajar.

“Iya begitulah A. Sebagian teman seangkatan sudah lulus sejak lama. Sedikit lagilah. Sedang bimbingan Bab V. Semester ini semoga bisa ikut sidang.”

Teu kudu alus-alus teuing. Nu penting mah lulus heula, bisi di-DO,” sarannya kepada saya agar saya cepat lulus dan terhindar dari ancaman drop out.

“Iya A, semoga. Kalau Aa dulu kuliah cepet lulus ya?”

“Tidak cepat tapi tepat waktu, sesuai yang diprogramkan.”

“Dulu kuliah di mana gitu A?”

“Sekolah perfilman di Amerika. Akademi Film New York.”

“Wah, bisa sering ketemu aktris-aktris Hollywood ya; enak kuliah di sana?”

“Ada enaknya, fasilitas bagus. Orang-orang kompeten yang jadi dosen. Tapi ada juga nggak enaknya, jauh dari Indonesia, jauh dari si Teteh. Hahaha….”

“Pasti seru.”

“Iya seru. Apalagi mengingat masa-masa awal tinggal di apartemen. Saat itu musim panas dan saya tidak punya banyak duit untuk menyewa kamar ber-AC, jadi supaya tak terlalu gerah jendela-jendela saya buka –sepanjang hari, sepanjang malam. Suatu hari ada wanita Los Angeles yang datang masuk ke kamar saya hanya dengan mengenakan celana pendek dan kutang; dia datang sekadar minta tolong kepada saya untuk mengendorkan tali kutangnya yang katanya terlalu kencang. Hahaha…dan ternyata itu bukan cuma sekali. Macam-macam saya punya tetangga, edun-lah.”

“Hehehe….”

“Tapi yang paling membekas adalah perasaan terasing. Keadaan di sana sama sekali berbeda dengan lingkungan bermain saya di sini. Kalau kaubaca sastra tentu pernah tahu ‘Seribu Kunang-kunang dari Manhattan’, itu cerpen Umar Kayam. Jiga kitu pisanlah suasana nu urang alami. Kesepian, keterasingan, kesedihan di tengah ingar bingar ibu kota dunia. Kadang saya suka menggerutu: kenapa sekolah jauh-jauh?”

Saya ingin memburunya dengan pertanyaan lain tetapi seorang lelaki, yang mungkin asisten rumah tangga di rumah ini, datang mengantarkan dua cangkir kopi yang kelihatannya panas dan nikmat sehingga membuat saya menahan pertanyaan yang sudah siap di ujung lidah. Saat si Mang Jali, begitulah tadi ia disapa, sibuk menata cangkir kopi dan stoples kudapan, sekaligus membereskan majalah dan koran yang terbuka berserak di meja, saya mendengar suara dan langkah Pak Yamin dari dalam, “Mang, puntenlah urang jieunkeun oge nya….,” katanya meminta kopi.

“Apa jadi itu dosen-dosenmu mau menginap di sini?” Pak Yamin bertanya sambil melangkah ke arah gerbang, memungut sampah pelastik kemasan es krim yang tergeletak di samping pot pohon suplir berdaun lebar. Mungkin Fahmi, cucunya, yang telah membuang sampah sembarangan.

“Jadi. Mungkin Kamis depan mereka sudah sampai di Bandung. Pablo Berger tak jadi ikut. Dari Jambi dia langsung kembali. Ada urusan mendadak sepertinya. Cuma tiga orang yang akan ke sini. David Klein, Harlan Bosmaijan, dan Julia Solomonof –mereka mahaguru di bidang penyutradaraan, editing, dan penulisan naskah. Denger-denger sih mereka mendapat masalah dan harus berhadapan sama preman-preman yang disewa perusahaan sawit di Jambi. Belum jelas detil persoalannya," jawab anaknya.

“Perusahaan sawit memang suka sembarangan bikin land clearing. Seharusnya Dephut cepat tanggap untuk soal-soal seperti itu.”

“Mau bikin film dokumenter ya A?” saya berusaha mengikuti pembicaraan.

“Film advokasi lahan. Masyarakat seringnya dirugikan dalam hal kepemilikan tanah. Selain pembalakan liar, persoalan perkebunan sawit juga penuh dengan kasus-kasus lingkungan yang tak pernah masuk pemberitaan," katanya.

“Gimana mau jadi berita kalau yang punya perusahaan juga sekaligus pemilik tv dan koran-koran. Tahu sendirilah Indonesia,” Pak Yamin membuat pernyataan enigmatik; dan saya memburunya, “Indonesia? Kenapa Pak?” tanya saya tanpa pretensi apa-apa.

“Iya begitu itu. Hahaha…ada cerita lucu. Setahun yang lalu, waktu sedang ramai-ramainya perayaan atas terbentuknya kabinet yang baru, ada seorang ilmuwan bertanya kepada pimpinan kabinet, ‘Kabinet anda sebagian besar diisi oleh tukang polusi yang sekaligus juga membiayai kampanye anda. Tidakkah anda peduli dengan pemanasan global dan nasib jutaan umat manusia?’ tahu apa jawaban orang yang ditanya, ‘Ah, ilmuwan nggak jelas!’ dan saat seorang tokoh agama bertanya, ‘Anda lahir sebagai umat beragama: tidakkah anda kuatir dengan hari pengadilan dan panas api neraka?’Lagi-lagi dengan ringan keluar jawaban, ‘Ah, agamawan nggak jelas!’ Itu contoh kecil betapa orang-orang di atas berusaha menutup mata dari berbagai fenomena nyata. Itu terjadi di Indonesia. Negara Bangsa yang sebentar lagi akan ramai-ramai memperingati hari Sumpah Pemuda. Kurang ajar.”

Mang Jali datang membawa pesanan: secangkir kopi kental dan panas. Saya beranjak ke dalam mengambil alat perekam yang masih tersimpan di dalam tas, bersama ponsel, buku, handuk, nalgene, sweater, dan beberapa penghuni kecil lainnya.

Sudah jam sebelas lewat sekarang ini. Ada dua pesan masuk. Saya baca, “Nikmati murahnya nelp & terima telp, gratis terima sms, Blackberry & layanan XL posko haji di tanah suci. Komunikasi murah, ibadah lebih berkah.” pengirimnya XL info. Tidak penting. Pesan kedua dari nomor asing, “Mbak bsok kamis q nikah siri. Skalian q jg pindah di cokro ikut suami. Q minta pengertianne mbakku ikut ngerumati bapak. Q mohon.” Hah, apa ini? Nggak ngerti. Pemilik nomor 0813-9211-758 pasti telah salah kirim. Tak perlu dipikirkan. Saya kembali ke depan dengan alat perekam di tangan.

Di teras, Pak Yamin tinggal sendiri saat saya kembali. Sambil mengembuskan asap rokok ia meraih cangkir yang terlihat mengepulkan uap panas. Nikmat sekali melihatnya mereguk kopi. Seolah itulah puncak kenikmatan dunia.

“Bisa kita lanjutkan pembicaraan mengenai Sumpah Pemuda, Pak?”

“Bisa. Bagian mana yang tadi tertunda?”

“Perhimpunan Indonesia.”

“Ya. Perhimpunan Indonesia.”

“Apakah benar bahwa kata ‘Indonesia’ pertama kali digunakan oleh perhimpunan yang berdiri di Belanda tersebut dan bagaimana dengan Iwa Kusumasumantri, seberapa penting posisinya?”

“Dinamisme pemuda juga terlihat pada para mahasiswa pribumi yang bersekolah di Belanda. Hal tersebut ditandai dengan didirikannya Indische Vereeniging pada 1908, kemudian berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging pada 1922, dan kembali berubah menjadi Perhimpunan Indonesia pada 1924. Perubahan nama perhimpunan juga diikuti dengan perubahan nama majalah yang diterbitkan oleh mereka yang mulanya bernama Hindia Putra berubah menjadi Indonesia Merdeka –sebuah nama yang cukup provokatif pada masanya. Tidak hanya di Belanda, penggunaan nama ‘Indonesia’ memang kemudian menjadi sangat penting dan pengaruhnya juga menular ke Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda. Di tahun 1924 pula Partai Komunis Hindia mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia. Menjawab pertanyaan tadi maka sudah diketahui bahwa P.I adalah organisasi pergerakan yang pertama mempopulerkan nama ‘Indonesia’. Namun, mungkin selanjutnya kau akan bertanya-tanya, dari manakah kata ‘Indonesia’ itu dipungut?

“Penamaan Hindia Belanda mulai dipertanyakan oleh para tokoh pergerakan. Penggunaan kata tersebut seolah membenarkan bahwa negeri ini hanyalah ‘daerah sampingan’ dari anak-benua India. Saat itulah literatur antropologi dan sejarah mulai dibuka dan ditelaah. Seiring pencarian nama yang kiranya lebih tepat, konsep ‘bangsa’ pun mengalami pemekaran makna. Para pencari saat itu tertarik dengan sebuah esai Ernest Renan yang berjudul ‘Qu’est ce que une nation?’ yang menyebut bangsa sebagai ‘un princip spirituel’ dan bertolak dari ‘le decir vire ensamble’, tetapi apa namanya? Pencarian terus dilakukan. Kemudian atas usul Iwa, ‘Indonesia’ digunakan sebagai pengganti ‘Hindia Belanda’. Perkiraan saya, dengan mengikuti tulisan yang dibuat Bung Hatta, tampaknya ‘Indonesia’ diambil dari kajian yang dilakukan oleh Adolf Bastian meski pun jauh sebelumnya ilmuwan lain, G.S.W. Earl dan James Logan sudah menggunakan nama ‘Indonesia’ untuk menyebut segugusan pulau yang kini bernama Indonesia.”

