15 Oktober 2010

Mengenal Venezuela Lebih Dekat

Jakarta, Bingkai Merah – Pekan Kebudayaan Venezuela yang diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Bolivar Venezuela di Bentara Budaya Jakarta mendekatkan masyarakat Indonesia dengan budaya Venezuela (12/10). Acara yang bertajuk “Second Cultural Week of Venezuela” itu merayakan warisan masyarakat adat Venezuela yang multi etnik dan multi kultural.

Selama sepekan, acara itu menampilkan foto-foto penduduk asli/adat (indigenous) Venezuela dengan keberagaman etnik dan kultural, kerajinan tangan, pakaian tradisional, makanan tradisional, dan pemutaran film-film rakyat.

Nydia Rangel Cardenas, perwakilan dari Kedutaan Besar Bolivar Venezuela di dalam sambutannya mengatakan Pekan Kebudayaan Venezuela dapat menginspirasi dialog antar budaya di antara bangsa Venezuela dan Indonesia. Manfaatnya antara lain untuk memahami dan bekerja sama dalam hal pembangunan dan perdamaian dunia.

Menurut
Nydia, dialog antar budaya mendapatkan tempat istimewa di Venezuela. Pemerintah Bolivar Hugo Chavez berkomitmen menjaga keberagaman etnik dan budaya di negaranya untuk menciptakan perdamaian dan keadilan antar peradaban. Hal itu tertuang di Konstitusi Pasal 107, 119, 126, 226, dan 236.

Konstitusi Venezuela menjamin kedaulatan hak-hak warga asli atau adat. Di konstitusi itu pula mewajibkan negara memberikan penduduk asli "kepemilikan kolektif" atas tanah leluhur mereka, mengakui adat budaya, kesehatan, praktik ekonomi, dan berkonsultasi dengan penduduk asli sebelum mengeksploitasi sumber daya alam di tanah mereka.

Dipilihnya 12 Oktober sebagai awal Pekan Kebudayaan Venezuela bertepatan dengan peringatan Hari Perlawanan Penduduk Asli Venezuela yang diperingati setiap tahun. Pada hari itu rakyat Venezuela memeringati leluhur mereka (penduduk asli benua Amerika) melawan kolonialisasi. Tujuannya agar rakyat Venezuela mengerti arti perjuangan di dalam menentukan nasib sendiri, kesatuan, dan keberagaman etnik dan budaya.

Di Caracas, ibu kota Venezuela, puluhan pemimpin adat dari Amerika Latin telah bertemu merencanakan strategi untuk melanjutkan perjuangan leluhur mereka (11-12/10). Lebih dari 400 wakil penduduk asli dari Argentina, Bolivia, Kolombia Ekuador, El Salvador, Guatemala, Honduras, Nikaragua, Paraguay, Peru dan Uruguay berkumpul di unit produksi Alegre Indio di Elorza, Romulo Gallegos municipality, dan Apure state.

Pemilihan ketiga lokasi itu menyimpan sejarah perlawanan yang kuat. Penduduk asli di sana selama ini menunjukan ekspresi etnis dan kultural secara merdeka.

Peserta Kongres Keempat Penduduk Asli Anti-imperialis Amerika Latin itu membahas isu-isu sosial secara inklusif, partisipasi politik, budaya dan ekonomi berskala internasional yang mempengaruhi mereka, dan strategi perlawanan di dalam integrasi lebih besar di antara penduduk asli.

Kongres itu menghasilkan bergabungnya penduduk asli di dalam Grand Council of the Nations of Abya Yala untuk bersama melawan imperialisme, kapitalisme dan globalisasi.

Menurut Menteri Kekuasaan Rakyat untuk Urusan Adat, Nicia Maldonado, penduduk asli Venezuela berkomitmen untuk melakukan konsolidasi kelompok sosialis dan “indo-amerika” untuk melawan imperialis.

"Sepuluh tahun yang lalu penduduk asli kami ditakdirkan untuk kematian, tetapi sekarang mereka adalah manusia merdeka untuk memberikan kontribusi pada pembangunan ekonomi, sosial dan intelektual di negeri ini," kata Maldonado, penuh semangat.

Selama 11 tahun terakhir, pemerintah Chavez telah memberikan berbagai program pendidikan, kesehatan, dan budaya kepada penduduk asli. Chavez juga telah memilih tiga wakil penduduk asli terpilih sebagai anggota Majelis Nasional.

Peringatan Hari Perlawanan Penduduk Asli juga diperingati dengan aksi massa di jalan sekitar Caracas. Sekelompok pemuda/i merobohkan patung Christopher Columbus, penjelajah abad 15 yang menemukan benua Amerika pada 12 Oktober. Hari ditemukannya benua Amerika oleh Columbus itu dijadikan Hari Perlawanan Penduduk Asli yang menolak kolonialisasi.

Patung Columbus terletak di pusat kota Caracas dengan ketinggian 30 kaki. Pemerotes menurunkan patung berusia 100 tahun Columbus itu dengan tali berwarna kuning. Mereka menyeretnya dari pusat kota Caracas menuju teater Teresa Carreno. Di sana ratusan penduduk asli berpesta menari memperingati 12 Oktober. Para pengunjuk rasa meminta penduduk untuk membawa Columbus ke pengadilan setelah 512 tahun.

Selanjutnya para pengunjuk rasa menyejajarkan patung Columbus dengan mantan Presiden AS George Bush. Mereka meminta agar keduanya “keluar” dari Venezuela.

Peringatan yang begitu gempita dan revolusioner di Venezuela ingin dibagi di Indonesia melalui Pekan Kebudayaan Venezuela. Namun, sayang sekali nuansa progresif penduduk asli Venezuela tidak terlalu mencolok di pekan kebudayaan itu. Padahal, beberapa pengunjung sudah menantikan penyajian dari pencapaian sosialisme yang diselenggarakan Presiden Chavez selama ini yang dirasakan bermanfaat bagi penduduk asli Venezuela.

Lalu, bagaimana dengan kemajuan penduduk asli dan keberagaman etnis dan budaya di Indonesia? (bfs)

Foto: Heru Suprapto
--------------------------------------
Foto-foto lebih lengkap klik di sini (Foto: Yogi Suryana, Kornelius Pinondang, Heru Suprapto).

Komentar :

ada 0 komentar ke “Mengenal Venezuela Lebih Dekat”

Poskan Komentar

Silakan pembaca memberikan komentar apa pun. Namun, kami akan memilah mana komentar-komentar yang akan dipublikasi.

Sebagai bentuk pertanggung-jawaban dan partisipasi, silakan pembaca memberikan identitas nama dan kota di setiap komentar dari pembaca dengan mengisi kolom Name/Url yang tertera di bawah komentar pembaca. Misalnya, Anggun, Denpasar.

Terima kasih.

 

© Bingkai Merah, Organisasi Media Rakyat: "Mengorganisir Massa Melalui Informasi". Email: bingkaimerah@yahoo.co.id