“Mengenai Iwa, Pak?”

“Tidak banyak sebetulnya yang saya ketahui mengenai Pak Iwa dalam relevansinya dengan pergerakan dan Sumpah Pemuda. Salah satunya melalui Blumberger yang menulis bahwa pada saat kepemimpinan Iwa Kusumasumantri, periode 1923-1924, P.I betul-betul merupakan wadah bagi pergerakan mahasiswa Indonesia di luar negeri yang menetapkan bahwa hanya satu jalan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yaitu jalan nonkooperasi. Salah satu poin penting dalam Anggaran Dasar P.I menyatakan, ‘Masalah yang menentukan dan yang terpokok dalam setiap masalah kenegaraan ialah pertentangan kepentingan antara yang berkuasa dan yang dikuasai’. Setelah menyelesaikan studi di Leiden, 1925, ia ditugaskan oleh P.I, yang saat itu dipimpin oleh Hatta, ke Moskow bersama Semaun. Di saat itulah ia melahirkan sebuah buku berjudul The Peasant Movement in Indonesia.”

“Apakah Iwa juga banyak menulis di Indonesia Merdeka?”

“Tentu saja. Hampir semua anggota P.I telah menyadari betapa penting arti tulisan bagi kemajuan pergerakan yang mereka perjuangkan. Termasuk Iwa, Hatta, Ahmad Subardjo, Gatot Tanumiharja, Nasir Datuk Pamunjak, Moh. Natsir, Darmawan Mangunkusumo, Sukirman Wiryosanjoyo dan yang lainnya. Melalui Indonesia Merdeka pula lahir sebuah manifasto politik yang tegas di awal 1925, ‘Hanya suatu Indonesia yang merasa dirinya satu, sambil menyampingkan segala perbedaan antara satu golongan dengan golongan lain dapat mematahkan kekuasaan penjajah. Tujuan bersama, pembebasan Indonesia, menuntut adanya suatu aksi umum yang insyaf, bersandar atas kekuatan sendiri dan bersifat kebangsaan.’ Bahkan pledoi Bung Hatta di pengadilan Den Haag juga menggunakan judul ‘Indonesia Merdeka’.”

“Berarti andil P.I dalam pergerakan memang cukup besar?”

“Cukup besar. Perhimpunan itu jugalah yang ikut mendorong lahirnya organisasi pergerakan pemuda Indonesia di Mesir –Jamiah Khairian, di India --Persindom, di Irak --Makindom, dan di Mekah –Pertindom. Di Jakarta yang saat itu masih bernama Batavia pengaruh P.I yang berprinsip nonkooperasi juga mendorong lahirnya Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia. Azas dan tujuannya pun serupa, ‘Berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia Raya Merdeka.’”

“Pada tahun 1926 terjadi pemberontakan rakyat di Banten, hal serupa juga terjadi di Silungkang pada tahun 1927. Apakah dua peristiwa itu juga berkaitan dengan gelora semangat kemerdekaan yang mulai merebak di seantero wilayah Indonesia?”

“Tentu saja berkaitan. Peristiwa di Banten dan Silungkang, atau sebetulnya lebih luas lagi yaitu di Jawa dan Sumatera, boleh jadi adalah embrio perang rakyat Indonesia. Meski beberapa pihak mengeyampingkan dua peristiwa tersebut, mungkin karena disinyalir motor penggeraknya adalah PKI, namun suka tidak suka peristiwa tersebut sangatlah penting.”

“Konon Tan Malaka tidak menyetujui pemberontakan tersebut. Apa pendapat Bapak?”

“Tan Malaka menganggap Keputusan Prambanan sebagai bunuh diri massal. Bukan pemberontakan terhadap kolonial yang ditolaknya melainkan cara dan waktu yang dinilai prematur saat itu olehnya. Di dalam Semangat Muda dia menulis, ‘Semua pemberontakan Indonesia, kalau Rakyat belum matang revolusioner akan sia-sia belaka. Semua macam putch, pemberontakan tiba-tiba dari satu golongan kecil, harus kita singkiri dan musuhi. Kalau pemberontakan semacam itu sekiranya menang, maka Indonesia merdeka itu akan segera jatuh di tangan seorang militer. Dalam hal ini tiadalah politik dan rakyat yang berkuasa melainkan tangan besi seorang militer. Hal ini terjadi di Tiongkok pada tahun 1911, di mana kekuasaan politik segera lepas dari Dr. Sun Yat Sen dan jatuh di tangan Yuan Shi Kai & Co.’ Itulah, meskipun tadi saya katakan bahwa peristiwa Banten dan Silungkang cukup penting, namun, peristiwa tersebut hanyalah letupan kecil yang dengan mudah dapat diatasi oleh pemerintah kolonial. Bahkan, setelahnya kehidupan pergerakan di tanah air menjadi sangat sulit. Kolonial penjajah semakin ketat melakukan pengawasan. Pada titik inilah sikap Tan Malaka terbukti benar dan bijaksana; meskipun demikian peristiwa Banten dan Silungkang tetap tak boleh dilupakan.”

Pak Yamin terdiam agak lama. Raut mukanya seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu. Tenggorokan saya terasa kelu. Ada jeda sekitar semenit. Saya meneguk kopi yang mulai kehilangan panas. Kesejukan bertambah dingin, membuat saya ingin kencing. Saya tahan karena ada perasaan tanggung yang mengganjal.

“Itu karya siapa Pak? Lukisan itu Pak?” tanya saya sembari menunjuk sebuah lukisan yang digantung di dinding berlapis kayu pada selasar.

“Pengantin Revolusi, Hendra Gunawan. Kalau yang di sana karya Sudjojono, judulnya Prambanan,” jawabnya seiring tangannya yang meraih kopi dan bungkus rokok secara hampir bersamaan.

Saya bangkit dan mendatangi arah yang ditunjukkan olehnya, berusaha melihat lukisan yang disebutnya sebagai karya Sudjojono itu. Samar-samar saya seperti pernah mendengar nama dua pelukis yang disebutkannya itu. Bagus-bagus; yang satu ceria dengan rombongan orang berpakaian dalam aneka warna, seperangkat alat musik –mungkin tanjidor, sepeda, dan umbul-umbul serta bendera merah putih; yang kedua suram dengan puing-puing bangunan dan sesosok siluet yang berdiri mematung di tengah jalan. Tidak banyak yang bisa saya serap dari dua lukisan tersebut. Bukan karena lukisannya yang gagal, jelas itu karena pengetahuan dan rasa seni saya yang kurang, bahkan buruk.

“Rupanya Bapak gemar mengoleksi lukisan juga ya?” kata saya saat kembali tiba di dekatnya. Iseng tanpa terlalu berharap mendapat jawaban. Dia masih duduk bersila di atas kursi lebar, seperti tadi.

“Beberapa pelukis saja. Di dalam saya masih menyimpan Afandi, Basuki Resobowo, Agus Djajasuminta, dan Henk Ngantung. Selain tertarik dengan lukisan-lukisan mereka, saya menghargai tanggungjawab sosial mereka yang begitu kuat,” jawabnya.

Jeda sebentar.

“Mengenai Tan Malaka, Prof. Moh. Yamin sejarawan romantik, penyair cum pakar hukum kenamaan kita, dalam karya tulisnya ‘Tan Malaka Bapak Republik Indonesia’ memujinya sebagai ‘tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…," lanjutnya.

“Bapak kembali menyebut Mohamad Yamin. Apakah karena kesamaan nama sehingga Bapak gemar mengutipnya?”

“Hahaha….Bukan hanya karena itu, tetapi menyangkut Sumpah Pemuda, dialah bintangnya. Setelah rumusan kongres dibacakan kemudian ia didaulat untuk memberikan pidato. Bagian yang saya rasa penting dan masih bisa saya ingat adalah, ‘Pemuda Indonesia, (persatuan Indonesia) bukan masalah keyakinan, bukan masalah benar atau tidak benar. Persatuan Indonesia adalah masalah yang berakar dalam diri kita masing-masing, suatu masalah yang membangunkan kesadaran kita yang paling dalam. Mau tidak mau kita semua tergolong bangsa Indonesia, mau tidak mau di dalam tubuh kita mengalir darah Indonesia.’”

“Pak, saya pinjam kamar mandinya; mau pipis.”

“Silakan. Sudah tahu’kan cara memakainya?” sambil mengangguk dan tersenyum saya berjalan cepat menuju target sasaran. Di ruang dalam, sepanjang jalan menuju kamar mandi, tercium aroma kayu manis; dan saat kembali ke depan suara adzan dari masjid yang entah di mana terdengar mendayu. Alat perekam saya biarkan terus bekerja. Semoga batere tak habis di tengah perbincangan.

“Saya pernah membaca Nyanyi Sunyi Seorang Bisu –Memoar Buru yang ditulis Pramudya Ananta Toer. Dalam salah satu suratnya, entah kepada siapa saya sudah lupa, Pram mengaku kesal kepada Mohamad Yamin yang saat diangkat menjadi menteri PPK, mungkin kalau sekarang Mendiknas, membuat kebijakan yang sangat tidak menguntungkan bagi banyak sastrawan dan penulis yang menerbitkan karyanya di Balai Pustaka. Kalau tidak salah Pram mengaku hancur berantakan karena penghasilannya diputus oleh kebijakan pertama yang dikeluarkan Moh. Yamin. Bahkan, Pram sampai harus bercerai dengan istrinya karena benar-benar pailit. Balai Pustaka yang mulanya sebagai lembaga penerbitan dan percetakan dipangkas fungsinya hingga tinggal sebagai percetakan. Apakah Bapak tahu atau pernah membacanya juga? Bagaimana pendapat Bapak?” saya melihat Pak Yamin kembali menyulut rokok, entah sudah berapa batang yang ia habiskan di sepanjang perbincangan hari ini.

“Hahaha…kasihan sekali Pramudya kalau memang betul cerita yang kausampaikan itu. Saya tidak tahu. Selain Tetralogi Buru dan beberapa karya awal seperti Bekasi dan Kranji Jatuh, Ditepi Kali Bekasi, Perburuan, dan Cerita dari Blora, nyaris saya belum membaca karya-karyanya, termasuk yang tadi kau sebutkan itu, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.”

“Halo-halo…bubur kacang hijau sudah matang. Siapa yang mau?” terdengar suara sang menantu yang segera disambut teriakan-teriakan bernada gurauan dua orang cucu Pak Yamin yang berlari menyerbu dapur. Pak Yamin bangkit dari kursi dan masuk entah untuk keperluan apa.

Hampir lima menit saya menikmati angin yang mempertontonkan gugurnya dedaunan tua dari pohonnya; induk ayam dan anak-anaknya yang berlalu ke arah belakang; jerit tongeret yang seperti ingin memecah keheningan. Tanah dan bebatuan masih terlihat basah dan mentari tak menjadi semakin terik sejak redanya hujan. Perasaan nyaman membuatku rindu rumah. Ah, sudah hampir tiga bulan saya tak pulang. Meski hampir setiap hari Bapak atau Ibu menelepon. Namun, tetap terasa beda dibanding langsung bertatap muka. Terkadang perasaan kesal tak mudah ditekan, terutama saat pertanyaan serupa seperti terus diulang-ulang: kapan sidang?; kapan lulus?; kapan wisuda?; semua dengan tanda tanya besar dan tebal. Jika dipikir ulang, sebenarnya tidak salah kalau mereka menanyakan hal itu, namanya juga orangtua dan bukankah hampir semua ongkos yang kukeluarkan berasal dari kantong mereka. Nantilah, beres bimbingan Bab V saya akan pulang sambil membawa jadwal sidang.

“Hai kok melamun. Di tinggal Papa ya? Papa lama kalau sholat. Surat yang dipilihnya panjang-panjang, sabar aja. Ini silakan dicoba, kalau kurang nanti ambil sendiri di dapur ya,” sang menantu membawakan semangkuk besar bubur kacang hijau dan roti tawar. “Sok dicobian!!!” dia kembali masuk dan saya belum sempat berterimakasih. Biarlah, nanti saja, sekaligus saat berpamitan pulang.

Segera kuhirup bubur hangat yang tersajikan. Gula kelapa, jahe, dan kayu manisnya menciptakan sensasi yang menyenangkan. Baru setengah mangkuk saja hangat mulai terasa menjalari tubuh. Tepat saat suapan terakhir Pak Yamin keluar. Wajahnya terlihat lebih segar. Bagian depan rambutnya masih basah. Mungkin benar ia habis sembahyang.

“Wah sudah habis semangkuk; saya ketinggalan.”

“Hehe, iya Pak, maaf tidak menunggu lebih dulu. Lezat sekali buburnya. Apa bisa dilanjutkan Pak?”

“Mari. Apa yang ingin kautanyakan?”

Saya tergeragap karena sebetulnya belum siap. Saya masih menikmati kehangatan efek dari bubur yang saya tandaskan, sehingga belum konsentrasi benar. Beginilah repotnya mewawancara tanpa membawa draft pertanyaan yang sekiranya bisa dijadikan pegangan. Tanpa draft pertanyaan wawancara menjadi tidak terstruktur dan saya akan mudah terjebak dalam situasi blunder. Bermaksud hanya asal tidak diam saya mulai mengajukan pertanyaan, “Mengenai Tetralogi Buru, hal apa yang paling menarik? Maukah Bapak berbagi mengenai hal itu?”

“Sampai hari ini, bagi saya Tetralogi Buru adalah novel terbaik dalam khasanah sastra kita yang pernah saya baca. Bentuk novel historis yang dipilihnya mampu mendobrak kebuntuan sastra kita yang seperti bingung berputar-putar dalam inovasi teknik tanpa jiwa sehingga terisolasi dari masyarakatnya atau mengumbar kesenangan murahan yang bernama pop. Saya pernah membuat catatan singkat bahwa Tetralogi Buru merupakan manifesto filosofis dan keterlibatan politik juga visi Pram untuk masa depan. Pram melalui novelnya tersebut berpandangan bahwa sekarang adalah Abad Rakyat dan Ilmu Pengetahuan; Minke atau mungkin Pram seperti membuat sebuah penolakan simbolis terhadap belenggu feodalisme.”

“Maukah Bapak membuat pertautan antara Tetralogi Buru dan kondisi kekinian dalam relevansinya dengan Sumpah Pemuda?”

“Boleh saja. Hahaha…tetapi saya berharap ini tidak membuat kau malas untuk mencoba sendiri; mencari segi-segi lainnya dan tidak melulu mengekor pada temuan-temuan orang lain. Ide ‘kemajuan’ dan ajakan memasuki ‘dunia maju’ yang mendorong lahirnya organisasi rakyat dan pemuda serta memenuhi tulisan-tulisan yang tersebar di berbagai jurnal, majalah, dan barang cetakan lainnya juga menjadi ‘roh’ di dalam Tetralogi Buru. Ide tersebut mendapatkan bentuknya dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan. Bagaimana pun kemajuan yang bisa diraih jangan sampai membawa kebangkrutan kultural. Bangsa Indonesia haruslah tetap menjadi bangsa Indonesia. Jangan sampai ‘kemajuan’ membuat ‘bangsa’ tercerabut dari identitas kulturalnya dan kehilangan identitas ‘kebangsaannya’. Ilustrasi untuk hal tersebut dapat dibaca dalam Bumi Manusia. Pada perkenalan diri di halaman pertama, Minke hadir sebagai produk kolonialisme berumur delapan belas cetakan sistem pendidikan kolonial yang diberikan untuk kalangan priyayi –pendidikan yang juga bisa dilihat sebagai pedang bermata dua yang berpotensi melahirkan dualitas. Selanjutnya Minke merasa makin terkucil dari budaya Jawanya. Semakin dunianya terbuka oleh pendidikan Barat, semakin rengganglah ikatan yang menautkan dirinya dengan akar kejawaannya. Sikapnya terhadap latar belakang etniknya diwarnai dengan ambivalensi yang mengalami peningkatan kualitas seiring berjalannya cerita.”

“Adakah pasase, potongan dialog, atau paragraf yang pernah Bapak kutip dari dalamnya?”

“Entahlah. Sudah sangat lama buku-buku itu tidak kembali saya baca. Kalau tidak salah, satu di antara yang masih membekas adalah dari Rumah Kaca, ‘Semua ikan besar busuk mengelompok jadi pelaksana kekuasaan. Semua ikan kecil busuk bertebaran dalam kehidupan.’ Tampaknya kausudah lelah ya melakukan wawancara ini? Ada baiknya kalau kaucuci-muka, atau ambil wudlu dan sholat. Sebentar lagi habis waktunya.”

“Eh iya, Pak. Benar juga. Terima kasih.”

“Silakan. Saya juga harus ke belakang, memberi makan hewan peliharaan, kasihan sudah lewat siang, mereka mungkin sudah sangat kelaparan. Nanti kalau sudah, kaubisa ikut ke belakang kalau berkenan. Mungkin agak lama juga saya di belakang,” begitu kata Pak Yamin.

Rupanya dia punya tugas. Wawancara yang saya lakukan jangan sampai mengganggunya apalagi saya lihat dia termasuk orang yang disiplin dan tegas. Mungkin perbincangan selanjutnya akan terjadi di belakang –sebuah wilayah tempat dia mengembangbiakkan unggas dan burung-burung. Saya melirik jam dinding. Sudah hampir setengah tiga. Kami meninggalkan teras depan.

*Penulis adalah fasilitator komunitas Orang Rimba di Jambi.
------------
Wawancara sebelumnya klik di sini.
Baca selengkapnya

25 Oktober 2010

Makna Sumpah Pemuda dari Pojok Kanayakan (I)

Oleh: Mirza Ahmadhevicko*

Sumpah Pemuda
Kami putera dan puteri Indonesia

mengaku

bosen jadi Bangsa Indonesia,

kalo bisa gak tinggal di Tanah Air
Indonesia,
dan sangat malu Berbahasa Indonesia


Jogja, 28 Oktober 2008


Hahahahaha….Tawa Pak Yamin lepas begitu saja saat ditanya bagaimana tanggapannya atas sajak yang ditulis penyair Saut Situmorang yang saya bacakan tanpa ekspresi yang meyakinkan.

“Anak muda sekarang masih ada kekritisannya dalam menyikapi keadaan nasional terutama dalam hal berbangsa dan bernegara,” jawabnya.

Puisi macam itu minta dibaca dengan cara khusus. Jangan cuma lurus-lurus saja atau cuma secara harfiah.

“Saya pernah juga mendengar puisi senada yang dibuat Hamid Jabbar. Kalau saya tidak salah judulnya Proklamasi, 2,” lanjutnya.

Isinya,
Kami bangsa Indonesia
dengan ini menyatakan

kemerdekaan Indonesia

untuk kedua kalinya!


Hal-hal yang mengenai

hak asasi manusia,

utang-piutang,

dan lain-lain

yang tak habis-habisnya

INSYAALLAH

akan habis

diselenggarakan

dengan cara saksama

dan dalam tempo

yang sesingkat-singkatnya!


Jakarta, 25 Maret 1992

Atas nama bangsa Indonesia

Boleh-Siapa Saja

“Mungkin sebagian orang kita akan gusar bahkan marah mendengarnya, namun sebagian lain akan tersenyum, bahkan terbahak karena isinya yang lucu seperti hanya main-main belaka. Puisi yang tadi kau baca dan puisi yang saya baca juga membuat kita tergugah bahwa kenyataannya setelah lebih dari delapan dekade Sumpah Pemuda dan 65 tahun setelah proklamasi, Indonesia belum mampu berdiri tegak dan berdaulat. Indonesia belum 100% merdeka. Saya kira puisi-puisi tersebut lahir dari olah pikir dan olah rasa sastrawan kita yang jiwanya dipenuhi rasa nasionalisme. Tentu kita jangan salah sangka, biasanya nasionalisme di dalam sanubari mereka bukan sebangsa nasionalisme cangkem dan sebatas hipokrisi semata. Boleh jadi mereka adalah golongan dari warga negara yang telah menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya untuk berjibaku dengan perenungan-perenungan dalam ranah berbangsa dan bernegara. Persoalan output-nya bernada sinisme itu lain soal. Ah, tapi jangan terlalu dipikirkan apa yang telah saya ucapkan. Saya bukan ahli dalam hal sastra, jadi, ya, jawaban saya hanya jawaban dari orang awam dan hanya bersifat umum-umum saja,” kata Pak Yamin panjang lebar.

Pak Yamin diam menunduk. Wajah tuanya tampak tersipu. Dia kini menengadahkan wajah, menatap langit sambil mengisap rokok dalam-dalam. Perlahan kepulan asap tipis keluar. Mendung menggantung, di luar. Tombol alat perekam kutekan, kumatikan. Gerimis mulai bertabur, seperti ribuan jarum yang tumpah dari langit beserta deru angin kencang yang berkesiur menggoyang daun-daun pepohonan yang tumbuh di sekeliling halaman. Tegakan pohon yang berjajar membuat rumah ini seperti berada di tengah hutan, lengkap dengan suara unggas dan burung-burung.

Sebelum memulai obrolan, tadi, saya sempat berkeliling menikmati keteduhan lanskap di bawah rerimbun pohon-pohon aneka bebuahan. Beberapa diantaranya dapat saya kenali: beberapa jenis mangga, rambutan, durian, kelengkeng, pepaya, jambu air dan jambu klutuk, belimbing, srikaya, markisa, salak, dan nanas selain pohon yang bukan penghasil buah, seperti rasamala, tanjung, mahoni, angsana, alba merah, dan jati emas.

Lumut yang tumbuh di bebatuan yang disusun membentuk sejalur setapak menegaskan bahwa cahaya mentari sangat sedikit yang berhasil menembus kelebatan pekarangan rumah Pak Yamin di kawasan Pojok Kanayakan, tidak terlalu jauh dari Simpang Dago.

Hujan membesar. Bintik-bintik airnya berkilau di atas bebatuan. Kehijauan dedaunan semakin kentara saat semua menjadi basah. Sempat tebersit tanya di kepala: ini rumah apa kebun raya?

Kepulan asap terakhir baru saja keluar dengan perlahan. Hampir tiga menit lamanya terjadi jeda. Saya tak ingin mengusik ketenangannya. Bukankah kedatangan saya di pagi buta akhir pekan ini sudah cukup dianggap sebagai gangguan yang serius meski dia tidak mengatakannya.

Kamis kemarin saya mendatanginya dan meminta waktu untuk melakukan wawancara seputar tema Sumpah Pemuda. Kemudian janji tersepakati. Dia memberi saya kesempatan di akhir pekan. Wawancara ini adalah wujud dari janji yang ditepati.

“Menurut Bapak, seberapa penting Sumpah Pemuda bagi pergerakan kemerdekaan?”

“Sangat penting. Penting sekali. Sebetulnya, apa yang sekarang kita sebut sebagai teks Sumpah Pemuda, seperti yang dipelesetkan oleh penyair Saut yang tadi kaubaca itu adalah rumusan yang dibacakan di sesi penutupan Kongres Pemuda Indonesia II yang digelar di Jakarta pada 27 – 28 Oktober 1928. Konon, menurut sebuah kisah, ketika Mr. Sunarjo, eks aktivis Perhimpunan Indonesia, sedang membacakan pidato yang terakhir, Mohamad Yamin menyodorkan sehelai kertas yang berisi tulisan kepada ketua sidang, Soegondo, sambil berbisik, ‘Saya punya konsep untuk penutupan’, dan Soegondo tersenyum sembari menandatangani kertas tersebut sebagai tanda persetujuan seraya memberikannya kepada anggota panitia yang lainnya yang akhirnya juga menyetujui konsep Yamin. Maka begitulah, di akhir acara dibacakanlah putusan kongres pemuda-pemudi Indonesia. Setelah membacakan nama-nama organisasi yang hadir lalu pimpinan sidang membacakan apa yang kemudian kita sebut sebagai teks Sumpah Pemuda itu. Sekian tahun kemudian rumusan kongres tersebut semakin lazim disebut sebagai Sumpah Pemuda.

“Meski tidak memperkenalkan sesuatu yang baru dalam soal pemikiran, namun peristiwa itu setidaknya mengemukakan beberapa soal. Pertama, Sumpah Pemuda adalah pernyataan akan keharusan kontinuitas dalam perkembangan nasionalisme yang mengatasi ikatan etnis, daerah, agama, dan sebagainya. Kedua, kata ‘Indonesia’ telah disebut dengan tegas, maka, ketika itu pula sesungguhnya tekad ke arah ‘kemerdekaan bangsa’ menjadi cita-cita yang otentik. Keempat, ‘bahasa Indonesia’ telah diakui sebagai bahasa persatuan. Lebih dari itu hubungan sosial yang setara pun dipatrikan mengingat bahasa Melayu yang diangkat menjadi bahasa Indonesia itu tidak mengenal tingkatan-tingkatan bahasa. Kelima, kelima atau keenam? Iya kelima, kehadiran sebuah bangsa dilihat sebagai realitas, tidak lagi sebatas bayangan, sehingga pada awal dekade 30-an terjadi perdebatan serius yang lebih dikenal sebagai ‘Polemik Kebudayaan’ dan akan sulit dipahami tanpa mempertautkannya dengan Sumpah Pemuda. Inilah polemik pertama tentang keindonesiaan yang pernah terjadi dan tetap menjadi polemik paling bermutu sampai dengan sekarang. Keenam, sulit dilupakan bahwa kesemua proses ke arah terbentuknya tekad yang dirumuskan Sumpah pemuda itu bermula dari hasrat akan kemajuan –suatu situasi yang lebih baik yang mengatasi keadaan yang kini dialami. Mungkin itulah mengapa saya katakan bahwa Sumpah Pemuda merupakan langkah penting dalam perjuangan berbangsa dan bernegara –juga dalam hal berbahasa.”

“Tadi Bapak mengatakan bahwa Sumpah pemuda bermula dari hasrat untuk maju ke depan. Saya masih kurang mengerti. Dapatkah sedikit dijabarkan?”

“Hahaha….pertama saya ingin sedikit mengoreksi logika berbahasamu yang lucu. Tidakkah berlebihan saat kau mengatakan ‘maju ke depan’; saya pikir cukuplah kau katakan ‘maju’ dan itu sudah mewakili ‘gerakan ke depan’, mana ada maju ke belakang atau mundur ke depan. Rasanya hal-hal kecil seperti itu sedikit banyak berhubungan dengan logika. Selain lucu, bentuk-bentuk semacam itu membuat bahasa kita menjadi tidak efektif. Hahaha. Apa tadi? Oiya. Begini. Penjajahan melahirkan kesengsaraan. Sudah menjadi hukum alam bahwa manusia pada dasarnya selalu mengangankan kebahagiaan, artinya sebuah kondisi di luar sengsara dan itu diandaikan hanya bisa dicapai dengan cara keluar dari kondisi terjajah; bebas dari penindasan. Karena itulah pemuda dan masyarakat bergerak menyongsong zaman baru yang bebas dari kesengsaraan. Meskipun kaum pribumi telah memiliki kesadaran tersebut, namun, mereka sama sekali buta dalam hal metode. Mengenai hal ini kau bisa membacanya dalam Zaman Bergerak, buku yang diadaptasi dari disertasi Takashi Shiraishi di Cornell University.“

Dia menjelaskan sembari berjalan, masuk ke ruang tengah, mengambil bungkusan rokok di atas meja dan kembali melangkah ke arah kursi betawi tempatnya duduk. Saya masih menghadapinya. Di meja tergeletak alat perekam digital dengan lampu hijau yang menyala tanda sedang bekerja; dua cangkir kopi yang sudah tak lagi panas, asbak dengan beberapa puntung, dan koran pagi yang belum dibaca. Hujan belum reda.

“Hasrat untuk maju membuat beberapa kaum pribumi terdidik di dalam mau pun di luar negeri merasa perlu mendirikan organisasi. Strategi lain yang ditempuh adalah dengan menerbitkan tulisan-tulisan dalam jurnal, koran, majalah, maupun buku –pokoknya kebudayaan cetak mulai dikenalkan, terutama di kota-kota besar. Bacaan-bacaan yang dihasilkan oleh para pemimpin pergerakan masuk dalam katagori "bacaan politik". Hampir semua bacaan yang diproduksi oleh para pemimpin pergerakan apakah bentuknya novel, roman, surat perlawanan persdelicht dan cerita bersambung, isinya menampilkan kekritisan dan perlawanan terhadap tata-kuasa kolonial. Dan di sinilah catatan sejarah harus dikoreksi, sesungguhnya Sastra Indonesia sejak mula sejarahnya merupakan sastra protes, “ lanjutnya.

Pak Yamin terdiam, mungkin karena terganggu suara dering ponsel yang memperdengarkan bagian depan dari lagu L’Internationale; ini sebuah kesalahan fatal. Seharusnya tadi saya tidak lupa mematikan ponsel sebelum memulai wawancara. Setelah meminta izin kepadanya saya beringsut ke halaman, menjawab panggilan masuk yang ternyata dari seorang teman. Dia, si penelepon, membutuhkan teman yang bisa diajaknya untuk memanjati tebing-tebing karst di Kelapa Nunggal. Sebuah tawaran menarik yang terpaksa harus saya tolak dengan alasan bahwa ambang batas waktu sudah terlalu dekat sedangkan esai bertema Sumpah Pemuda yang saya janjikan belum juga bisa saya rampungkan. Beberapa literatur sudah terbaca, beberapa dosen telah diwawancarai, namun sudut pandang dan fokus yang akan dikemukakan belum juga konkret di dalam pikiran.

“Maaf Pak. Pembicaraan terpaksa terganggu. Saya tadi lupa menonaktifkan ponsel,” saya berusaha berapologi saat kembali duduk di kursi yang ada di hadapannya.

Koran yang sedang dibukanya kembali ia tutup dan lipat.

“Maaf, sampai di mana, ya, tadi itu. Kalau tidak salah tentang peran organisasi dan tulisan-tulisan tokoh pergerakan. Kalau bisa disimpulkan, sebenarnya seberapa jauh peranan pers dan media massa dalam pergerakan pemuda?”

“Karena kaum terdidik menempati posisi minoritas maka diperlukan media untuk menyebarkan ide-ide anti-kolonialisme dan anti-imperialisme agar secara luas dapat mencapai sasarannya yang lebih luas, yakni masyarakat yang saat itu lazim disebut kaum kromo atau proletariat. Artinya dengan menyebarkan ide-ide tersebut dengan kata lain ‘bangsawan pemikir’ juga telah mengupayakan pendidikan bagi masyarakat. Hal yang juga turut mendorong perkembangan pers dan barang cetakan lainnya adalah suatu kebijaksanaan penting, yakni politik etis yang dicanangkan tahun 1901. Sejak itulah dimulai fase yang lazim disebut dengan ‘Perang Soeara’ atau ‘Perang Pena’. Pada zaman pergerakan, tokoh revolusioner seperti Tirtoadhisoerjo, Semaoen, Darsono, Marco, Soeardi, Douwes Dekker, dan Tjipto adalah seorang jurnalis."

“Tentu saja yang saya katakan sebagai jurnalis di zaman pergerakan itu pada kenyataannya semakin berbeda dengan para wartawan di zaman sekarang. Saat itu para jurnalis adalah tipikal cendikiawan atau resi yang terobsesi untuk mengemban tugas profetik dan berpihak kepada masyarakat yang terpinggirkan. Mereka memiliki kesadaran akan kepentingan kelas; tidak seperti sekarang yang sepertinya alpa dan takluk pada juraganisme atau kepentingan modal. Sangat memiriskan sebenarnya saat wartawan tidak memahami realitas penindasan yang dialaminya, bahkan justru seperti menikmati ketertindasannya. Jadi kalau ditanya seberapa penting pers memegang peranan di zaman pergerakan secara singkat saya menjawab sangatlah penting. Sulit membayangkan pergerakan saat itu jika tanpa peran jurnalis, percetakan, dan rumah penerbitan. Seperti tadi sudah saya kemukakan bahwa pemimpin pergerakan saat itu sekaligus juga menjadi penulis dan jurnalis. Mereka menentang kebijakan kolonial dengan biaya yang didanai oleh saudagar batik, seperti Hadji Samanhudi yang mendanai Sarotomo atau H.M. Bakri yang mendanai Doenia Bergerak serta Hadji Misbach yang mendanai Medan Moeslimin dan Islam Bergerak.”

Pak Yamin diam, seperti ingin kembali bicara tapi tak jadi. Hujan tidak mereda, dari suaranya terdengar semakin besar dan menderas. Terdengar deru mobil memasuki halaman depan terus masuk ke garasi di samping kanan.

“Itu anak saya yang bungsu. Dia sekarang jadi staf pengajar sinematografi di Sekolah Kesenian Jakarta. Setiap akhir pekan dia dan keluarganya mendatangi saya,” katanya, sebelum akhirnya suasana rumah menjadi ramai dengan suara beberapa anak-anak yang berlari berhamburan memeluk Pak Yamin yang sudah siap menyambut serbuan cucu-cucunya.

Tombol alat perekam kembali saya tekan. Kini warna hijau berubah menjadi merah yang berkedip-kedip. Saya kemudian ikut berdiri dan menyalami semua orang yang baru datang.

Beberapa saat kemudian meja dipenuhi dengan buah tangan yang terdiri dari kue-kue dan panganan lainnya.

“Mami itu lihat gigi si Om ompong dan hitam-hitam kayak gigi Fahmi. Pasti kalau habis makan cokelat gak sikat gigi,” terdengar suara seorang cucu Pak Yamin yang perempuan. Mungkin Fahmi adalah nama adiknya dan yang bicara itu kakaknya.

“Eh, jangan nakal, ya, gak boleh ngomong begitu; itu ‘kan temannya Aki. Gak boleh, itu tidak sopan,” kata perempuan, menantu Pak Yamin, sambil tersenyum melihat ke arahku dan Pak Yamin.

Di teras depan terlihat bocah lelaki yang bernama Fahmi sedang memainkan air hujan yang turun sebagai pancuran dari atap berbentuk limasan. Saya senyum-senyum saja sembari bingung bagaimana menyikapi kejujuran dan kepolosan anak-anak yang umurnya mungkin tak lebih dari delapan tahun.

Pak Yamin beranjak ke dapur, melongok meja makan, berbicara sedikit dengan sang menantu dan kembali menghampiri saya. Pak Yamin mengajak saya berpindah ke teras samping. Hanya alat perekam yang saya bawa. Cangkir kopi separuh kosong dan aneka kudapan kami tinggalkan.

Sepanjang jalan menuju teras samping saya melewati deretan lemari berisi buku-buku, sebuah kamar untuk sholat, dan dinding yang dipenuhi foto-foto keluarga: gambar anak-anaknya yang mengenakan toga. Pak Yamin sewaktu muda di tengah orang-orang berkulit hitam yang mengenakan koteka –mungkin di Papua; dia dan istrinya yang duduk dikelilingi oleh anak-anak yang berdiri berjajar di belakangnya, dia yang bertopi caping dengan arit tergenggam di tangan kanan diambil setengah badan, dirinya yang sedang bersalaman dengan rektor-tua yang kini sudah meninggal dunia, serta beberapa foto lain yang tidak sempat saya perhatikan.

“Tampaknya keluarga Bapak cukup bahagia,” ujar saya.

“Hahaha…. Begitukah yang kaulihat? Mungkin benar. Setidaknya saya cukup puas. Tugas saya sebagai orang tua telah purna. Semua anak-anak mendapat pendidikan yang cukup dan kini mereka telah berkeluarga. Dua orang di Indonesia, tinggal di Jakarta dan Balikpapan; dan yang lainnya ada di luar; yang tertua di Jepang, yang kedua di Kanada. Adiknya di Australia. Ya semoga mereka semua bahagia karena telah memilih sendiri jalur hidupnya masing-masing.”

“Iya, semoga Pak. “

Sambil berbicara dia meraih sebungkus rokok, mengeluarkan isinya sebatang, meletakkan kembali bungkusnya, meraih satu dari dua korek api gas yang ada di meja, dan mulai membakar ujung rokoknya. Bau tembakau dan cengkeh meruap.

“Djisamsoe, rokok para dewa!” tawanya kembali berderai. Saya nyengir dan mulai ikut tertawa, menemani tawanya.

“Apakah Bapak setuju jika kelahiran Budi Utomo dijadikan penanda lahirnya kesadaran nasional sehingga kini dijadikan patokan dan menandai masa Kebangkitan Nasional?”

“Begitulah yang ditangkap oleh banyak sejarawan. Padahal murid-murid STOVIA yang mendirikan Budi Utomo adalah pemuda-pemuda Jawa yang juga ikut mempengaruhi persepsi mereka mengenai nasion. Kalau kau ada waktu cobalah baca The Dawn of Indonesian Nationalism: the early years of Budi Utomo, 1908 – 1918. Di dalamnya kau akan dapati bahwa nasionalisme yang dipahami di dalam Budi Utomo adalah Nasionalisme Jawa; nasionalisme yang masih berdasarkan ikatan kultural (nasionalisme cultureel).

Bung Hatta menolak nasionalisme yang semacam itu. Butuh waktu tujuhbelas tahun bagi Budi Utomo untuk mengoreksi pandangannya hingga akhirnya bersama perhimpunan kedaerahan lainnya bersepakat meleburkan diri ke dalam Parindra, Partai Indonesia Raya di tahun 1935.

Kita sebetulnya bisa mempertimbangkan keberadaan SDI dan kemudian SI karena organisasi tersebut tidak mencantelkan kesamaan etnis. Di awal pendiriannya belum ada ideologisasi Islam sehingga di dalamnya tumbuh berbagai macam pemikiran. Ini menjadi menarik karena bukankah ‘bangsa’ adalah wadah bagi segala corak aliran pemikiran? Kita juga bisa mempertimbangkan kelahiran Indische Partij yang juga serius mewacanakan dan merumuskan pengertian ‘bangsa’. Di tengah pergulatan pemikiran inilah lahir tulisan penting dari Soeardi Soerjaningrat yangberjudul ‘Als ik eens Nederlander was’, atau ‘Seandainya Saya Seorang Belanda’ yang isinya kecaman keras dengan penuh ungkapan sinis atas rencana pemerintah kolonial yang akan menggelar pesta perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis di negeri jajahan yang saat itu masih bernama Hindia Belanda.”

“Dari uraian Bapak, saya menangkap ada nuansa problematis dengan penetapan Budi Utomo sebagai organisasi nasional pertama. Menurut saya jawaban bapak tadi berbeda dengan tulisan-tulisan di buku-buku sejarah sekolah menengah, bahkan sampai ke perguruan tinggi yang umumnya semua bernada tegas dan asertif. Tidakkah seharusnya dilakukan pengoreksian atas informasi yang kurang tepat mengenai hal tersebut?”

“Sejarah bukanlah matematika, sehingga cara penanganannya pun berbeda. Mengenai hal tadi bola ada di tangan Negara atau dalam hal tersebut diwakili oleh Departemen Pendidikan dan terutama Pusat Kurikulum. Hemat saya seharusnya para pakar yang duduk di sana mau bersusah-susah melakukan penelitian-penelitian bersama dengan LIPI mengenai pelurusan berbagai informasi menyangkut sejarah pergerakan. Masalah akan semakin rumit jika status quo merasa terancam oleh temuan-temuan baru di lapangan. Mungkin itu jawaban saya.”

Jeda. Pak Yamin terdiam. Saya masih mengerutkan kening berusaha mencerna paparannya. Beberapa kali dia menengok ke ruang makan. Di tangannya masih terselip sebatang rokok yang mengepul. Hujan membuat udara tetap sejuk. Suara anak-anak yang berlarian terdengar dari dalam.

Saya kembali mengajukan pertanyaan, “Mengenai Iwa Kusumasumantri dan organisasi Perhimpunan Indonesia yang sudah Bapak singgung sedikit di awal perbincangan ini, saya ingin memastikan, apakah benar bahwa penggunaan kata ‘Indonesia’ pertama kali diperkenalkan oleh P.I bersama Iwa sebagai salah satu tokohnya?”

“Saya harus memberikan uraian yang agak panjang mengenai hal itu. Mungkin lebih baik kita tunda sebentar untuk makan siang. Waktu kau datang pagi tadi saya belum sempat sarapan. Hidup cuma sekali, jangan lewatkan makanan enak. Hahaha…. Mungkin karena umur, sekarang saya sebentar-sebentar merasa lapar dan parahnya saya sulit mengingat dan berpikir dalam keadaan lapar. Mari kita ke belakang. Setelah itu kita bisa melanjutkan perbincangan sampai sore atau kalau perlu sampai malam.”

Ajakannya sulit untuk saya tolak, maka saya mengikutinya, berjalan di belakang. Hujan mulai mereda, berubah gerimis seperti permulaannya.

*Penulis adalah fasilitator komunitas Orang Rimba di Jambi.
----------
Bersambung ke sini
Baca selengkapnya

2 Oktober 2009

Protes dari Perut Yang Lapar

kami orang-orang lapar tak perlu puasa
senantiasa tiap hari menderu lapar.

kami orang-orang lapar tak usah kalian jejali ayat-ayat suci
kami perlu makanan.

kami orang-orang lapar tak butuh sumbangan
kami ingin kalian sadar kami telah dimiskinkan.

rasa lapar yang akrab ini
membuat kami mengerti nilai kemanusiaan
hubungan manusia dengan manusia
bukan hubungan manusia di atas mata uang

kelaparan ini milik orang-orang lapar di afrika, amerika, eropa, asia, australia.
kematian orang-orang lapar di seluruh dunia
berada di dalam perut gendut orang-orang kaya
yang menguasai pabrik-pabrik,
bercokol di bank-bank,
mencitra di media-media,
dan menahta di kursi kekuasaan:
ada bush asik memberi makan kiloan daging kepada anjing-anjingnya
gordon brown mengelap kilauan emas mahkota raja
ehud olmert memerkosai perempuan-perempuan palestina
jacob zuma menumpuk pundi-pundi uang di tengah anak-anak lapar afrika
juga yudoyono laksana satrio paningit sibuk merias wajah menghadap cermin
sambil berpikir tentang siasat untuk menipu rakyatnya,
menjual semua sumber energi dan daya

mereka bernaung di dalam kerajaan modal
kekuasaannya menggurita
menggenggam bola dunia
menguras energi kehidupan
sampai titik lapar manusia-manusia

rasa lapar kami tak akan membuat kami mati
kami mati sejak dulu
sejak kami tak lagi mencangkul tanah
sejak kami tak lagi bermukim
sejak kami tak lagi melaut
sejak kami hanya bagian dari mesin-mesin pabrik

kau bunuh kami pun, para penguasa uang dan bangsa,
tak membuat kami hilang
karena rasa lapar ini milik orang banyak di seluruh tanah air di muka bumi ini
seabadi gelora rakus kalian.

kalian tau, seberapa gemuruhnya rasa lapar di perut ini?
segemuruh hentakan kaki kaum tani, buruh, nelayan, miskin kota, perempuan miskin, anak miskin, dan pemuda.
rasa lapar ini akan menembus keluar dari kulit perut kami yang semakin menipis
keluar dengan pukulan palu para kaum buruh
dan sabetan arit kaum tani
di dalam tarian perlawanan internasionale
tertuju pada perut-perut gendut rakus kalian.
sebab, bendera merah sudah kami kibarkan.
sebagian menjadi kain kafan jenasah kawan-kawan kami yang mati kelaparan.


heru suprapto
grogol, 13 januari 2009.
dipublikasikan pertama kali di Pena Rakyat edisi juli 2009.


Baca selengkapnya

11 September 2009

Bangun! Langkahkan Kakimu Menuju Revolusi!

aku disini telah terbangun
dari dongeng yang selama ini meninabobokan kita
sejak orde baru
hingga kini
orde paling baru.

“ninabobo, oh… ninabobo…
kalau tidak bobo digigit nyamuk”


hei!
kamu yang di sana.
apa sudah bangun?
buka matamu!
lihat!
kadal-kadal berwajah ular
menampilkan kulit yang sama dengan kita.
selalu menyatakan pro RAKYAT padahal pro RAYAP
masih bersarang di sana:
di istana negara, di rumah rakyat, di gedung berpilar palu adil, di markas keamanan, di barak prajurit, di istana daerah,
di pendopo-pendopo desa dan kampung, di rumah RT …
hingga di sekitar kita
merayapi kayu-kayu yang menahan atap rumah kita.
sedangkan loreng-loreng bersenjata yang dulu membebaskan rakyat dari penjajah
bukan lagi milik rakyat,
milik mereka yang menghisap tetek ibu-ibu
menangisi nasi aking untuk makan hari ini,
yang menggembosi perut-perut busung lapar,
yang memerkosa hak anak untuk sekolah,
yang mempersulit pelayanan kesehatan untuk rakyat miskin,
yang merobohkan paksa tempat tinggal,
yang merampas lahan pekerjaan kita di trotoar dan sarana umum,
yang mematahkan roda becak-becak,
yang mengerangkeng perempuan,
yang menjejali kotoran, lumpur gas, dan racun industri
ke dalam organ pencernaan kita,
yang membodohi kita dengan aksara-aksara bermakna semu dan angka-angka palsu,
yang sekali lagi,
dan lagi,
meninabobokan kita.

“ninabobo, oh… ninabobo…
kalau tidak bobo digigit nyamuk”


eitt…
jangan terlelap dan terlena.
bangun!
langkahkan kakimu!
jika tidak,
sejarah kemarin dan hari ini di tangan mereka.
masa depan bukan milik kita lagi.

kita di sini menjala semangat perubahan
yang telah lama ditekan penguasa-pengusaha.
di dalam barisan ini
kita simpan jejak langkah yang lalu di balik bantal.
di lingkaran ini
kita lubangi payung baja yang telah lama membuat bunga impian layu.
langkah kaki ini yang dulu terjerembab karena takut melangkah
kini bisa berlari.
harapan-harapan yang dulu dianggap tak mungkin
kini berada di depan sedang menggerakkan tangan kita untuk menggenggamnya.
sesengguhnya kita bisa.

selama ini ketakutan telah membunuh kita perlahan
dan kemerdekaan tercapai jika bebas dari rasa takut.
keyakinan harus dijaga.

melawanlah air mata!
melawanlah tangis jiwa!
melawanlah sakit hati!
melawanlah muak derita!
melawanlah takut langkah!
keluarkan semua.
bangkitkan semangat!
biar amarah merobek kepalsuan kadal-kadal.
hempaskan hela nafas lelah kita membasmi RAYAP-RAYAP gendut!
banjiri jalan-jalan dengan air mata dan amarah hingga ujung istana.
jangan,
jangan pernah membiarkan bara di dalam diri kita padam.
berkobarlah api perlawanan!
bergerak. bersatu. rebut hak-hak kita.
berdaulat!
lawan!


sebab reformasi omong kosong.
saatnya revolusi.


Heru Suprapto
Bekasi, 7/1/2007, 02.10.
Dideklamasikan pertama kali oleh anak miskin di Bundaran HI Jakarta, di tengah festival seni perlawanan rakyat miskin kota, 7 Januari 2007.


Baca selengkapnya

Kisah Seuntai Awan Kecil

Alkisah, hiduplah sebuah awan yang sangat kecil dan sangat kesepian dan biasa berkeliaran jauh-jauh dari awan-awan besar. Ia sangat kecil, nyaris tak sampai seuntai. Dan manakala awan-awan besar menjadikan diri mereka hujan untuk mengecat hijau pegunungan, si awan kecil akan terbang mendekat untuk menawarkan jasanya. Tapi mereka mengoloknya karena ia bagitu kecil.

“Kau tak punya apa-apa buat diberikan,” awan-awan besar biasa memberitahunya. ”Alangkah kecil dirimu.”
Mereka mengoloknya menjadi-jadi. Lantas, dengan sangat sedih si awan kecil mencoba menyingkir ke tempat lain untuk menjadikan dirinya hujan, tapi kemana pun ia pergi, awan-awan besar mendesaknya minggir. Maka, si awan kecil pergi lebih jauh lagi sampai ia tiba di tepat yang sangat kering kerontang, saking keringnya sampai tak satu dahan pun tumbuh, dan si awan kecil berkata pada cerminnya (aku lupa memberitahumu bahwa si awan kecil ini membawa-bawa cermin agar ia bisa bicara dengan dirinya sendiri saat sedang sendirian):
“Ini lokasi sempurna untuk menjadikan diriku hujan karena tak seorang pun pernah datang kemari.”
Si awan kecil mengerahkan banyak upaya untuk menjadikan dirinya hujan, dan akhirnya menelurkan satu tetes kecil. Begitulah, si awan kecil lenyap dan mengubah dirinya jadi setetes hujan kecil, jatuh meluncur. Dalam segenap kesepiannya, ia jatuh dan jatuh, tapi tak ada yang menantikannya di bawah sana. Akhirnya, tetes hujan kecil ini menciprat sendirian. Karena padang pasir itu begitu lengang, si tetes hujan kecil menimbulkan kebisingan hebat waktu menciprat tepat di atas batu. Ia membangunkan Bumi yang bertanya:
“Ribut-ribut apa itu?”
“Tetes hujan jatuh, “ jawab batu.
“Tetes hujan? Artinya hujan bakal turun! Lekas! Bangun! Hujan akan turun!” ia mengingatkan tetumbuhan yang sembunyi di bawah tanah dari terik mentari.
Maka tumbuh-tumbuhan pun bangun dan mengintip, dan untuk sesaat seisi padang pasir tersaput warna hijau, dan awan-awan besar pun melihat hijau itu dari kejauhan dan berkata:
“Lihat. Ada banyak hijau di sana. Ayo bikin hujan di tempat itu. Kita tidak tahu di sana begitu hijau.”
Maka, pergilah mereka menjadikan dirinya hujan di tempat yang dulunya padang pasir. Mereka curahkan hujan dan hujan dan tanaman pun tumbuh dan segala sesuatu berubah hijau sekaligus.
“Mujur nian kita ada di sekitar sini,” ucap awan-awan besar. “Tanpa kita, tak bakal ada hijau.”
Dan waktu itu, tak seorang pun teringat akan seuntai awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil yang cipratannya membangunkan mereka yang tertidur.
Tak seorang pun ingat, tapi si batu menyimpan rahasia awan kecil itu. Waktu berlalu, dan awan-awan besar pertama itu pun lenyap dan tanam-tanaman pertama itu pun mati. Dan batu, yang tak pernah mati, memberitahu tanaman-tanaman baru yang terlahir dan awan-awan baru yang tiba, kisah mengenai seuntai awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil.

(Our Word is Our Weapon, Sub Commandante Marcos, 2000)


Baca selengkapnya

Jauhi Imperialis AS

Alangkah indahnya pemandangan pagi ini
Mentari cerah mengiringi
Barisan pejuang mengalun datang
Sarjana, seniman, pemuda, wanita
Buruh dan tari soko guru revolusi
Dan pelajar anak kandung revolusi

Spanduk dan panji, warna-warni
Melambai menghias angkasa lebar
Teman tentang menentang
Tunju pun diacungkan
… marahan Green
Hentikan agresi AS di Vietnam
Sita modal anak sekolah
Sorak-sorai membadai barisan bergerak maju
Menembaki tank…
Tari dan nyanyi memecah sunyi seruling dituip nyaring
dendang bertalu, mengiringi,
laki-laki berjingkrak, laksana burung jalang
membunuh… Malang
… benci imperialis AS
Berkobar tinggi
Cinta merdeika meresap setiap dada
Manusia juang, pembela masa datang
… pasti muara
… pasti datang


D. N. Aidit
Jakarta, 20 - 07 - 1965.
(Gugur Merah, Sehimpun Puisi Lekra -Harian Rakjat (1950-1965
), penyusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Muhidin M. Dahlan, Merakesumba, 2008)


Baca selengkapnya

Remaja Abadi, Tetap Seorang Guru

Mereka membunuhnya di malam hari.
Tak usah tanya waktu yang ditunjuk oleh jarum-jarum.

Semua hari adalah malam.
Tiap jam, tiap menit, gelap, dan pahit.
Bayangan-bayangan mengendap jadi sumber ketakutan.
Mereka membunuhnya di malam hari.

Setangkai kembang harapan - mereka membawanya dan menggantungnya.

Laki-laki seluruh dunia, melihatlah ke pulauku.
Bintang cemerlang ini, anak muda tergantung di pohon ini,
Adalah seorang dari kematianmu.
Dia dibnuh di Aldjazair,
Dia dibunuh di Laos,
Dia dibunuh di Korea Selatan,
Di Guatemala,
Dia mati. Pandanglah baik-baik
Bintang tergantung
Di tali ini. pandanglah dia baik-baik,
Dia di bunuh di Konggo,
Dia dibunuh di Spanyol
yang disembelih, pandanglah dia baik-baik:
dia adalah seorang dari kematianmu.

Dia kepunyaanmu, penebang-penebang kayu di selatan, buruh-buruh tambang, nelayan-nelayan Chili;
Dia kepunyaanmu, kaum tani, dan kaum buruh Argentina.
Kepunyaanmu, kau yang dipunahkan tambang-tambang dalam dan memegapkan di Bolivia.
Pandanglah baik-baik: dia seorang dari kematianmu.
Tuliskan namanya dengan hati dengan api di hatimu,
Nama seorang pemuda biasa; dibunuh kejam,
Dengan diam-diam, suatu lambang hari esok dan kemenangan…
Jangan lupakan buruh karet di Kolombia,
Bangsa Indian di Peru yang diperbudak, ingatlah baik-baik.
Buruh minyak dari Venezuela, tegakkan namannya
Menjulang jadi menara di padang-padang minyak
Dan kau, kau dari “neraka hijau” Amerika Tengah,
Dengan pisaumu, guratkan huruf-huruf namanya
Di setiap batang pisang.

Dia dibunuh oleh mereka yang sedang membunuh kau.

Dia dibunuh oleh tangan yang membunuh
Di Aldjazair, di Laos, di Guatemala,
Tangan bom di Hirosima,
Tangan yang membakar anak-anak hidup-hidup
Di Korea Utara,
Yang merampok tanah dari Mexico
Dan merampok bendera Puerto Rico.
Laki-laki seluruh dunia, melihatlah ke pulauku.
Bintang cermelang ini, anak muda tergantung di pohon ini.
Adalah seorang dari kematianmu.

Dengarkan:
“mereka membunuhnya hanya karena dia negro, hanya karena dia miskin,
hanya karena dia pekerja, hanya karena dia remaja, hanya karena dia guru”
ada tunah dari Rovolusi.
Dia anak rakyat, dia anak dari kerja.
Dia guru sukarelawan di pegunungan tinggi.

Dengarkan baik-baik, laki-laki seluruh dunia:
Dia guru sukarelawan remaja!
Mereka membunuhnya di malam hari
Semua hari adalah malam
Setangkai kembang harapan - mereka membawanya dan menggantungnya.
Bintang-bintang sewaan itu, mereka membunuh buku-buku!
Tuliskan namannya dengan api di hatimu,
Buruh tambang, kaum tani, buruh karet, buruh minyak,
Buruh perkebunan-perkebunan pisang, bakarlah namannya dalam-dalam, Negro, Indian, dan Mexico
Dari Amerika kita ini.
Bakar namanya dalam di hati, sehingga dia tak hilang-hilang.

Texaco - jangan lupakan ini, kaum buruh minyak -
Membayar sepuluhribu dolar kepada pembunuh-pembunuh itu,
Dan Kardinal Speliman, bajingan memakai jubah,
Membayar sepuluh ribu dolar kepada pembunuh-pembunuh itu.
Laki-laki seluruh dunia, melihatlah ke pulauku,
Bintang yang tergantung di tali itu
Adalah Contrado Bentez, guru sukarelawan,
“Remaja abadi, tetap seorang guru”.

H. R. Bandaharo

(Gugur Merah, Sehimpun Puisi Lekra - Harian Rakjat (1950-1965), penyusun: Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Muhidin M. Dahlan, Merakesumba, 2008)


Baca selengkapnya

Ayunan Cangkul

Untuk bapak

Kami ini sudah mati, pak
Kami mati oleh peluru-peluru yang kami biayai;

Kami mati mempertahankan ayunan cangkul
Mana ada ayunan cangkul tanpa tanah;

Kami pun mati mempertahankan tanah
Dermo, termo, di tanjungmorawa
Kartosemtomo di binjai
Diman saja di seluruh tanah air
Dimana saja di seluruh dunia
Dimana kerja belum dibebaskan;

Kali lahir bersama ayunan cangkul
Kami bongkak karena ayunan cangkul
Kami keluar masuk penjara
Kami diusir, tanaman kami ditraktor
Kami dipindahkan ke tanah gersang
Kami ditempatkan di rawa-rawa
Di andarase, di tanjungmahare, di sibongkok
Di sijanggang, di sijanggang,
Dimana saja di seluruh tanah air
Dimana saja di seluruh dunia
Dimana kerja belum dibebaskan;

Kami mati mempertahankan tanah
Kami kembali kepada tanah
Menjadi tanah;
Makanya kami tidak mati-mati
Pada setiap ayunan cangkul
Di seluruh tanah air;
Pada setiap ayunan cangkul kami hadir
Kami, hadir, pak

H. R. Bandaharo
Medan, 01 - 01 -1961


(Gugur Merah, Sehimpun Puisi Lekra - Harian Rakjat (1950-1965), penyusun: Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Muhidin M. Dahlan, Merakesumba, 2008)


Baca selengkapnya

Satu Mimpi Satu Barisan

di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang-lantung cari kerjaan
bini hamin tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi

di mana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung - solo - jakarta - tangerang

tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
satu mimpi
satu barisan

Wiji Thukul, Bandung, 21 mei 1992


Baca selengkapnya

Nyanyian Akar Rumput

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang



Baca selengkapnya

Bukan Kata Baru

ada kata baru kapitalis, baru? Ah tidak, tidak
sudah lama kita dihisap
bukan kata baru, bukan
kita dibayar murah

sudah lama, sudah lama
sudah lama kita saksikan
buruh mogok dia telpon kodim, pangdam
datang senjata sebataliyon
kita dibungkam
tapi tidak, tidak
dia belum hilang kapitalis
dia terus makan
tetes ya tetes tetes keringat kita
dia terus makan
sekarang rasakan kembali jantung
yang gelisah memukul-mukul marah
karena darah dan otak jalan
kapitalis
dia hidup
bahkan berhadap-hadapan
kau aku buruh mereka kapitalis
sama-sama hidup
bertarung
ya, bertarung
sama-sama?
tidak, tidak bisa
kita tidak bisa bersama-sama
sudah lama ya sejak mula
kau aku tahu
berapa harga lengan dan otot kau aku
kau tahu berapa upahmu
kau tahu
jika mesin-mesin berhenti
kau tahu berapa harga tenagamu
mogoklah
maka kau akan melihat
dunia mereka
jembatan ke dunia baru
dunia baru ya dunia baru.

Wiji Thukul, Tebet 9/5/1992


Baca selengkapnya

Seorang Buruh Masuk Toko

masuk toko
yang pertama kurasa adalah cahaya
yang terang benderang
tak seperti jalan-jalan sempit
di kampungku yang gelap

sorot mata para penjaga
dan lampu-lampu yang mengitariku
seperti sengaja hendak menunjukkan
dari mana asalku
aku melihat kakiku - jari-jarinya bergerak
aku melihat sandal jepitku
aku menoleh ke kiri ke kanan - bau-bau harum
aku menatap betis-betis dan sepatu
bulu tubuhku berdiri merasakan desir
kipas angin
yang berputar-putar halus lembut
badanku makin mingkup
aku melihat barang-barang yang dipajang
aku menghitung-hitung
aku menghitung upahku
aku menghitung harga tenagaku
yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik
aku melihat harga-harga kebutuhan
di etalase
aku melihat bayanganku
makin letih
dan terus diisap

Wiji Tuhkul ,10 september 1991


Baca selengkapnya

Puisi Menolak Patuh

Walau penguasa menyatakan keadaan darurat
dan memberlakukan jam malam
kegembiraanku tak akan berubah
seperti kupu-kupu
sayapnya tetap akan indah
meski air kali keruh

Pertarungan para jenderal
tak ada sangkut pautnya
dengan kebahagiaanku
seperti cuaca yang kacau
hujan angin kencang serta terik panas
tidak akan mmempersempit atau memeperluas langit
lapar tetap lapar
tentara di jalan-jalan raya
pidato kenegaraan atau siaran pemerintah
tentang kenaikan pendapatan rakyat
tidak akan mengubah lapar
dan terbitnya kata-kata dalam diriku
tak bisa di cegah
bagaimana kau akan membungkamku?

penjara sekalipun
tak bakal mampu
mendidikku menjadi patuh

Wiji Tukhul
Baca selengkapnya

Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa

aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk buat
penguasa

puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat dan berdesakan
mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ditusuk-tusuk sepi
ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka

kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
kau masih hidup
aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa

(Wiji Thukul.18 juni 1997)


Baca selengkapnya

Bunga dan Tembok

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendakiadanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri


Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Wiji Thukul

Baca selengkapnya

Sampai di Luar Batas

Kau lempar aku dalam gelap
Hingga hidupku menjadi gelap
Kau siksa aku sangat keras
Hingga aku makin mengeras
Kau paksa aku terus menunduk
Tapi keputusan tambah tegak
Darah sudah kau teteskan
Dari bibirku

Luka sudah kau bilurkan
Ke sekujur tubuhku
Cahaya sudah kau rampas
Dari biji mataku
Derita sudah naik seleher
Kau menindas
Sampai
Di luar batas

Wiji Thukul,17 November 1996
Baca selengkapnya

Peringatan

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar
mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu
keamanan
Maka hanya ada satu kata:
lawan!

Wiji Thukul


Baca selengkapnya

 

© Bingkai Merah, Organisasi Media Rakyat: "Mengorganisir Massa Melalui Informasi". Email: bingkaimerah@yahoo.co.id